Apa yang dibicarakan dalam hari kartini? Tentang perempuan, emansipasi,
posisi atau perannya dalam kehidupan luas. Sekalipun setiap tahun, setiap
kesempatan di bulan april atau desember perempuan ramai dibicarakan, selalu
saja ada hal-hal tentang perempuan yang menggugah para 'pemerhati'
keperempuan<http://3an.blogspot.com/2006/07/apakah-anda-seorang-feminis.html/>untuk
dibicarakan kembali di momen hari-hari perempuan tersebut.

Tentang emensipasi, secara prinsip adalah keinginan mengangkat posisi
perempuan dalam ranah sosial yang banyak dikuasai laki-laki. Dan karena
pengangkatan, selalu ada bagian yang ditinggalkan menjadi kosong atau
sedikit tak terisi, yaitu ruang domestik yang sejak dulu diidentikan dengan
wilayah perempuan. Namun secara praktis hal tersebut bisa saja dihindari
atau setidaknya diminimalisir melalui sebuah dialog.

Hal yang lebih prinsip lagi, emansipasi bukanlah 'gerakan' kasihan. Karena
perempuan tak perlu dikasihani kemudian diangkat 'derajat'nya. Emansipasi
adalah sikap dan tindakan kesadaran atas potensi dan peran yang secara
alamiah bisa dilakukan perempuan. Seperti apa?

Membicaran ide awal kartini untuk menyamakan pendidikan antara
laki-perempuan tentu sudah tidak relevan lagi. Perempuan di negeri ini telah
bebas mengenyam pendidikan mulai dari tingkat bawah sampai perguruan tinggi.
Sehingga arah pembicaraan selanjutnya adalah realisasi dari pendidikan yang
didapatkan perempuan dalam kehidupan masyarakat.

Perempuan terpelajar, yang mendapatkan pendidikan (materi, tugas dll) tanpa
pembedaan prinsip adalah aset yang berharga. Sekalipun mempunyai
keterbatasan dalam keleluasaan bergerak (dibanding laki-laki umumnya),
kemampuan perempuan dalam akademik tidaklah perlu diragukan, bahkan sengat
banyak pelajar-pelajar berprestasi datang dari perempuan.

Timbul masalah kemudian ketika sang perempuan meninggalkan dunia sekolah.
Banyak perempuan-perempuan yang 'memilih' untuk tidak 'berkompetisi' dalam
pekerjaan atau bidang untuk pengoptimalan pengetahuan yang sudah
didapatkannya. Padahal, mereka sama-sama merasakan perjuangan untuk
mendapatkan sebuah gelar sarjana, misalnya. Namun setelahnya, banyak
perempuan yang memilih tidak mengoptimalkan potensinya tersebut dalam
wilayah yang lebih luas.

Fenomena tersebut, bisa disebabkan oleh hal-hal berikut: *pertama*,
paradigma yang masih banyak di masyarakat, bahwa perempuan adalah domestik *un
sich. kedua, *sikap 'pasrah' perempuan atas 'idiom kehidupan' yang
diidentikan kepada mereka. dan *ketiga*, Syndrom perempuan karir yang
negatif (meninggalkan rumah tangganya dsb).
Namun yang utama adalah pandangan laki-laki atas perempuan sendiri. Artinya,
tidak banyak laki-laki yang berkesadaran untuk menempatkan perempuan sesuai
dengan potensi keprofesian yang dimilikinya. Dalihnya bisa macam hal,
misalnya bahwa mendidik anak-anak di rumah adalah menyiapkan generasi depan
bangsa, pekerjaan besar untuk masyarakat dan akan berbeda prosesnya antara
perempuan lulusan SMP atau PT.

Sekali lagi, ini sebuah pilihan memang. Dan kemerdekaan untuk memilih itu
tetap ada pada diri perempuan. Tapi secara prinsip, mereka punya potensi
yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat. Karena perempuan
sudah mendapatkan kesempatan pendidikan tinggi, maka seharusnya bisa
kontribusi sesuai dengan potensinya tersebut.

Kembali ke hal prinsip, bahwa perempuan terpelajar punya potensi kompetensi.
Secara sosial, kesempatan berpendidikan yang diberikan masyarakat seharusnya
dikembalikan lagi. Kita tidak sedang berbicara tentang perempuan karir yang
menduduki jabatan strategis korporat dan melalaikan rumah tangganya. Bukan
pekerjaan atau jabatan yang utama, tapi optimalisasi bidang kompetensi. Hal
yang bisa diartikulasikan dalam pelayanan masyarakat, dunia pendidikan anak,
pemberdayaan perempuan, *entrepreneur* dan banyak bidang lainnya. Dan dalam
rumah tangga, sekali lagi secara praktek bisa diselesaikan dalam satu kata:
Dialog.

Memberikan kesempatan 'berkarir' bagi perempuan juga bukan tindakan tanpa
waspada bagi laki-laki. Karena itu artinya 'merelakan' bagian-bagian yang
seharusnya 'ladang' laki-laki kepada perempuan. Negatifnya yang ekstrim,
masalah pekerjaan yang bisa menimbulkan pegangguran laki-laki. Padahal
secara norma agama, laki-laki yang berkewajiban untuk bernafkah.

Secara lebih luas, perempuan adalah makhluk yang tekun. Prestasi yang
dicapai sebagian besar karena ketekunan dan kesabaran, hal yang biasanya
jarang ada pada laki-laki. Memberikan kesempatan perempuan untuk berkarir,
artinya memberikan celah pada perempuan untuk lebih 'tinggi' daripada
laki-laki. Dalam kehidupan keluarga atau calon pasangan, bisa terjadi
penghasilan perempuan lebih besar daripada laki-laki.

Dua hal diatas, yang secara tidak langsung ada dalam alam bawah sadar
laki-laki. Butuh kesadaran, persis dengan yang saya sampaikan diatas bahwa
kendala utama 'optimalisasi kompetensi' perempuan ada di pihak laki-laki.
Padahal, perempuan tidak bisa dipisahkan dari laki-laki. Disinilah, umumnya
perempuan menemukan titik lemah. Namun semua manusia punya pilihan, dan
perempuan pun bebas untuk memilih.

trian
-- 
visit me : http://3an.blogspot.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke