Bu Indah,
   
  Terima kasih atas tanggapan Anda. Setiap kali hal seperti ini terjadi, saya 
selalu belajar untuk mengingatkan diri sendiri agar berhati-hati dalam 
menyampaikan sesuatu di ruang publik. Tulisan kita bisa mencerahkan, tetapi 
juga bisa menyesatkan. Dalam isu apapun, siapapun juga yang memiliki informasi 
lebih banyak dan lebih akurat wajib meluruskan isi posting yang keliru. Jika 
tidak, ada kemungkinan kekeliruan itu akan diterima publik sebagai kebenaran.
   
  Saya sengaja tak mencantumkan referensi macam-macam dalam bentuk catatan kaki 
agar tak dituduh menyebarkan akademisme. Namun, jika Anda ingin membaca lebih 
jauh surat-surat Kartini itu, sumber yang saya rekomendasikan adalah dua buah 
buku Jost Cote, yang merupakan terjemahan surat-surat Kartini dari bahasa 
Belanda ke bahasa Inggris. Yang pertama, Letters from Kartini, An Indonesian 
Feminist, 1900-1904 (Clayton: MOnash Asia Institute, 1992), berisi 108 surat 
Kartini kepada Rosa Abendanon. Yang kedua, On Feminism and Nationalism: 
Kartini's Letters to Stella Zeehandelaar, 1899-1903 (Clayton: Monash Asia 
Institute, 1995), berisi 25 surat Kartini kepada sahabat penanya di Belanda, 
Stella. Ada satu dua literatur lain, tapi menurut saya terjemahan ke bahasa 
Inggris yang terbaik adalah versi Cote ini.
   
  Korespondensi Kartini dan Stella berhenti ketika Kartini memasuki persiapan 
pernikahannya dengan Bupati Rembang, sedangkan korepsondensi dengan Rosa, yang 
tinggal di Batavia, terus berlanjut hingga saat Kartini melahirkan putra 
pertamanya dan meninggal dunia beberapa hari kemudian. Stella baru mengetahui 
kematian Kartini lama setelah Kartini meninggal. Stella Zeehandelaar adalah 
aktivis gerakan sosial dan feminis Belanda, yang banyak memberikan dukungan 
moral kepada Kartini dalam perjuangannya.
   
  salam,
  manneke

indah nuritasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bung Manneke,

saya sering membaca opini dan kupasan Anda tapi untuk yang satu ini saya 
benar-benar acungkan dua ibu jari saya. Kupasan di bawah sungguh bernas dan 
unik, bila ditambah kutipan kaki dari buku asli Kartini atau buku lain tentang 
Kartini, bisa jadi artikel ilmiah.

BRAVO

Indah

manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ini pandangan saya. Tujuannya sama 
dengan postingan Anda: untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dalam 
memaknai perjuangan Kartini:

Versi 1: Ini berbau teori konspirasi. Cuma bisa curiga tapi tak punya bukti. 
Surat-surat Kartini tak cuma ditujukan pada Rosa Abendanon, tapi juga kepada 
sahabat penanya di Belanda yang tak pernah ditemuinya, yaitu Stella 
Zeehandelar. Nada dan isi surat Kartini buat kedua orang ini sama. Stella tak 
mungkin kongkalikong dengan Rosa dalam merekayasa surat Kartini, karena ia tak 
menyukai Rosa Abendanon. Ia bahkan rada menyalahkan suami-istri Abendandon atas 
kematian Kartini yang terjadi hanya setahun setelah ia menikah dan beberapa 
hari setelah melahirkan putra pertamanya.

Versi 2: Kartini menikah dengan suaminya yang duda dan berusia jauh lebih tua 
bukan karena kesukarelaan. Ia terpaksa menuruti kemauan ayahnya yang sangat 
dicintainya dan pada waktu itu sakit-sakitan. Ketika hal tak terhindarkan ini 
akhirnya harus terjadi, Kartini "bernegosiasi" dengan calon suaminya. Ia ingin 
diperbolehkan melanjutkan cita-citanya membuka sekolah bagi perempuan Jawa, dan 
Bupati Rembang setuju. Kartini juga bertekad mendidik anak-anak sang Bupati 
agar tumbuh menjadi orang yang tidak menomorduakan perempuan. Dengan kata lain, 
ia menggunakan "perkawinan paksa"-nya dengan sang Bupati sebagai jalan untuk 
terus melanjutkan perjuangannya. Jadi, ia tetap konsisten sampai akhir: menolak 
untuk toleran terhadap adat Jawa yang feudal maupun kebiasaan poligami yang 
dipraktikan pria-pria Muslim di Jawa.

Versi 3: Problema ini tak hanya dihadapi Kartini, tapi juga pahlawan Indonesia 
lain, seperti Teuku Umar, Sisingamangaraja, Imam Bonjol, Diponegoro, Pattimura, 
dll. Keindonesiaan sebagai sebuah nasion baru secara resmi mengemuka tahun 1928 
saat Sumpah Pemuda. Namun, perjuangan pada skala lokal yang ditempuh para 
pahlawan itu dinilai menjadi inspirasi bagi lahirnya suatu paham kebangsaan 
yang lebih universal sifatnya di Hindia Belanda. Di Eropa saja pada awal abad 
ke-20 feminisme masih baru jabang bayi. Eh, di Hindia Belanda yang primitif 
sana kok sudah ada perempuan yang punya kesadara feminis yang tinggi? Di 
sinilah nilai perjuangan Kartini.

Versi 4: Inti perjuangan Kartini adalah pembebasan perempuan dari penindasan 
adat dan laki-laki, bukan pembebasan bangsa dari penjajah asing. Jangan 
campur-adukkan gender dan nasionalisme. Akibatnya, perjuangan gender harus 
dinomorduakan setelah perjuangan kemerdekaan. Jangan lupa, tak jarang 
kemerdekaan justru menjadi awal penjajahan bagi perempuan. Merdeka dari 
penjajah asing tak serta-merta membawa kemerdekaan bagi perempuan dari 
penindasan patriarki. Kartini pun sebetulnya juga kritis terhadap sikap 
diskriminatif bangsa Eropa terhadap pribumi. Ini terlihat baik dalam 
surat-suratnya untuk Rosa Abendanon maupun Stella Zeehandelaar. maka itu, 
Kartini disebut sebagai pahlawan emansipasi perempuan, bukan pejuang 
kemerdekaan.

Versi 5: Kartini juga mendirikan sekolah putri bersama adiknya, Rukmini. Ia 
juga menceritakan sekolahannya ini kepada teman-temannya yang orang Belanda. 
Jadi, mendidik perempuan Jawa bukan cuma sekadar cita-cita, tetapi sudah 
terwujud bahkan sebelum ia dipaksakawin dengan Bupati Rembang. setelah kematian 
Kartini dalam usia cukup dini, sekolah itu dilanjutkan oleh Rukmini. Jadi, tak 
tepat membading-bandingkan jasa Kartini dan Sartika.

Versi 6: Jawabannya sama dengan Versi 3. Gugatan serupa juga bisa dikenakan 
kepada banyak pahlawan Indonesia lain. Jadi, kenapa fokusnya ke Kartini saja? 
Kenapa para pahlawan laki-laki yang skala perjuangannya juga sangat lokal tidak 
dipertanyakan kadar kepahlawananannya? Atau perjuangan hanya dimaknai tinggi 
jika memakai bedil dan granat? Ini pengertian "perjuangan" yang sangat maskulin 
dan menghapus kontribusi perjuangan perempuan. Di balik gugatan terhadap 
Kartini ini, tersembunyi agenda anti-feminis yang kentara. Bahkan soal tanggal 
21 April pun dipermasalahkan. padahal, Kartini tak pernah menuntut agar tanggal 
lahirnya diabadikan sebagai hari nasional. Ini kan kerjaan para pimpinan 
nasionalis yang laki-laki juga?

manneke




         

       
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot 
with the All-new Yahoo! Mail  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke