Pak Haniwar,

Makanya uang boom minyak itu suka disebut uang panas, karena 
kejadiannya tidak terduga. Zaman Sukarno belum ada yang tahu bahwa 
minyak bumi akan menjadi komoditas yang sangat berharga. Kasarnya, 
pemerintah Sukarno itu berhutang, tapi saat itu dia belum tahu nanti 
mau bayar pakai apa.

Nigeria tahun 1965 sudah merdeka, Pak. Malaysia dan Cina, kalau Anda 
plot laju pertumbuhan ekonominya sampai 1998, bertumbuh SAMA 
cepatnya dengan Indonesia. Kita tumbuh 20 kali lipat, mereka juga 20 
kali. 

Mengapa Malaysia sekarang 3 kali lebih kaya? Karena mereka tahun 
1965 itu juga asalnya sudah 3 kali lebih kaya dari Indonesia. 
Malaysia kaya karena mereka lebih dulu mengeksploitasi timah dan 
karet. Begitu timah dan karet habis, mereka pindah ke sawit, begitu 
sawit mulai melemah, pindah ke manufacturing dan minyak bumi. 
Sekarang mereka sudah mulai mau bergeser ke industri berbasis riset. 

Pemerintah Orde Baru juga begitu. Saat harga komoditi tidak bisa 
diandalkan Suharto juga mengikuti jalan Malaysia: pindah ke 
manufacturing. Saat manufacturing kalah bersaing dengan Vietnam dan 
Bangladesh, ternyata saat ini kita masih punya minyak, gas bumi, 
batubara, sawit, kopi, kakao; bukti bahwa sumber daya alam kita 
belum habis. Sementara Malaysia mulai kelabakan karena sumber daya 
alamnya tidak sebagus kita.

Point saya adalah: sumber daya alam kita itu dari tahun 70-an sampai 
sekarang bukannya dihambur-hamburkan dengan sia-sia. Benar 
dikorupsi, tapi yang jadi jalan dan jembatan dan sekolah dan 
puskesmas banyak juga. Benar minyak kita sudah menipis, tapi banyak 
ahli ekonomi mengatakan bahwa itu akibat ketidakmampuan kita mencari 
dan menggali sendiri. Sementara orang asing tidak mau ikut mencari 
dan menggali karena pembagian keuntungannya tidak sesuai harapan 
mereka.

Argentina tahun 1965 itu negara maju, Pak, bukan negara dunia 
ketiga. Mereka dianggapnya setara dengan negara-negara Eropa. Karena 
salah urus selama puluhan tahun, sekarang mereka cuma sedikit lebih 
kaya dari Indonesia.

Andi


--- In [email protected], Haniwar Syarif 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> At 02:04 AM 4/25/2007, you wrote:
> 
> >Harga minyak ketika itu cuma $3 per barel, Pak Haniwar. Mungkin
> >kalau digalipun baru lama kemudian bisa untuk membayar utang. Boom
> >minyak baru terjadi tahun 1970-an. Uang minyak ini oleh Suharto
> >sebagian dipakai untuk pembangunan, sebagian dibiarkan dikorupsi
> >bawahannya. Jadi bukannya tanpa manfaat.
> 
> justru itu maksud aku, apalah artiny hutang orla... ketika boom 
minyak 
> terjadi langsung kaya , kalo hanya mau bayar yg segitu.. jika 
nggak di 
> korupsi,  Boom itumenyababkan naiknya harga minyaj dr USD 2 jadi 
USD 16... ,
> Dengankekayaan alam segitu nggak repot deh bayar utang.., jadi ya 
> itulah..aniwei andaipun ada yg membaik...ttg  neracanya.. itu krn 
tidak 
> membanding kan kehilangankekayaan alam yg luar biasa.
> 
> 
> tapi juga harus diingat sampai thn 62 kita masih sibuk bebaskan 
Irian, 
> sebelum itu sibuk pemberontakan lain.. jadi bisa saja giliran kita 
mau take 
> off, malah dijegal sama Amerika cs  dan  dan anteknya..
> lalu larilah kekayaan alam kita ke Freeport dan Caltex  dll
> 
> 
> >Sebagai perbandingan, tahun 1960-an itu Nigeria lebih kaya dari
> >Indonesia. Tahun 1970-an sama-sama menikmati boom minyak. Tahun 
2006
> >ini kita 25 kali lebih kaya dari tahun 1965 dan 3 kali lebih kaya
> >dari Nigeria.
> 
> data anda bagus juga, bagaimana dgn Cina.. Malaysia , ASrgentina,. 
> Brazilia..., Nigeria itu waktu masih dijajah ya ??
> 
> Salam
> 
> Haniwar
> 
> 
> Andi
>


Kirim email ke