Sejak jaman baheula, saya kok tak pernah dengar ada kasus kebocoran dalam ujian TOEFL ya, padahal di masa lalu (ketika belum ada internet), soal2 uji TOEFL (bukan institutional TOEFL) itu dikirim jauh sekali dari headquarternya di AS.
Tadi pagi dengar berita bahwa soal2 UN pada malam menjelang UN diinapkan ke polsek-polsek, hati saya kok malah ber-debar2, kuatir ada pagar makan tanaman. Sebab walaupun dari 1000 polsek cuma ada dua-tiga polisi di polsek2 tsb yg tak jujur dan membantu orang lain utk mengkopi, mencatat atau mencoba menjawab soal2 yang menginap di polseknya, maka dg teknologi masa kini, bocoran soal2 tsb dg mudah menyebar ke mana2. Btw, kalau tak salah di AS boleh dikatakan semua siswa2 SMU bisa tamat tepat waktu. Nah waktu mau masuk perguruan tinggi, mis. mau masuk engineering, barulah mereka ikut uji GRE. Utk calon dari negara tak ber-bhs Inggris, mereka juga harus lulus TOEFL, sesuai kriteria kampus yg dilamar. Jadi tak ada UN di sono. Kalau Depdiknas ingin UN tetap ada (karena nilai proyeknya gede?), adopsi saja standar pengamanan spt dalam pengamanan soal2 TOEFL misalnya (tanpa harus menginap di polsek2), sesuai usulan rekan2 sebelumnya. Salam --- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya amini semua, Pak Putra, khususnya pernyataan yang berbunyi bahwa UN jangan dijadikan satu-satunya kriteria kelulusan. Tapi, membuat Diknas mengerti soal sederhana gini saja susahnya minta ampun kok. Kayanya yang intelektualitasnya peru diuji pake UN ini justru orang-orang Diknas yang maniak UN itu. > > manneke
