Pak Sulaeman,
Terima kasih untuk postingannya yang benar-benar bijak
seperti Raja Sulaiman dulu.  Salam.
--- Sulaeman Herisuwendi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Isu Israel dan Yahudi di negeri kita sudah
> simpang-siur babak-belur macam
> rujak bebek.  Sadar atau tidak orang sudah samar
> dalam membedakan mana
> Yahudi mana Israel. Tidak jelas lagi apakah orang
> itu benci Yahudi atau
> benci Israel atau kedua-duanya. Tidak pasti lagi
> sejak kapan, kenapa dan
> siapa suruh benci dengan cara itu.
> Fakta pertama, tidak semua keturunan Yahudi di muka
> bumi in adalah warga
> negara Israel sebagaimana juga tidak semua warga
> negara Israel adalah
> 100% berasal dari keturunan Yahudi. Kalau kita pergi
> ke Mesir atau Moroko
> yaitu negara anggota Liga Arab, maka di situ ada
> menetap penduduk minoritas
> berdarah Yahudi yang sudah hidup turun temurun
> selama berabad-abad lamanya.
> Demikian pula di Israel ada warga negara yang
> berketurunan Arab. Nah,
> sekarang apa masalahnya kita memperdebatkan
> kehadiran seorang warga Amerika
> yang punya seluk beluk akar keturunan Yahudi datang
> ke negeri kita yang
> jelas-jelas melalui aturan keimigrasian RI yang sah?
>  Jelas ini yang
> bermasalah sebenarnya kita sendiri karena tidak
> punya pijakan.
> --
> Fakta kedua, banyak orang kita telah dijangkiti rasa
> benci kepada orang
> Yahudi atau Israel dengan cara yang keblinger, tapi
> selalu mengaku karena
> berdasar Agama Islam yang dianutnya. Kalau  membenci
> bangsa Israel maka
> bagaimana dengan orang Israel yang Arab atau muslim?
> Kalau dikata benci
> orang Yahudi, maka bagaimana dengan keturunan Yahudi
> yang dulu masuk Islam?
> Bagaimana dengan nabi-nabi yang  berasal dari
> keturunan Yahudi? Jadi jelas
> mempermasalahkan orang karena keturunan Yahudinya
> atau karena faktor
> kebangsaan Israelnya andalah  kontradiksi dengan
> ajaran Islam. .Islam tidak
> mengajarkan penganutnya menghina keturunan atau
> bangsa. Islam tidak melarang
> umatnya berhubungan dengan orang Yahudi atau bangsa
> apapun karena semua itu
> sebenarnya sama dari Keturunan Adam, termasuk orang
> Yahudi.
> --
> Fakta ketiga, banyak orang Indonesia benci Israel
> atau Yahudi karena ikut
> simpati dengan perjuangan politik bangsa Palestina.
> Tapi perbedaan politik
> dalam kasus Israel-Palestina  tidak bisa
> diselesaikan dengan benci-bencian
> karena terbukti tidak menyelesaikan masalah dan
> justeru malah semakin
> mengkeruhkan keadaan dan memperluas konflik secara
> berkepanjangan. Bersimpati kepada Bangsa Palestina 
> itu wajar saja, tapi
> kita juga harus realistik dalam cara membantu
> perjuangannya. Bangsa
> Palestina harus disadarkan tentang dirinya sendiri
> supaya tahu bahwa
> dalam perjuangan  politik hampir tidak pernah ada
> penyelesaian konflik yang
> bisa memuaskan sepenuhnya. Kita justeru harus lebih
> banyak mendorong dan
> menciptkansuasana yang kondusif untuk terus
> berlangsungnya dialog
> penyelesaian konflik, bukan menyulut api emosi
> kedalam sekam yang sudah
> sekian lama membara.
> 
> SH
> 

Kirim email ke