--- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
>Jakarta, Kompas - Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra
>merasa dirinya telah disudutkan dengan berbagai pandangan pada 
>dirinya dalam kasus pencairan uang Tommy Soeharto.
>.. ..................................................
--------------------------------------------------------------------

Sekiranya benar  dalam reshuffle kabinet mendatang Mensesneg  Yusril 
Mahendra termasuk salah satu menteri yang akan diganti (sekiranya SBY 
tidak ragu-ragu lagi dengan keputusannya), maka kesempatan untuk 
menyelidiki  kembali tentang kasus dugaan korupsi di Bandar Kemayoran 
harus dapat diungkapkan kembali.

Seperti diketahui bahwa kawasan Kemayoran dan Senayan berada dibawah 
wewenang  dan penguasaan Setneg, dengan badan pengelolanya sebagai 
kepanjangan tangan Setneg dinamakan DP3K (Direksi Pelaksana 
Pengendalian Pembangunan Kompleks Kemayoran) yang   mengelola kawasan 
Kemayoran dan DPGBK (Direksi Pelaksana Gelora Bung Karno) untuk   
kawasan Senayan.

Ketua BPK Anwar Nasution mensinyalir adanya  dugaan korupsi kawasan 
Senayan dan Kemayoran, di mana dua kawasan itu merupakan aset negara 
yang dikelola oleh Setneg. Dugaan tersebut salah satunya berawal dari 
beralihnya fungsi kawasan Gelora Bung Karno sebagai tempat olah raga 
menjadi kawasan bisnis (http://bpkp.go.id/viewnews.php?
aksi=view&start=580&id=1156)

Proses dan prosedur pengalihan penggunaan lahan di Kemayoran hingga 
menjadi Apartemen dan Perumahan mewah  juga tidak jelas  dan 
transparen prosedurnya. Banyak konsumen pembeli unit Apartemen  di 
Kemayoran yang dibangun oleh investor Swata  juga tidak mendapatkan 
informasi yang transparen mengenai status tanahnya.

Diinformasikan kepada konsumen oleh pengembangnya kalau ditanya,  
bahwa status bangunannya  adalah  HGB (Hak Guna Bangunan), dan  tidak 
dijelaskan  lebih lanjut  lagi. Sebenarnya  adalah HGB diatas HPL 
(Hak Pengelola Lingkungan), karena status  lahannya masih tetap milik 
negara secara hukum.

Anggota Komisi I DPR Suparlan mengatakan bahwa selama ini 
pertanggungjawaban keuangan atas pengelolaan kedua kawasan tersebut 
(Kemayoran dan Senayan) itu tidak jelas dan hanya dinikmati oleh 
pihak-pihak tertentu saja. "Rakyat ingin agar kawasan bisnis 
Kemayoran dan Gelora Bung Karno  jangan lagi menjadi ATM-nya petinggi 
Setneg" (Suara Karya, 28 Agustus 2006).

Selama ini penyelidikan terhadap kasus tersebut  tidak ada 
kelanjutannya, mungkin karena  Yustil (mantan penulis naskah pidato  
presiden Soeharto) adalah orang kuat di pemerintahan  yang berlindung 
pada dua Keppres yang memberikan wewenang  kepadanya untuk mengelola 
dua kawasan empuk itu. Selain itu  SBY  rupanya  juga  enggan  
menyentuh  kasus tersebut  lebih lanjut. 

Salam
G.H.






Kirim email ke