Konsep mengutamakan keselamatan perempuan sudah ada sejak ribuan tahun lalu, Pak. Bukan karena perempuan itu lemah, tapi lebih karena peranan perempuan dalam proses reproduksi.
Bayangkanlah ratusan ribu tahun yang lalu ketika manusia cuma berjumlah ribuan orang. Kalau ada bencana melanda satu kampung, mana yang lebih baik untuk keberlangsungan penduduk kampung tersebut: menyelamatkan sepuluh perempuan dan satu laki-laki atau menyelamatkan sepuluh laki-laki dan satu perempuan? Jawaban yang benar yang pertama: sepuluh perempuan dan satu laki- laki. Dengan sepuluh perempuan dan satu laki-laki, penduduk kampung tersebut bisa kembali berkembang biak dengan cepat. Sebaliknya kalau hanya ada satu perempuan, pertumbuhan mereka terbatas dari kemampuan si perempuan untuk hamil dan melahirkan setiap tahun. Konsep seperti ini kemudian berkembang dengan segala turunannya seperti mendahulukan, membukakan pintu, menarikkan kursi, dan lain- lain. Logikanya hal seperti ini harusnya sudah tidak berlaku lagi seiring dengan terjadinya ledakan populasi manusia. Tidak penting apakah yang diselamatkan itu laki-laki atau perempuan, toh di lain kampung "It's raining women, Halleluja". Salahnya, banyak yang mengartikan tindakan seperti ini sebagai bentuk "kepahlawanan" atau chivalry dalam bahasa Aceh. James Cameron (dan penjaja budaya pop lainnya) sadar benar bahwa tatanan sosial dari ratusan ribu tahun lalu itu masih terpatri di kepala manusia baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Makanya kisah fiktif kepahlawanan Jack Dawson itu dijadikan tema utama filmnya. Jadilah para ibu-ibu berbondong-bondong terharu-biru (sambil menyeret suaminya/pacarnya) menyaksikan Jack dengan gagahnya mati demi Rose sambil menyumbang 1.8 miliar dolar Amerika ke pundi- pundi Paramount Pictures. Saya sangsi apakah film James Cameron (produksi 1997) itu akan sama lakunya seandainya Rose yang berkorban mati kena hipotermia di samudera Atlantik dan Jack yang selamat sampai ke daratan. Andi --- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bahwa yang keluar masih model perda ala Banten, ini memperlihatkan perjuangan feminis masih relevan pada saat ini. Bayangkan, sudah dilawan secara keras saja masih bisa lolos. Apalagi yang bisa terhadi pada perempuan jika seandainya perempuan sama sekali tak melawan? > > Film Titanic yang beredar di 21 awal tahun 2000-an itu cuma "rekonstruksi" kejadian kecelakaan hampir seabad sebelumnya. Dia bukan barang baru. Memang kebijakan kapten kapal saat itu adalah mendahulukan perempuan dan anak-anak. Mengapa itu terjadi? Sebab jumlah sekoci dan pelampung ternyata tak sebanding dengan jumlah penumpang. Seandainya saja jumlahnya memadai, tak perlu ada diskriminasi. Jika Anda lihat peraturan keselamatan transportasi udara dan laut pada masa kini, penumpang tak dibedakan atas dasar gendernya. Semua layak diselamatkan. > > Dari segi fisik, laki-laki memang RELATIF lebih kuat daripada perempuan. Saya katakan relatif karena sangat tergantung detil konteksnya. Laki-laki Indonesia yang beratnya 50 kg dan tingginya 165 cm mungkin tidak lebih kuat daripada perempuan Amerika yang beratnya 70 kg dan tingginya 185 cm. Kalo harus tanding nyetir truk trailer atau tank yang beratnya beberapa ton, keduanya punya kans yang sama, karena zaman sekarang kan semuanya pake power-steering? > > Dalam hal daya tahan mental, juga tak selalu perempuan lebih alot daripada laki-laki, atau sebaliknya. Semuanya ditentukan oleh sikap mental, pendidikan, dan pengalaman. Perempuan yang bunuh diri juga banyak, tak kalah banyak mungkin sama laki-laki yang kena stroke atau darah tinggi. Maka, perlu dipertanyakan apakah ini semua dipengaruhi oleh jenis kelamin? > > Jadi, mengukur kekuatan laki-laki dan perempuan tak bisa sembarangan dan berasar stereotipe. Lagian, kalo misalnya perempuan fisiknya tak sekuat laki-laki, apa berarti tak boleh main sepak bola, jadi tentara, dan kerja di konstruksi? Antara satu laki-laki dan laki-laki lain saja kekuatan fisiknya sudah sangat berbeda-beda. Maka, bagaimana kita mau menentukan bahwa fisik perempuan pasti senantiasa lebih lemah daripada fisik laki-laki? > > manneke > > Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > setuju Mas ,, bhw feminis sejati nggak mau begitu.. > > setuju juga perlunya ada aturan disaat masih marak kekerasan , kalau > ngandelin perubahan dr masyarakat sendiri jd terlalu lambat.., jadi bagus > ada komnas perempuan , uu kdrt...sayang bin ajaib yg keluar malah perda a > la Banten... > > Tapi sy kira fenomena titanic yg terjadi setahun lalu, masih juga kok > terjadi sekarang antara lain dgn semboyan lady first > > bagus juga direnungkan agar kesetaraan lebih dapat di hayati. > > ...secara umum aku yakin itu nggak terlalu salah..masing masing ada > kelebihannya... soal fisik umumnya laki laki lebih kuat.. secara > daya tahan mental umumnya sering wanita yg lebih kuat.., makanya ada > penelitian bilang, kalau laki menduda .. nggak kawin lagi.. dia segra akan > nyusul ke akhirat, sementara perempuan bisa terus menjanda berpuluh tahun > tanpa kehilangan semangat hidup.. > > Makanya lebih banyak janda yg hidup duda , dan lebih banyak duda yg kawin > lagi.dibanding janda .. smile.. > > senang juga lho , kalau ada mahluk indah , minta > perlindunganku...,sepertinya aku hebat... smile..,jadi sebaiknya jangan > semua wanita merasa sama kuat dgn laki laki.. > > Salam > > Haniwar > > At 10:20 PM 4/24/2007, you wrote: > > >Titainic itu tenggelam satu abad yang lalu, Pak. Lha ya lucu kalo > >peristiwa seabad lalu mau dipakai untuk bicara soal situasi perempuan pada > >masa kini. Sudah mengertikah kini mengapa contoh Titanic ini paling cocok > >ya di-parodi-kan? > > > >Tapi, kembali saya katakan, perempuan feminis tak akan pernah > >menuntut-nuntut ditraktir atau didahulukan dalam segala hal. Perempuan > >feminis sadar bahwa dengan semakin besarnya kebebasan diri, semakin besar > >pula tanggung jawab. Kalo yang ngaku feminis tapi kesana kemari minta > >ditraktir laki-laki melulu dengan alasan bahwa dia perempuan, ya ini > >feminis gadungan. > > > >Bahwa negara, pemerintah, penguasa, hukum masih terus mau memperlakukan > >perempuan sebagai makhluk yang sama tak berdayanya dengan anak- anak, ini > >bukan hasil tuntutan kaum feminis, melainkan kelanjutan dari pola pikir > >patriarki. > > > >Tapi, dalam masyarakat yang masih belum setara, yang masih marak dengan > >kekerasan dan peminggiran terhadap perempuan, maka negara dan perangkat > >hukum wajib memberikan perlindungan kepada perempuan. Contohnya? Ya di > >negara kita ini. > > > >manneke > > > > > > --------------------------------- > Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot with the All-new Yahoo! Mail > > [Non-text portions of this message have been removed] >
