Oleh Roch Basoeki Mangoenpoerojo Anggota Presidium Barisan Nasional http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/21/opini/3465894.htm ===========================
Bersama anak-anak Belanda di usia 12, Raden Ajeng Kartini (21 April 1879-13 September 1904) merupakan anak gembira. Tetapi guncang, tidak bisa menjawab saat ditanya "apa cita-citamu?" Kartini bertanya kepada ayah dan kakaknya. "Menjadi istri bangsawan," jawab mereka. Kartini langsung serius. Itu semua terlihat dari surat-surat, yang kemudian bisa dibaca dan dipelajari melalui buku-buku dalam terjemahan bahasa asing, bahasa Sunda (1930), dan Jawa (1938). Ia tak marah, cita-citanya "hanya diarahkan" untuk menjadi istri pangeran. Buktinya, realitas budaya diakomodasi, ia menjadi istri kedua Bupati Rembang dan melahirkan anak. Selama ini Kartini cuma berpredikat pahlawan emansipasi karena dianggap cuma "berani marah" terhadap pelecehan perempuan. Tidak lebih. Ia bicara peradaban Berbeda dengan cara pandang masyarakat Eropa dan Belanda, khususnya Abendanon, Direktur Kementerian Pengajaran, Ibadah dan Kerajinan Kerajaan Belanda yang membukukan seluruh surat/tulisan Kartini, menjadi Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Ibusuri Kerajaan Belanda pun mengapresiasi, juga Gubernur Jenderal Idenburg dan Menteri Urusan Jajahan JH de Waal menjadi donatur Kartini Fonds di s'Gravenhage (1912). Tulisannya bukan cuma buat perempuan, tetapi anak bangsa. Ia lebih berbicara soal "anak didik" sebagai tunas bangsa dan lingkungan (ia sebut "bangsa Jawa", tetapi beasiswanya diberikan kepada Agus Salim). Meski belum ada Indonesia, kesadaran berbangsa sudah dibangkitkan. Kartini ingin berhubungan dengan para pemuda berhaluan maju yang ingin bekerja untuk tanah air dan bangsa, buat kesejahteraan rakyat. Hal itu dilakukan melalui pendidikan, dimulai dari keluarga berencana (Sulastin Sutrisno, penerjemah bukunya). "Jangan hidup sembarangan, hiduplah yang layak, berpendidikan otak dan akhlak," kata Kartini. Jelas, di hati dan pikirannya bukan hanya soal perempuan. Kehadiran Kartini berbeda dengan pemimpin sebelum Kebangkitan Nasional. Saat itu para pemimpin cenderung menonjolkan kekerasan untuk kekuasaan, sejak Cut Nyak Dien, Diponegoro, Hassanuddin, Imam Bonjol, dan lainnya dengan simbol senjata, massa, kepemimpinan, kekerasan, pertempuran, dan kemenangan. Terbukti, para pemimpin sering menang bertempur tanpa pernah memenangi perang. Aceh harus mengakui "kalah" terhadap teknologi penjajahan Belanda. Para pemimpin, sejak Sriwijaya, Majapahit, hingga Mataram, merasa menang perang saat melawan sesama anak bangsa. Lihat Hang Tuah hingga Joko Tingkir. Sementara Kartini berlindung dalam iman ketakwaan yang tak terbagi, kemurnian sense of humanity dan adjustment (Tragedi Kartini, Suryanto Sastroatmodjo). Bacaannya luas, dari perbudakan De Negerhut karya Hariette (penulis Uncle Tom Cabin; menurut Abraham Lincoln menyebabkan perang saudara Amerika) sampai Max Havelaar karya Multatuli, dan mencermati wejangan orangtua dalam macapat. Kartini lebih bicara konteks peradaban suatu bangsa di tengah pergolakan dunia, termasuk soal liberalisme, melawan perbudakan, apalagi cultuurstelsel. Seolah ia hendak mengatakan, percuma berkuasa (merdeka) bila tanpa otak dan akhlak sejak anak- anak. Pahlawan komunikasi Perlawanannya terhadap penjajahan dipahami penjajah. Pena Kartini berhasil mengomunikasikan hasrat pribumi untuk merdeka, melalui tulisan yang menyadarkan semua pihak, juga penjajah. Selain merebaknya sosialisme di Eropa dan kekalahan Rusia atas Jepang, lahirnya Politik Etis 1905 bukan tidak mungkin dipengaruhi pikirannya (tulisan Van Deventer dan Brooshooft atas Nota Kartini). Kartini memberi pengajaran para pemimpin abad ke-20, entah Taman Siswa, Perguruan Muhammadiyah Kayu Tanam, dan banyak organisasi menggunakan otak-akhlak (bukan kekerasan untuk kekuasaan). Pembelaan Bung Hatta (1925) di landrad Rotterdam dipengaruhi "gaya komunikasi Kartini". Juga Indonesia Menggugat pembelaan Bung Karno di Pengadilan Bandung. Dengan "penyadaran Kartini" pula rakyat Indonesia menyadari arti kehidupan kemerdekaan dan tidak melahirkan spontanitas luar biasa saat rakyat menghadapi agresi Belanda 1946-1949. Keppres No 108/1964 menjadikan Kartini sebagai pahlawan nasional. Ia diusulkan sebagai "Pahlawan Komunikasi Kebangsaan". Banggalah perempuan Indonesia, mampu menyadarkan penjajah atas kezaliman, menyadarkan bangsa dan pemimpinnya yang jauh dari otak dan akhlak.
