Oleh Sultani Litbang Kompas http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/20/Politikhukum/3467460.htm =============================
Walaupun saat ini tetap dianggap paling layak untuk memimpin bangsa ini, popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono cenderung menurun. Memasuki periode pertengahan masa pemerintahannya, 20 April 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dinilai belum bisa bertindak nyata untuk mengakselerasi kinerja pemerintahannya menghadapi berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Kecenderungan Yudhoyono menjaga harmonisasi hubungan dengan mitra politiknya di parlemen membuat reaksi pemimpin Indonesia yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat itu terhadap tuntutan publik menjadi lambat. Pencitraan tersebut ternyata berdampak kurang baik terhadap popularitas Yudhoyono. Dalam jajak pendapat Kompas yang menyoroti kinerja pemerintahan periode bulan ke-30 terungkap, keinginan publik untuk memilih Yudhoyono sebagai presiden apabila pemilihan umum dilakukan saat ini cenderung menurun. Jika dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, penurunan yang terjadi terasa sangat signifikan. Terhadap pertanyaan, "Jika saat ini dilakukan pemilihan presiden, siapakah tokoh yang paling Anda anggap layak menjadi presiden?" sebanyak 44,2 persen menyodorkan 48 nama. Dari nama-nama tersebut, 35,3 persen merupakan pilihan terhadap Yudhoyono. Padahal, pada enam bulan lalu nama Yudhoyono masih disebutkan oleh 52,6 persen responden. Walaupun begitu, popularitas Yudhoyono yang dipilih oleh 60,62 persen suara pada Pemilu 2004 tersebut tetap tertinggi di antara semua tokoh lainnya. Bahkan, dengan saingan terdekatnya, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, popularitas Yudhoyono nyaris dua kali lipatnya. Seiring dengan menurunnya popularitas Yudhoyono, terjadi peningkatan popularitas pada nama-nama tokoh lainnya. Meski demikian, hingga saat ini sejumlah tokoh politik senior ternyata masih mendominasi sebagai calon presiden yang diinginkan oleh masyarakat. Nama-nama mantan presiden, seperti Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, dan BJ Habibie masih cukup kuat di benak publik. Nama-nama tokoh senior lain yang juga menonjol adalah Amien Rais dan Sultan Hamengku Buwono X. Bahkan, nama Gubernur DI Yogyakarta yang telah menyatakan dirinya akan berkiprah di kancah politik nasional itu menunjukkan peningkatan popularitas yang cukup berarti meskipun masih terlalu kecil apabila dibandingkan dengan popularitas Yudhoyono. Dari nama-nama yang muncul memang terasa sekali sepinya panggung kepemimpinan nasional. Nama-nama tokoh senior masih kuat menancap dalam benak masyarakat. Efektivitas pemerintahan Kepuasan terhadap efektivitas pemerintahan saat ini bisa jadi merupakan sebab dari menurunnya popularitas Yudhoyono. Gejala penurunan tersebut terlihat dari semakin menurunnya responden yang menyatakan kepuasan mereka terhadap kinerja para menteri yang menjadi roda penggerak pemerintahan Yudhoyono. Hanya 21,8 persen responden yang puas dengan kinerja para menteri Yudhoyono, sedangkan yang tidak puas mencapai 71,8 persen. Perubahan opini responden dalam jajak pendapat kali ini mencerminkan penilaian terburuk mereka terhadap penampilan pemerintahan Yudhoyono. Dibandingkan dengan periode sebelumnya, pergeseran opini responden terhadap popularitas pemerintahan Yudhoyono kali ini turun ke angka yang terendah. Isu perombakan kabinet yang terus berdengung belakangan ini mungkin merupakan ungkapan kegeraman publik terhadap kabinet yang terus melempem. Penanganan yang lamban terhadap kejadian tragis, seperti bencana alam dan kecelakaan transportasi baru-baru ini, merupakan puncak dari kekecewaan publik terhadap pemerintah. Merosotnya kepuasan responden tersebut bisa jadi mencerminkan pudarnya kepercayaan responden terhadap cara Yudhoyono dalam memimpin kabinetnya. Kebiasaan Yudhoyono yang sangat berhati-hati dalam menanggapi semua kejadian yang menimpa negeri ini tidak semuanya dianggap positif. Bagi sebagian kalangan, sifat kehati-hatian tersebut malah menunjukkan ketidaktegasan presiden dalam mengambil risiko atas keputusannya sendiri. Akibatnya, pemerintahan yang dibentuk tidak memiliki manajemen kebijakan yang tegas dan kuat. Pemerintahan lebih memperlihatkan dikelola dengan perundingan politik berupa kompromi antara presiden dan para politisi untuk saling menjaga kepentingan masing-masing. Di sinilah Yudhoyono dinilai lemah dalam mengelola kabinet meskipun secara politis basis legitimasinya sangat kuat. Terkikis Di pertengahan jalan masa pemerintahannya, harapan publik terhadap ketegasan Yudhoyono malah semakin terkikis. Pengikisan tersebut tercermin dari merosotnya kepuasan responden terhadap langkah Yudhoyono dalam memimpin kabinetnya. Kini, hanya sekitar 47,1 persen responden yang menyatakan puas. Persentase ini bergeser cukup jauh dibandingkan saat dua tahun usia pemerintahannya. Saat itu tercatat, masih separuh bagian responden (54,1 persen) yang menyatakan puas dengan langkah Yudhoyono memimpin kabinetnya. Kendati dihadang dengan ketidakpuasan responden dalam menjalankan roda pemerintahan, figur Yudhoyono masih dibutuhkan rakyat untuk terus memimpin bangsa ini. Dukungan suara pemilih yang cukup signifikan pada pemilu lalu setidaknya memberikan legitimasi yang kuat bagi tampuk kekuasaannya. Dengan demikian, meskipun publik mengakui Yudhoyono tidak memuaskan dalam menjalankan pemerintahan yang efektif, figur Yudhoyono ternyata masih dibutuhkan untuk memimpin bangsa ini. Sebagian besar (69,4 persen) responden mengungkapkan, kepemimpinan Yudhoyono saat ini masih diperlukan sehingga tidak perlu diganti. Masih tingginya harapan responden terhadap kepemimpinan Yudhoyono tersebut mungkin juga mencerminkan tingginya ekspektasi publik terhadap pemerintahannya. Setidaknya, selama 30 bulan memerintah, sebagaimana terekam dalam hasil jajak pendapat selama ini, responden enggan menggantikan Yudhoyono dengan pemimpin yang lain. Menurut catatan jajak pendapat Kompas, sejak pemerintahan Yudhoyono berusia tiga bulan hingga 30 bulan, keberadaan Yudhoyono sebagai presiden tetap ingin dipertahankan. Dari hasil jajak pendapat tiga bulan yang lalu, responden yang tidak ingin Yudhoyono diganti mencapai 72 persen, merosot sedikit dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya (73,3 persen). Masih kuatnya dukungan terhadap kekuasaan Yudhoyono ini sebenarnya menjadi modal besar bagi legitimasi kekuasaan Yudhoyono. Meskipun popularitasnya menunjukkan kecenderungan turun, kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya tetap kuat. Sebagian besar (66,8 persen) responden bahkan mengakui mereka masih merasa bangga memiliki Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kendati kebanggaan yang diekspresikan responden cenderung memudar dari waktu ke waktu, pencitraan Yudhoyono sebagai tokoh yang bisa memimpin, sekaligus mewakili seluruh bangsa Indonesia, masih terasa kuat.
