Hehehe...Pak Manneke benar...Mas Bungaran ini agak underestimate pada 
perempuan. Padahal, setahu saya yang sudah menikah, justru perempuan jauh lebih 
kuat dan berakal panjang ketika dihadapkan pada kondisi keluarga yang sulit. 
Kalau tidak percaya, mungkin artikel kehidupan di Kompas Minggu (22/4) lalu 
bisa jadi rujukan. Bagaimana seorang ibu merelakan dirinya jadi penarik becak 
buat menghidupi keluarga. Ini mungkin agak sedikit keluar konteks masalah yang 
membahas soal gaji PNS. Tapi saat membaca artikel ibu penarik becak itu, dengan 
miris saya bertanya, kemana suaminya? kenapa mereka tidak bertukar peran saja, 
bapaknya yang jadi penarik becak dan ibunya yang jadi pemburu burung. Untuk 
rujukan lain mungkin bisa juga ditelisik artikel somah yang setiap minggu 
dimuat di Kompas. Selalu perajinnya adalah perempuan dan hampir sebagian besar 
kisah sukses itu berasal dari keinginan para perempuan tersebut membantu 
keuangan keluarga. 
   
  Jadi mas Bungaran, maaf sekali kalau saya menganggap Anda agak tendensius 
menilai perempuan. Mungkin memang banyak perempuan yang ditakdirkan selalu 
bergantung pada suaminya. Tapi Anda juga harus mau dengan jujur melihat dan 
mengakui bahwa lebih banyak lagi perempuan yang maju ke depan dan mencari 
solusi paling mungkin yang dapat mereka berikan, saat keluarga membutuhkan 
bantuannya. Banyak perempuan yang sukses menjadi single mother, sementara hanya 
sedikit ayah yang sukses menjadi single father. Semoga ini bisa jadi bahan 
perenungan kita bersama untuk lebih bisa menghargai manusia dari apa yang 
mereka lakukan.
   
  Salam persamaan untuk Mas Bungaran... 

bungaran <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Hahaha. Saya belum menikah jadi enggak tahu persis spt apa sih 
kehidupan berumah tangga. Yang saya perhatikan kehidupan keluarga 
Indonesia ketika suami dapat gaji maka 100% gajinya diserahkan ke 
isteri. Isterilah yang mengatur keuangan dan ketika situasi 
diperhadapkan dengan berbagai kenaikan harga maka tentunya membuat 
mereka pusing tujuh keliling untuk menutupi segala pembiayaan 
kehidupan keluarga. Jadi jangan heran ketika terjadi kenaikan harga 
diberbagai sektor maka yang pertama kali menjerit adalah ibu-ibu 
rumah tangga.
Memang harus diakui di Indonesia kurang pemberdayaan peranan wanita. 
Dari 234.893.453 juta penduduk Indonesia, mungkin hanya beberapa 
persen wanita yang sekolah. Mayoritas, wanita di Indonesia sekolah 
hanya sampai tingkat SMP tanpa keahlian yang cukup untuk bisa 
bekerja. Wanita selalu diperhadapkan dengan berbagai pilihan sulit
(Bekerja demi karir atau menjadi ibu rumah tangga yang baik) apalagi 
jika mereka sdh mempunyai anak. Mayoritas para suami di Indonesia 
tidak mengijinkan si isteri untuk bekerja. Tidak sedikit konflik 
terjadi dalam kehidupan berumah-tangga jika penghasilan si isteri 
lebih baik dari suami. 

--- In [email protected], manneke budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Menilik dari komentar Pak Bungaran dan Pak Iwan Wibawa, saya 
mendapat kesan bahwa kedua bapak ini punya pengalaman buruk dengan 
istri mereka di rumah. Kok pendapatnya tentang perempuan condong 
untuk selalu miring. Semoga tidak betul, ya? Ha ha ha...
> 
> 
> manneke
> 
> 
> 
> Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> ha..ha...ha hus nanti ada yang marah lho.......katanya istri 
sekarang gak suka menuntut, pada sabar semua, calon surga ...ha ha ha 
> 
> bungaran <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Gaji PNS paling kecil 2 
juta.
> Terus biaya hidup: 4 juta
> Minus 2 juta, cari usaha untuk menutupi 2 juta. Hahahaha
> Belum lagi isteri minta mobil bagus, HP,baju, barang serba bermerek.
> Puyeng deh. Hahaha
>



         

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke