Bung Motulz ... anda benar. bagi saya mengajak anak2 atau membiasakan ke mall dan mall lagi, pelan tapi pasti anak2 atau generasi muda pada umumnya akan tumbuh menjadi konsumtif. lihat saja, saat ini banyak generasi2 muda yang bisa seharian nongkrong di mall. makanya ada istilah anak mall. dengan nongkrong di mall, tidak berbelanjapun pasti keluar uang. pastinya telpon2an, duduk di cafe dan belum lagi yang bawa kendaraan, bayar parkirnya pun jadi biaya lagi ...
waktu saya masih remaja (thn.65.an) tidak ada mall2 an, jadi biasanya saya diajak oleh orang tua kekebun binatang, taman lalu-lintas (diBdg). Salam ----- Original Message ---- From: /\/\ o + u |_ z <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, 26 April, 2007 10:40:47 AM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana Saya justru setuju dan sepaham dengan Pak Enrique, saya pernah menulis ke KOMPAS hal senada, berjudul : Enjoy Jakarta = Enjoy Mal. Saya juga setuju bahwa negara kita butuh lahan penyerap tenaga kerja dan hiburan gratis (supaya gak stress) namun pemilihan mal sebagai solusinya saya rasa merupakan solusi yang tidak pas, mengapa? 1. Mal ini merupakan sarana konsumtif, atau dengan kata lain sarana yang dibangun memang untuk belanja, kalaupun bisa digunakan untuk sight-seeing itu benar namun tidak semua kalangan bisa menikmati sight-seeing di mal. Dari konsepnya saja, mal tidak menyediakan sarana akses untuk public transportation (bus) karena memang untuk memilah pengunjung (lihat buku : Call Of The Mall - Paco Underhill) 2. Mal dibuat memang untuk masyarakat urban, masyarakat patembayan, yang sesama tetangganya tidak akrab, maka sarana mal bisa dijadikan sarana sosialisasi untuk masyarakat tersebut (kafe) 3. Pada awalnya, mal diciptakan di Amerika sebagai solusi kawasan belanja dan rekreasi tanpa terganggu oleh cuaca (hujan / salju), makanya dibuat dalam satu atap. 4. Public space yang dimaksud Pak Enrique saya rasa memang seperti konsep Alun-alun. Kita semua tahu bahwa hampir banyak di kota-kota (peninggalan zaman kolonial) musti ada alun-alun. Kalau kita ingat dulu, di alun-alun itu ada yang namanya pagelaran musik, jajanan, jualan, atau sekedar duduk-duduk dan lihat-lihat. Jakarta punya monas, tapi fungsinya sudah gak jelas. Masyarakat Jakarta justru dididik untuk terbiasa bersosialisasi di mal. 5. Lalu pejalan kaki (pedestrian) , Jakarta memang kota yang nampak tidak peduli dengan pejalan kaki. Trotoar? sudah beralih fungsi jadi tempat jualan dan parkir ojeg. Belum lagi yang disebut akses, dari satu tempat ke tempat lain pun nampaknya sulit ditempuh dengan jalan kaki, harus paling tidak naik Bajaj atau ojeg. 6. Minimnya taman-taman kota yang berfungsi dengan baik. Taman kota cuma dipakai buat tempat mesum. Padahal taman kota adalah wilayah udara paling bersih ditengah kota, dengan kata lain sebagai recovery zone. Kita bisa dengan nyaman duduk, baca buku, meeting, dan istirahat di taman kota. Kebayang deh kalau taman kota disediakan fasilitas wi fi. 7. Terakhir (yang belum dilihat Pak Enrique mungkin) adalah Jakarta sebagai ibukota negara yang tidak punya pantai sebagai public space, padahal Jakarta berlokasi ditepi pantai. Untuk hanya melihat pantai, orang Jakarta harus mengeluarkan kocek yang mahal. Semua garis pantai Jakarta tertutup untuk warganya yang ingin sekedar duduk dan menghirup angin laut. Padahal kita semua tahu bahwa udara pantai itu dikenal bagus untuk pernafasan. Bagi kaum manula, ini merupakan tempat wisata yang baik. Sayangnya masyarakat Jakarta tidak memiliki akses tersebut. Iri dengan warga anyer yang hanya tinggal menyebrang jalan mereka sudah bisa rekreasi gratis di pantainya. Nah.. bagaimana pendapat yang lain? Salam Motulz Warga Jakarta
