Man! (maksudnya parman?)

Apa kabarmu? Ironis sekali, hidup dalam sebuah taman jiwa, tapi sekian lama 
kita tak bertegur sapa. Apa yang membuat kita saling bisu? Inside out-outside 
in, kita cuma berlama-lama duduk di atas sofa yang sama sambil menatap kosong 
pada acara-acara talk-show on mute. Memori fotografik di arsip kepala cuma 
menumpuk bak kayu lapuk, fade out - fade in: menunggu restorasi di  area 
recycle bin.

Aneh! Kita memiliki sebuah kotak pos, tapi kita cuma asyik mengeposkan surat 
kedalamnya tanpa pernah lagi memeriksa surat-surat yang masuk. Aku dan kau 
tak berminat dengan surat-surat orang lain. Autis...
C'mon! Aku rindu kau.

Terakhir kali kita bersua, kita cuma berdiri pada horizon pagi, coba hapuskan 
penat sehabis malam-malam tebarkan amnesia. Tak pernah kita berniat 
mengkonsumsi obat-obat generik penyembuh otak sakit semisal gibo...{tittttt] 
ataupun cerebro....{vitttt}.
Terakhir kali kita bersua, kita cuma tenggelam dalam enigma bening bulir embun 
pada layar retina. Kita menarik napas panjang, kemudian kembali ke peraduan. 
Bermimpi. Sementara di luar sana: Carbon trading, global dimming-global 
warming, illegal logging, politik-politik atas nama idealisme, semuanya 
terdengar dalam timbre ber-volume-suara yang laun mengecil.

Altar hening kita yang agung, kerap terganggu oleh statistik dan angka yang 
memprediksikan kapan bumi dan peradaban ini akan menuju peti mati. Ehem..., 
kita masih percaya: tak satu prediksi-pun di muka bumi  mampu kabarkan hari 
ketika semuanya menjadi tiada dan hampa; kembali ke...laptop...upss...kembali 
kepada "Bumi belum berbentuk dan kosong...roh-roh melayang-layang di 
cakrawala..."; kembali kepada keniscayaan iman yang kita amini.

Man! (maksudnya suherman?)
Apakah dalam hitam putih bingkai monokromatik ini, kita masih mencari arti? 
Ataukah sekedar menunggu mati?

Begini saja kuakhiri: selamat hari bumi!
Izinkan aku sekedar menyapa. Hapuskan rindu ini...

-teriring salam-

Kirim email ke