Oleh Sutta Dharmasaputra
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/25/Politikhukum/3482098.htm
========================

R: Pak, rumah saya digusur. Mau ketemu DPR bisa, Pak?

P: Siapa namanya? Dari Fraksi mana?

R: Tidak tahu, Pak.

P: Harus tahu nama dan fraksinya.

R: Fraksi apa juga boleh yang penting dari pemilihan Jakarta.

P: Sekarang, anggota DPR sedang reses.

R: Reses itu apa, Pak?

P: Reses itu kunjungan ke daerah pemilihan masing-masing.

R: Kalau begitu yang dari DKI ke mana, Pak? Kok, tidak bisa ketemu saya?

P: Hmmm… Lebih baik Bapak ke DPRD atau kantor partai saja.

Itulah kira-kira inti dialog antara rakyat awam (R) dan petugas (P)
ketika datang ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada saat reses
untuk mengadu kepada wakil rakyat. Kompas mengamati selama dua hari,
Jumat (20/4) dan Senin (23/4). Sebastian Salang, Sekjen Forum
Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia, memerankan diri dalam dua peran.
Pertama, ia memerankan sebagai aktor "kelas atas": berjas, berdasi,
dan naik mobil mewah BMW pinjaman. Kedua, memerankan "kelas bawah":
berkaus oblong, bersandal jepit, dan berjalan kaki dari gerbang depan
maupun gerbang belakang.

Kompas mengamati kegiatan Sebastian mulai dari masuk pintu gerbang DPR
sampai kantor anggota Dewan dari Fraksi Partai Golkar di lantai 13
Gedung Nusantara I DPR.

Rintangan

Dari penelusuran selama dua hari, ternyata cukup banyak pintu
rintangan yang harus dilalui seorang rakyat untuk bertemu wakil
rakyatnya di DPR. Perlakuannya pun bermacam-macam dan tidak standar.

Ketika Sebastian masuk dengan BMW, sekitar lima meter dari gerbang,
petugas menghentikan mobilnya, mencatat nomor pelat mobil, dan memberi
karcis. Sekitar 20 meter dari sana, mobil kembali dihentikan. Ada
petugas yang mendeteksi bom, ada juga yang meluncurkan banyak
pertanyaan. "Mau ke mana? Mau ketemu siapa? Sudah janji atau belum?"
ucap petugas itu.

Begitu Sebastian mengaku ingin menemui anggota DPR dari Daerah
Pemilihan DKI Jakarta I, tapi belum tahu fraksi dan nama anggota
Dewan, petugas pun kemudian melarang mobil maju lebih jauh dan meminta
langsung parkir.

Sebastian hampir harus berjalan jauh karena mobilnya tidak bisa
mengantar sampai ke lobi Gedung Nusantara I. Tapi, entah mengapa,
petugas memperbolehkan BMW-nya masuk, mengantar sampai lobi. Namun,
petugas wanti-wanti meminta sopir Sebastian langsung kembali ke pos
setelah selesai mengantar. Berbeda dengan penumpang taksi, semuanya
harus berhenti dan parkir di pos penjagaan.

Petugas rupanya hanya mengizinkan masuk kendaraan orang tertentu yang
sudah sering ke DPR. Jaya, salah satu aktivis partai, terbukti bisa
menerobos penjagaan meski statusnya sama sebagai tamu DPR.

"Mau ke mana, Pak?" tanya petugas. "Biasa…," balas Jaya sambil
melambaikan tangan sok kenal. Petugas pun langsung mengizinkan
mobilnya masuk.

Setelah turun dan masuk lobi Nusantara I, untuk ketiga kalinya petugas
memeriksa Sebastian. Petugas meminta Sebastian menyerahkan KTP untuk
ditukar kartu tamu. Petugas kembali menanyakan tujuan dia datang ke
DPR. Namun, seperti petugas lainnya, ketika Sebastian menceritakan
maksudnya bertemu anggota DPR dari daerah pemilihan DKI Jakarta,
petugas di loket tidak tahu. Padahal, Ketua DPR Agung Laksono dan
Ketua MPR Hidayat Nur Wahid adalah anggota DPR dari Daerah Pemilihan
DKI dari Fraksi Partai Golkar dan Fraksi PKS.

Petugas di pintu lift, setali tiga uang. "DPR sekarang sedang reses,"
ucap seorang petugas. "Kalau anggota DPR dari DKI kunjungan ke daerah
mana?" tanya Sebastian. Petugas akhirnya melongo, lalu mengizinkan
masuk lift.

Bagi orang awam, sulit mendapatkan informasi di DPR. Kalau berkunjung
ke kantor anggota Fraksi Partai Golkar di lantai 13, sejumlah anggota
Dewan bahkan menutup papan namanya yang tertempel di pintu ruangan
dengan plester hitam.

"Ini ruangan siapa, ya?" tanya Sebastian berpura-pura. Mendengar itu,
sekretaris bukan langsung menjawab, malah balik bertanya. "Bapak mau
ketemu siapa?" ucapnya.

"Saya mau ketemu anggota DPR dari DKI," kata Sebastian lagi. "Saya
tidak tahu," timpal sekretaris itu.

"Kenapa nama ditutup?" tanya Sebastian lagi. Sekretaris itu kembali
berkata tidak tahu untuk kesekian kalinya.

Ketika Sebastian yang sama masuk Gedung DPR, tapi dengan berpakaian
kaus kumal dan sandal jepit, mendapat perlakuan yang berbeda lagi.
Begitu masuk pintu gerbang, baik depan maupun belakang, dia sudah
langsung diminta meninggalkan KTP oleh petugas dan sebagai gantinya
dia diberi kartu masuk. Seperti halnya ketika mengenakan jas, kali ini
dia pun tak bisa mendapat informasi apa-apa. Petugas mengawalnya masuk
dan mengarahkan Sebastian ke bagian humas. Petugas humas pun malah
menyarankan Sebastian ke DPRD atau pemerintah daerah.

Ketika masuk lewat gerbang belakang, Sebastian bisa masuk sampai lobi
Nusantara I. Tapi, lagi-lagi, tidak dapat informasi. Ketika
berpura-pura hendak masuk lift khusus anggota Dewan, dia malah kena
semprot petugas. "Mau ke Golkar lantai berapa?" tanya Sebastian.
"Lantai 11-14, tapi lift-nya sana," jawab petugas sambil menutup pembatas.

"Kenapa enggak boleh?" tanya Sebastian lagi. "Bapak kan tamu. Di situ
ada kamera nanti kami yang kena. Tapi, ya sudah cepet masuk," jawab
petugas itu lagi dengan ketus. Sesampainya di lantai 13, petugas
lagi-lagi tidak membantu. "Di sini tak ada anggota DPR Golkar dari
Daerah Pemilihan DKI. Tidak tahu kalau di lantai lain," ucap petugas
tanpa menunjukkan informasi lebih jauh. Padahal, Gedung Nusantara I
terdiri dari 22 lantai.

Dalam waktu dekat, Sekretariat Jenderal DPR akan memberlakukan sistem
kartu akses elektronik. Di pintu utama atau lift akan dipasang kunci
dengan sistem komputer. Kunci ini bisa dibuka hanya dengan kartu
khusus yang dibagikan terbatas.

Kalau sebelumnya rakyat sudah sulit menemui wakilnya di Senayan, boleh
jadi akan semakin sulit lagi. Soalnya, kalau sebelumnya kartu tamu
bisa digunakan masuk ke mana pun, kartu akses dibedakan berdasarkan
lantai atau gedung. Dengan demikian, kalau tamu tak tahu nama anggota
yang dituju, jangan berharap sampai ke tujuan. Di rintangan pertama,
model tamu seperti Sebastian yang berkaus oblong pasti akan menyerah.

Apabila berjas tapi tidak tahu pasti anggota dituju, harus siap
mondar-mandir. Soalnya, kalau salah lantai, tamu berarti harus kembali
ke loket menukar kartu akses. Kalau petugas loket tidak mengizinkan,
boleh jadi harus mencoba lagi dan kembali mengulang rintangan dari
gerbang depan.

Sekjen DPR Faisal Djamal membantah tujuan pengetatan keamanan untuk
mempersulit rakyat. "Ini bukan mempersulit, tapi hanya menertibkan,"
ucapnya. Namun, Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga DPR Syafrin
Romas mengakui, salah satu tujuan adalah untuk membatasi orang keluar
masuk Gedung DPR. "DPR biarpun rumah rakyat, tidak bisa acak-acakan.
Sekarang ini penjual barang juga banyak berkeliaran. Kami sampai risi
dan terganggu," ujarnya.

Akan tetapi, Sebastian sebagai pengamat parlemen berpendapat lain.
Menurut dia, pengalaman dirinya menunjukkan betapa sulitnya saat ini
bagi rakyat menemui wakilnya. Hal ini bisa menjadi lebih parah lagi
apabila DPR semakin memperketat akses masuk. "Rakyat akan semakin
asing dengan DPR," ucapnya.

Selain membeli alat canggih, yang penting sesungguhnya adalah
menyiapkan sumber daya manusia dan mengubah pola berpikir. Paradigma
yang selama ini masih ada di kepala birokrasi adalah: "Kalau bisa
dipersulit, kenapa harus dipermudah." Pola pikir di pejabat negara
umumnya adalah: "Saya ini harus dilayani. Bukan melayani."

Kirim email ke