Ck Ck Ck... luar biasa pak manneke...

mariana

Friday, April 20, 2007, 2:47:19 PM, you wrote:

> Ini pandangan saya. Tujuannya sama dengan postingan Anda: untuk
> memberikan pemahaman yang lebih baik dalam memaknai perjuangan Kartini:
>    
>   Versi 1: Ini berbau teori konspirasi. Cuma bisa curiga tapi tak
> punya bukti. Surat-surat Kartini tak cuma ditujukan pada Rosa
> Abendanon, tapi juga kepada sahabat penanya di Belanda yang tak
> pernah ditemuinya, yaitu Stella Zeehandelar. Nada dan isi surat
> Kartini buat kedua orang ini sama. Stella tak mungkin kongkalikong
> dengan Rosa dalam merekayasa surat Kartini, karena ia tak menyukai
> Rosa Abendanon. Ia bahkan rada menyalahkan suami-istri Abendandon
> atas kematian Kartini yang terjadi hanya setahun setelah ia menikah
> dan beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya.
>    
>   Versi 2: Kartini menikah dengan suaminya yang duda dan berusia
> jauh lebih tua bukan karena kesukarelaan. Ia terpaksa menuruti
> kemauan ayahnya yang sangat dicintainya dan pada waktu itu
> sakit-sakitan. Ketika hal tak terhindarkan ini akhirnya harus
> terjadi, Kartini "bernegosiasi" dengan calon suaminya. Ia ingin
> diperbolehkan melanjutkan cita-citanya membuka sekolah bagi
> perempuan Jawa, dan Bupati Rembang setuju. Kartini juga bertekad
> mendidik anak-anak sang Bupati agar tumbuh menjadi orang yang tidak
> menomorduakan perempuan. Dengan kata lain, ia menggunakan
> "perkawinan paksa"-nya dengan sang Bupati sebagai jalan untuk terus
> melanjutkan perjuangannya. Jadi, ia tetap konsisten sampai akhir:
> menolak untuk toleran terhadap adat Jawa yang feudal maupun
> kebiasaan poligami yang dipraktikan pria-pria Muslim di Jawa.
>    
>   Versi 3: Problema ini tak hanya dihadapi Kartini, tapi juga
> pahlawan Indonesia lain, seperti Teuku Umar, Sisingamangaraja, Imam
> Bonjol, Diponegoro, Pattimura, dll. Keindonesiaan sebagai sebuah
> nasion baru secara resmi mengemuka tahun 1928 saat Sumpah Pemuda.
> Namun, perjuangan pada skala lokal yang ditempuh para pahlawan itu
> dinilai menjadi inspirasi bagi lahirnya suatu paham kebangsaan yang
> lebih universal sifatnya di Hindia Belanda. Di Eropa saja pada awal
> abad ke-20 feminisme masih baru jabang bayi. Eh, di Hindia Belanda
> yang primitif sana kok sudah ada perempuan yang punya kesadara
> feminis yang tinggi? Di sinilah nilai perjuangan Kartini.
>    
>   Versi 4: Inti perjuangan Kartini adalah pembebasan perempuan dari
> penindasan adat dan laki-laki, bukan pembebasan bangsa dari penjajah
> asing. Jangan campur-adukkan gender dan nasionalisme. Akibatnya,
> perjuangan gender harus dinomorduakan setelah perjuangan
> kemerdekaan. Jangan lupa, tak jarang kemerdekaan justru menjadi awal
> penjajahan bagi perempuan. Merdeka dari penjajah asing tak
> serta-merta membawa kemerdekaan bagi perempuan dari penindasan
> patriarki. Kartini pun sebetulnya juga kritis terhadap sikap
> diskriminatif bangsa Eropa terhadap pribumi. Ini terlihat baik dalam
> surat-suratnya untuk Rosa Abendanon maupun Stella Zeehandelaar. maka
> itu, Kartini disebut sebagai pahlawan emansipasi perempuan, bukan pejuang 
> kemerdekaan.
>    
>   Versi 5: Kartini juga mendirikan sekolah putri bersama adiknya,
> Rukmini. Ia juga menceritakan sekolahannya ini kepada teman-temannya
> yang orang Belanda. Jadi, mendidik perempuan Jawa bukan cuma sekadar
> cita-cita, tetapi sudah terwujud bahkan sebelum ia dipaksakawin
> dengan Bupati Rembang. setelah kematian Kartini dalam usia cukup
> dini, sekolah itu dilanjutkan oleh Rukmini. Jadi, tak tepat
> membading-bandingkan jasa Kartini dan Sartika.
>    
>   Versi 6: Jawabannya sama dengan Versi 3. Gugatan serupa juga bisa
> dikenakan kepada banyak pahlawan Indonesia lain. Jadi, kenapa
> fokusnya ke Kartini saja? Kenapa para pahlawan laki-laki yang skala
> perjuangannya juga sangat lokal tidak dipertanyakan kadar
> kepahlawananannya? Atau perjuangan hanya dimaknai tinggi jika
> memakai bedil dan granat? Ini pengertian "perjuangan" yang sangat
> maskulin dan menghapus kontribusi perjuangan perempuan. Di balik
> gugatan terhadap Kartini ini, tersembunyi agenda anti-feminis yang
> kentara. Bahkan soal tanggal 21 April pun dipermasalahkan. padahal,
> Kartini tak pernah menuntut agar tanggal lahirnya diabadikan sebagai
> hari nasional. Ini kan kerjaan para pimpinan nasionalis yang laki-laki juga?
>    
>   manneke

Kirim email ke