Lha, soal stereotipe, bukannya Anda mestinya lebih ngerti? Kan bidangya 
psikologi toh? Hal ini banyak dikaji dalam cognitive psychology. Lebih baik Bu 
Cornelia yang menerangkan di sini dari pada saya ngeracau panjang lebar.
   
  Satu lagi, budaya Minang itu bukan "matriarki" melainkan "matrilineal." kedua 
hal ini bedanya seperti laut dan gunung. Budaya matriarki cuma ada dalam mitos 
dan legenda, seperti legenda bangsa Amazon yang konon semuanya perempuan, 
misalnya. Kalo matrilineal, penguasanya tetap laki-laki. Kan tokoh kunci dalam 
sistem ini adalah Ninik Mamak, yang nota bene adalah laki-laki?
   
  manneke

Cornelia Istiani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Jadi inget begitu keras respon di milis ini (mungkin dari para 
feminis kali) atas respon pak Iwan tentang Shasa beberapa waktu lewat. Pak 
Manneke di puja---Pak Iwan Wibawa di hujat (pernyataannya dianggap menindas 
kali ya dan stereotipe??)...meski kedengarannya keduanya menunjuk pada manusia 
yang sama yaitu "begonya" laki-laki dengan penyebab yang berbeda ...dan tidak 
bisa dipungkiri bahwa ada juga wanita yang menjadi penyebab "kegagalan" dari 
laki-laki, misalnya menjadi penyebab suami korupsi (banyak lho ibu-ibu pejabat 
yang kalo belanja luar biasa..soale temen saya waktu kuliah di US pernah nyambi 
jadi sopir tamu dari kedutaan terutama para ibu-ibu pejabat kalo lagi pergi 
shoping) dan lainnya----dan bisa jadi memang laki-laki tersebut "brengsek".

Lalu contoh dari ibu Mariana Amirudin yang mengatakan bahwa dengan suka manjat 
pohon, renang,dll..sudah merasa terdiskriminasi oleh masyarakat sebagai masalah 
jender--saya malah lebih parah selain semua itu, saya juga berantem sama yang 
namanya temen laki-laki, main gundu bersama..dari observasi terhadap 
pertumbuhan dua saudara yang lahir hampir bersamaan kebetulan yang satu laki 
satu lagi wanita...dalam pertumbuhan dan perkembangannya keduanya menunjukkan 
minat yang memang berbeda mulai dari masalah warna sampai pakaian (kedua orang 
tua sepakat tidak membedakan perlakuan dan tidak memberi treatment yang 
berbeda)--lalu ketika saya tanya ke psikolog anak kenapa kok mereka tetap 
berbeda padahal oranga tua tidak membedakan.
Pertanyaannya (muncul dari rasa ingin tahu atas respon-respon yang muncul 
"menghujat" pak Iwan)...
sebenarnya stereotipe jender ini muncul dari mana, pendekatan apa yang 
digunakan untuk pijakan; pendekatan trait, dimensi, tipologi atau yang lain? 
dan bagaimana merubah sistem yang dianggap menindas kaum wanita ini? Lalu 
bagaimana dengan budaya Minagkabau yang matriarki?

Terimaksih untuk jawabannya, kalau dijawab he..he..

salam,
_CI_

Kirim email ke