yup, saya setuju dengan manneke, forum milis memang harus diposisikan untuk
mendorong semangat saling berbagi informasi antar sesama anggota, bukan untuk
saling menguji kemampuan. soalnya kalau begitu kok jadi seperti uan, ya?
mmd
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya ingin sekali membantu menerangkan apa itu 'emansipasi' kepada Bu Cornelia
di milis ini, tapi saya merasa sangat malu melakukannya. Bayangkan, orang
secerdas dan semumpuni Bu Cornelia menyatakan tak mengerti apa itu
'emansipasi'. Lalu, apa lagi yang bisa kami katakan di sini? Mungkin ada
baiknya Anda dibiarkan mencari sendiri jawabnya, karena Anda punya akses dan
kapasitas untuk melakukan itu, daripada disuapi orang lain.
Kedua, soal Kajian Wanita. Pertanyaannya demikian polos: Mengapa wanita
perlu dikaji? Apakah wanita itu objek? Kajian wanita dipandang perlu dilakukan
karena lewat pengetahuan yang berbasis ilmiah tentang perempuan, maka patriarki
dapat dihadapi secara lebih efektif. Keilmiahan adalah senjata andalan
atriarki, yang sudah dipakai begitu lama sebagai landasan untuk meminggirkan
perempuan. Lewat kajian ilmiah tentang perempuan dari perspektif perempuan,
patriarki dapat dihadapi on equal footing. Ini membawa kita ke status perempuan
dalam Kajian Wanita. Saya pikir, feminisme termasuk yang pertama memperkenalkan
bagaimana subjektivitas dapat diletakkan sama tinggi dengan objektivitas. Dalam
Kajian Wanita, perempuan tidak mengaji dirinya sendiri sebagai objek, melainkan
sebagai bagian integral dari apa yang sedang dikaji. Pengetahuan tentang
perempuan yang dihasilkan dengan cara ini, dengan demikian, adalah suatu
pengetahuan yang sifatnya selalu 'situated', tidak bebas konteks
dan bebas nilai. Perempuan tidak memandang dirinya sendiri dari posisi yang
berjarak, yang menyebabkan adanya dikotomi subjek-objek.
Pertanyaan Bu Cornelia muncul karena Anda masih memahami 'kajian' dalam
kerangka dikotomi ini. Inipun dipercaya sebagai warisan cara berpikir
patriarkis. Dalam feminisme, istilah 'kajian', 'ilmu pengetahuan' dan 'teori'
dimaknai secara baru dengan berbasis pada perspektif perempuan. Tujuan akhir
Kajian Wanita adalah pemberdayaan perempuan, bukan objektifikasi perempuan.
ketiga, soal pemikiran Pak Iwan yang direspon sejumlah miliser (menarik
bahwa Bu Cornelia memilih memakai kata 'dihujat' dan 'menghujat'). Soalnya
sangatlah gamblang: Pak Iwan mengkambinghitamkan 'kebegoan' laki-laki pada
perempuan. Teman-teman yang merespon menolak cara pandang itu dan menunjukkan
bias apa yang ada di balik logika berpikir Pak Iwan. Bagi mereka, jika
laki-laki 'bego,' ya itu 'kebegoan' diri mereka sendiri dan tidak disebabkan
oleh perempuan. Benar kata Anda, pokok pembicaraannya sama, yakni laki-laki.
Yang berbeda antara Pak Iwan dan kami adalah PERSPEKTIF dalam berbicara soal
laki-laki itu.
Terakhir, kata 'kesetaraan' menimbulkan interpretasi macam-macam? Apa betul?
Bisa dijelaskan apa saja interpretasi macam-macam itu? Sambil diingat bahwa
kata dasar 'kesetaraan' adalah SETARA (tidak di bawah, tidak di atas).
Tanggapan Bu Cornelia saya nantikan. Setelah itu, jika masih dirasa perlu,
kita bisa bicara lebih jauh soal feminisme, stereotipe, dll. Yang penting,
diskusi dilakukan demi saling menambah pengetahuan, bukan pura-pura bertanya
dan tak mengerti, tetapi sesungguhnya cuma mau menguji orang lain.
manneke