kita mestinya tetap percaya, setiap gerakan memiliki ukuran-ukuran yang jelas 
mengenai seberapa jauh para aktivisnya tetap sesuai dengan visi-misinya. Nah, 
lontaran ide, gagasan ataupun kritik dan suara-suara dari berbagai kalangan 
harus dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam melakukan refleksi untuk kembali 
mengukur masihkah diri kita ada dalam tapal batas yang telah digariskan bersama 
oleh para aktivis dan oleh idealitas-idelaitas yang dikembangkan oleh 
masyarakatnya.

salam,

mmd

Mukhotib MD
Jl. Raya Sandon No. 52 Secang, Magelang, 56195
Telepon: 0815-685-0367
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website: www.mukhotibmd.vze.com

Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Sekali lagi, coba deh pelajari LSM perempuan dulu, jangan
 main tancap gas aja! Siapa ikut urun rembug merumuskan
 UU Perdagangan orang yang sekarang sudah disahkan? Siapa
 yang turun ke jalan sampai para akademisi perempuan (waktu itu
 aksi seribu payung mendesak UU KDRT di sahkan)?
 
 Siapa yang menerima pengaduan-pengaduan korban KDRT?
 Siapa yang membuka shelter dan mengajak kerjasama pemeerintah dan Mabes Polri
 untuk ikut memberantas perdagangan orang?
 
 Semua perempuan dari kelas manapun kami bela bila mengalami
 penindasan. Kalau udah aktivis perempuan pasti langsung
 negatif aja sih?
 
 Baca dong, baca. Di kompas juga sering kok beritanya,
 termasuk kegiatan LBH APIK Jakarta.
 
 Mariana
 

Kirim email ke