Oleh Saparinah Sadli Pemerhati Masalah Perempuan http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/21/opini/3469223.htm ================================
Kartini hidup lebih dari 100 tahun lalu, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kartini meninggal karena komplikasi pascamelahirkan. Ia melahirkan bayi dengan selamat di tempat tinggalnya, Kabupaten Rembang, dengan pertolongan seorang dokter Belanda. Namun, Kartini lalu mengalami komplikasi yang oleh dokter yang sama tidak dapat diatasi. Kartini meninggal dalam usia 25 tahun 4 hari setelah melahirkan putra pertama. Bukan karena kemiskinan, tetapi karena teknologi kedokteran belum mampu mengatasi komplikasi yang dapat dialami perempuan pascamelahirkan. Kini, di awal abad ke-21, setiap malam pemirsa Metro TV dapat melihat tayangan Save Our Nation Through MDGs, dilengkapi tulisan tentang delapan Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs). Salah satu dari MDGs adalah menurunnya angka kematian ibu (AKI) sebanyak tiga perempat dari angka nasional pada tahun 2015. Saat ini (2007) AKI di Indonesia adalah 307/100.000 kelahiran hidup. Dalam MDGs, meningkatkan kesehatan ibu (atau menurunkan AKI) adalah salah satu tujuan yang harus dicapai untuk mengurangi kemiskinan. AKI dapat dicegah Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009, Indonesia menetapkan pencapaian AKI sebesar 226/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2009. Sementara sesuai tujuan MDGs, AKI di Indonesia pada tahun 2015 harus dapat diturunkan menjadi 102/100.000 kelahiran hidup. Suatu tantangan bagi Indonesia karena sudah lebih dari 30 tahun lamanya dan dengan telah dibuatnya berbagai kebijakan dan program, AKI sudah turun, tetapi belum secara signifikan mampu meningkatkan status kesehatan perempuan. Perkiraan angka kematian ibu di Indonesia yang masih di atas 300/100.000 kelahiran hidup menempatkan AKI Indonesia tertinggi di Asia Tenggara meski pengukurannya (menurut pakar penelitian) amat sulit dilakukan. Risiko kematian seorang ibu Indonesia saat persalinan atau pascapersalinan diperkirakan satu dalam 65, dibanding satu dalam 1.100 di Thailand. AKI 307/100.000 kelahiran hidup berarti tiap hari ada 48 ibu Indonesia meninggal karena hamil atau melahirkan, dan tiap jam ada dua perempuan Indonesia meninggal karena komplikasi mengandung atau persalinan. Di balik angka kematian ibu, berarti: Pertama, bayi yang ibunya meninggal dinyatakan sebagai mempunyai harapan hidup kurang dari dua tahun. Kedua, dampak psikis dan ekonomis bagi keluarga miskin, keluarga kehilangan seorang perawat kebutuhan fisik, emosional keluarga, dan tenaga kerja. Ketiga, status kesehatan perempuan Indonesia rendah atau buruk. Keempat, hak dasar kesehatan perempuan dan bayinya tidak terpenuhi. Kelima, hak hidup perempuan dilanggar. Meski tidak langsung berpengaruh pada AKI, sebanyak 57 persen remaja putri atau perempuan sebagai calon ibu, menurut Depkes RI, menderita anemia. Menghadapi kenyataan itu, perlu serius diperhatikan pernyataan seorang pakar kebidanan Indonesia. Katanya, "Dengan kemajuan teknologi kedokteran Indonesia, perempuan hamil (dikehendaki atau tidak), melahirkan dan pascamelahirkan, tidak perlu meninggal karena melahirkan." Seabad lalu, Kartini meninggal pascapersalinan karena teknologi kedokteran belum maju seperti sekarang. MDGs berwajah perempuan MDGs adalah strategi mengurangi kemiskinan global. Jika kita simak tujuh dari delapan tujuan MDGs, tujuan-tujuan itu saling terkait (saling memengaruhi dan perlu perhatian serius) dan "berwajah perempuan". Karena tujuh dari delapan tujuan terkait kehidupan perempuan. Tujuannya, pertama, menurunkan sampai 50 persen proporsi orang yang hidup dalam kondisi kemiskinan. Di antara orang yang hidup miskin, lebih banyak perempuan yang miskin. Kedua, persamaan pendidikan bagi tiap anak perempuan dan laki-laki. Di keluarga miskin, yang lebih banyak tidak sekolah atau tidak menyelesaikan pendidikan SD adalah anak perempuan. Ketiga, memajukan kesetaraan jender. Diskriminasi berbasis jender masih merajalela. Keempat, menurunkan angka kematian anak balita sebesar dua pertiga antara tahun 2000 dan 2015. Kelima, meningkatkan kesehatan maternal dengan cara menurunkan rasio AKI sebesar tiga perempat antara 2000-2015. Hal keempat dan kelima, secara langsung terkait kesehatan perempuan dan anak. Keenam, memerangi dan menghentikan penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya. Statistik Indonesia mengungkapkan, perempuan dengan HIV/AIDS meningkat drastis. Juga sudah ada ibu-ibu yang melahirkan bayi dengan HIV. Ketujuh, menghentikan perusakan lingkungan. Bagi perempuan yang diposisikan sebagai pengasuh utama kebutuhan anak dan keluarga. Kerusakan lingkungan berarti tidak ada air bersih atau harus berjalan jauh untuk mendapat air bersih yang dibutuhkan untuk masak bagi keluarga. Beban perempuan bertambah jika anak sakit (karena air minum dan mandi tidak bersih). Tantangan yang dicanangkan melalui MDGs adalah untuk memastikan agar tiap orang, terutama perempuan, sejak usia muda terpenuhi hak-hak dasarnya, seperti hak kesehatan, hak pendidikan, dan hak untuk tidak diskriminasi di berbagai bidang kehidupan bersama. Adalah mutlak pemenuhan berbagai hak dasar perempuan mengingat perempuanlah yang dikaruniai Tuhan untuk dapat melahirkan generasi baru. Untuk itu perempuan harus sehat fisik, mental, sosial, dan tidak mengalami diskriminasi jender. MDGs menekankan perlunya hak kesehatan, hak pendidikan perempuan, dan kesetaraan jender dipenuhi dalam upaya membangun masyarakat makmur dan adil jender. Target pencapaian yang ditetapkan adalah 2015. Sejak sebulan lalu, MDGs disosialisasikan sebagai Save Our Nation Through MDGs. Jika dikaitkan perjuangan Kartini bagi kaum dan bangsanya, tidak salah jika MDGs menjadi Save Our Women Through MDGs. Lebih dari seabad lalu, Kartini berjuang melepaskan diri dari belenggu adat (Jawa) untuk ikut memajukan bangsa dan posisi perempuan yang lebih manusiawi. Kini, MDGs menetapkan delapan tujuan agar suatu bangsa dapat melepaskan diri dari belenggu kemiskinan dengan memenuhi sejumlah hak perempuan. Cita-cita Kartini dan tujuan MDGs mengisyaratkan perubahan ke arah meningkatkan kesejahteraan bangsa harus didasari oleh menghapus ketidakadilan sosial yang dialami perempuan sejak berabad-abad.
