http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/20/opini/3467696.htm
============================

Pertemuan Sultan Hamengku Buwono X dengan masyarakat Yogyakarta Rabu
(18/4) bukanlah sekadar event budaya tetapi lebih sarat manuver politik.

Dengan keputusan untuk tidak mau dicalonkan lagi menjadi Gubernur DI
Yogyakarta dan meminta restu untuk berkiprah di kancah politik
nasional, Sultan sedang mengincar jabatan politik yang lebih tinggi.
Tak salah apabila orang menerjemahkan manuver itu sebagai bagian dari
upaya Sultan mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2009.

Tidak lama lagi memang waktu menuju ke sana. Masa kerja pemerintahan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tinggal tersisa 2,5 tahun lagi. Bagi
siapa yang ingin mengambil alih tampuk kepemimpinan nasional secara
konstitusional, maka waktu yang dimiliki untuk mempersiapkan diri ke
sana ya tinggal 2,5 tahun itu.

Masa 2,5 tahun boleh dikatakan waktu yang pendek untuk bisa membangun
komunikasi politik secara baik dengan para calon pemilih. Luasnya
Indonesia yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau memerlukan waktu
yang panjang bagi para calon pemimpin untuk bisa menyapa mereka.

Salah satu kunci untuk bisa dipilih dalam Pemilihan Presiden secara
langsung adalah dikenal masyarakat. Memang kita tahu bahwa itu tidak
cukup dan bukan jaminan untuk bisa dipilih. Yang tidak kalah
menentukan adalah kapasitas, kapabilitas, dan integritas.

Atas dasar itu memang perjuangan yang harus dilalui sultan untuk bisa
berkiprah di kancah politik nasional masih panjang. Apa yang dilakukan
dengan menggelar pisowanan agung baru langkah kecil pertama. Banyak
langkah lanjutan yang harus segera dikerjakan yakni mencari dukungan
dari partai politik, mempersiapkan tim kerja, dan yang paling utama
adalah program kerja yang bisa dijual. Apalagi jika kemudian kita
kaitkan dengan kekuasaan pada sistem demokrasi yang harus melayani,
bukan dilayani.

Manuver politik yang dilakukan Sultan Hamengkubowono X menjadi menarik
bagi perpolitikan kita ke depan. Dengan menyatakan diri secara terbuka
untuk berkiprah di kancah politik nasional, Sultan memberi pelajaran
bahwa kita tidak perlu malu-malu lagi kalau ingin menjadi pemimpin.
Bukan lagi zaman berpura-pura tidak mau, tetapi kenyataannya mau dan
bahkan mengincar posisi sebagai pemimpin nasional.

Kedua, majunya Sultan di kancah perpolitikan nasional menambah pilihan
calon pemimpin. Selama ini kita seperti kebingungan untuk mencari
calon pemimpin, apalagi ditambah dengan sikap malu-malu dari para
calon pemimpin itu untuk maju.

Biarlah pilihan itu semakin banyak sehingga kita bisa lebih banyak
alternatif. Dengan itu kita bisa semakin lengkap melihat kekurangan
dan kelebihan para calon pemimpin nasional kita.

Tentunya kita mengharapkan juga munculnya calon pemimpin yang lebih
muda. Saatnya bagi mereka untuk tampil dan menawarkan diri, khususnya
dengan gagasan-gagasan yang lebih segar untuk membangun bangsa dan
negara ini.

Bersaing tidaklah harus berarti bermusuhan. Persaingan justru pemacu
bagi setiap orang untuk bisa memberikan yang terbaik. 

Kirim email ke