Pesimisme Publik terhadap Pemerintah Semakin Meluas

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/20/utama/3467917.htm
=============================

Jakarta, Kompas - Paruh kedua pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ditandai oleh merosotnya
kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah. Untuk menahan meluasnya
pesimisme publik diusulkan agar Presiden merombak kabinet secara
radikal dengan hanya melibatkan kader Partai Golkar, Partai Demokrat,
dan profesional.

Merosotnya popularitas Yudhoyono-Kalla ditunjukkan dengan hasil survei
Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang disampaikan Direktur Eksekutif
Saiful Mudjani, akhir Maret, dan survei Lingkaran Survei Indonesia
yang disampaikan Denny JA di Jakarta, Kamis (19/4). Jajak pendapat
yang dilakukan Litbang Kompas juga menunjukkan merosotnya popularitas
Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla.

Jumat, 20 April 2007, ini tepat 30 bulan Presiden Yudhoyono dan Wapres
Jusuf Kalla memerintah. Pada Pemilu 2004, pasangan Yudhoyono-Kalla
meraih dukungan 60,62 persen suara.

Denny mengatakan, survei Lingkaran Survei Indonesia pada Februari yang
dianalisis pada Maret dan April menunjukkan kepercayaan publik atas
kemampuan pemerintah menangani kemiskinan dan pengangguran
masing-masing hanya 26 persen dan 22,9 persen. Lebih dari 50 persen
responden menyatakan Presiden tidak mampu.

Keamanan positif

Pada 2,5 tahun pemerintahan Yudhoyono, kepuasan publik atas kinerja
Presiden sangat rendah. Dari enam aspek yang dinilai, hanya sektor
keamanan yang nilainya positif sebesar 59,6 persen. Sektor lainnya
hanya menghasilkan kepuasan publik kurang dari separuh, yaitu politik
(45,4 persen), ekonomi (29,7 persen), sosial (46,9 persen), penegakan
hukum (47,2 persen), dan hubungan luar negeri (46,4 persen).
"Pesimisme publik dapat menjadi spirit negatif dan virus berbahaya
yang menggerogoti kredibilitas SBY-JK," kata Denny.

Denny mencatat sudah muncul kerinduan publik atas tokoh yang mampu
mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Jika tokoh itu ada, ia
akan segera melampaui popularitas Yudhoyono sebagai presiden masa
mendatang. Saat ini, baik survei LSI, Lingkaran Survei Indonesia,
maupun Litbang Kompas tetap menempatkan Yudhoyono paling populer
dibandingkan dengan calon lainnya.

Rombak radikal

Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit
menyatakan, kegagalan Yudhoyono menyejahterakan rakyatnya melahirkan
pesimisme publik atas demokrasi. Kondisi itu akan melahirkan
pragmatisme publik dalam demokrasi.

Pesimisme publik terjadi di semua tingkatan masyarakat. Kelompok
menengah atas menilai Visi 2030 yang dicanangkan Presiden hanya mimpi.
Sementara kelompok menengah bawah kecewa atas dukungan Indonesia
terhadap Resolusi Nomor 1747 Dewan Keamanan PBB dan sulitnya
masyarakat memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Untuk menahan meluasnya pesimisme publik, Sukardi menyarankan agar
Yudhoyono segera merombak kabinet secara radikal. Kabinet harus diisi
oleh kelompok profesional serta kader Partai Golkar dan Partai
Demokrat sebagai partai pendukung utama pemerintah. Jika perombakan
kabinet masih tetap mengakomodasi kepentingan partai lainnya, kabinet
tetap akan lemah. "Kepemimpinan Presiden Yudhoyono juga gagal
membangkitkan ekonomi publik," katanya.

Ketua DPP Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu mengatakan, rendahnya
kinerja pemerintah disebabkan sulitnya Presiden mengoordinasikan
pejabat daerah yang berasal dari partai politik yang berbeda-beda.
Setiap kepala daerah berjalan dengan arah sendiri dan lebih loyal
kepada partai pengusung mereka daripada kepada Presiden.

Mengomentari hasil survei yang menyebut popularitas Presiden Yudhoyono
merosot, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng dapat memahami
karena survei dibuat sesaat setelah rentetan bencana dan musibah,
seperti hilangnya pesawat AdamAir, gempa bumi di Sumatera Barat,
longsor di Manggarai (Nusa Tenggara Timur), dan terbakarnya pesawat
Garuda Indonesia.

"Suasana hati sangat memengaruhi hasil survei, terlebih ketika survei
dilakukan, harga beras naik. Dalam beberapa bulan lagi, jika suasana
membaik, popularitas akan naik," ujarnya.

Terhadap hasil survei, pemerintah menjadikannya sebagai masukan untuk
meningkatkan kinerja. Dengan fokus pada masalah pemberantasan
kemiskinan, pemerintah optimistis dengan langkah-langkahnya ke depan.

Menurut Andi, agar lebih utuh, popularitas Presiden bisa dilihat dalam
rentang waktu yang lebih panjang, misalnya dalam rentang waktu 2,5
tahun pemerintahannya. Ia mengakui popularitas Presiden berdasarkan
hasil survei naik turun setiap periode survei dilakukan. "Namun,
secara rata-rata masih tinggi, yaitu sekitar 61 persen," ujarnya.

Tak ganggu

Menanggapi isu perombakan kabinet, Menteri Negara Badan Usaha Milik
Negara Sugiharto mengatakan, isu perombakan kabinet tak mengganggu
kinerja lembaga dan jajaran yang dipimpinnya. Hal yang sama
disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Boediono.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali yang juga
Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mengatakan,
perombakan kabinet merupakan hak prerogatif Presiden.
(MZW/INU/HAR/OSA/JOS) 

Kirim email ke