Saya suka takut dimarahi.. dimilis sana sy sering dimarahi krn pendapat saya.. .al ttg setuju istri kerja..., kalo bisa dimilis sini ya jangan di marahi lagi ..., apalagi oleh Bu Mariana.. :) Di milis sana sy, malah kabur.. krn bosan dimarahi... moga2 disini nggak perlu kabur.. Maklum da pengalaman traumatis :( .. malas deh di galakkin.. enaknya adu argumen aja..
soal ijin suami... ya sebenarnya harus selalu ada ijin biar enak,, termasuk juga ijin istri utk hal tertentu bagi suami .. saya pernah mau masuk suatu partai tertentu.. dilarang istri ya... nurut.. Soal istri kerja ya , perlu ijin lah.., kan ada konskwensi, jaga anak misalnya , umumnya suami akan berkata .. sy beri ijin asalahal spt itu sudah juga terpecahkan. Dalam kasus saya, krn sy wiraswasta dan dia "pegawai ". maka ada beban yg teralih ke saya.., misalnya urus anak kesekolah ( ambil rapot, atau di panggil krn anak nakal ) atau bahkan nyuci piring dan ngepel, nyiapin sarapan anak.. kalo pembantu lagi nggak ada, lha dia harus berangkat sebelum matahari terbit kok kalo mau nggak terlambat kekantor..Sering lho pembantu nggak ada itu.. Tapi ada hal penting lain... kata pak Uztadku .menurut Islam yang beliau pahami .. istri boleh kerja jika ada ijin dan restu suami...nah ini jangan dimarahi lagi .oleh Mas Luky ..krn bawa bawa pandangan agama.dalam diskusi disini .. kan manusia itu harusnya cuma melaksanakan perintahNya dan menjauhkan diri dari laranganNya..amar maruf nahi mungkar..... ya sesederhana itu . Kalo dimilis tetangga, ada uztad nya yang malah berpendapat sama sekali nggak nggak boleh..:( Jadi aku yang tengah tengagh aja... mendukung dgn syarat ijin dan restu... , seperti dalam banyak kegiatan ekstra aku juga minta ijin dan restu kok dr nyonyaku.., nanti dia merasa di sia siakan.. suaminya sok sibuk terus.. Salam Haniwar At 07:53 PM 4/24/2007, you wrote: >Pak Haniwar, kok seolah-olah aktivis perempuan itu kerjaannya >marah-marah ya? Please deh ah. Lagian di milis ini >yang marah-marah kan nggak hanya aktivis perempuan? Banyak >juga yang marah karena kasus lumpur lapindo, kasus laptop DPR, >kasus IPDN... Saya juga marah dengan tema-tema lainnya karena >merasa ada ketidakadilan, dan ini seharusnya ditangkap sebagai >sensitif dengan persoalan sosial, bukan cacian. > >Tapi Pak Haniwar lumayanlah masih mau diskusi soal kesetaraan >gender di milis ini. > >Cuma Saya nggak setujunya, istri mau kerja aja kok pakai ijin suami? >Kalau suaminya pengangguran istri kerja harus ijin juga? Padahal secara >ekonomi istrinya yang menopang. >Jadi TKW misalnya, atau jadi pembantu (pekerja) rumahtangga? > >Soal perempuan bekerja, lihat deh, pekerja-pekerja rumah tangga >itu banyak diisi perempuan, pedagang-pedagang di pasar, dll. >Kalau mereka pingin perempuan di rumah, mau nggak laki-laki bekerja >jadi pembantu rumah tangga? Kebanyakan kan gengsi? Atau jualan >di pasar? > >Memangnya lapangan pekerjaan itu disediakan untuk laki-laki, >kalau ya masukin tuh sektor-sektor pabrik seperti pabrik rokok, >pabrik sepatu, garmen dll, yang perusahaannya memilih tenaga >kerja wanita karena dianggap bisa dibayar murah dan katanya >perempuan lebih telaten daripada laki-laki... > >Buat saya mereka itu para laki-laki yang >di milis sana nggak rela perempuan maju, berprestasi, dan >berkarir, karena mereka merasa laki-laki yang seharusnya >punya prestasi, punya karir. Giliran jadi pembantu rumah >tangga atau buruh pabrik dibayar murah pasti nolak... > >Curang ih. Eh salam buat milis tetangga ya Pak Haniwar. > >mariana
