Soal e, Master-Mindnya ngaku beragama, tapi nabi Ibrihim pun tak dikenal. Kita ngotot ngomong biar didengarin pemegang palu (-arit) di meja hakim. Buat kite-kita turunan Nabi Ibrihim, percaya amat, Munir udah di pangkuan e BELIAU. Gak perlu banget lagi soal diskusi kite. Ibah kita hanya sekedar menguatkan Mbak Suciati.
Kita tetap mendengar atau juga punya hak untuk tidak mendengarkan lagi orang dengan keangkuhan dan arogansi untuk menutupi kebenaran. "Bertelinga, namun tidak mendengar; mata tapi tak melihat; hati tapi nyaris tak beda dengan ampela" (Baca juga Rhenald Kasali, Opini di Kompas Hari ini, "SAKIT UNTUK BERUBAH", atau sudah "a pathea", abis rasa??? Mayat donk.) wassalam, berthy b rahawarin --- Edy P <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Yuk kita ramai-ramai memohon agar Bapak Abraham > (Ibrahim) mengutus kembali bung Munir yang sudah ada > di pangkuannya untuk memberitahu kepada kita semua > siapa sebenarnya yang melakukan semuanya itu kepada > dia. > > Habis aku buteg otakku kalau terus-menerus harus > disuguhi berita yang tidak jelas, tidak pasti, penuh > rekayasa, dan sejenisnya. > > Ini hanya ungkapan kekecewaan saja bukan usulan > solusi. Mohon maaf pada semua. > > Salam > edy pur/
