Dear all

ya pendapat pak motul dan pal Jhon gak salah. dari
mana kita melihatnya,dari sudut pandang penariakan
tenaga kerja juga bisa, dari adnya temapat hiburan
yang murah juga bisa (jalan2 ke Mall, gak usah beli,
lumayan buat cuci mata, paling juga keluar uang buat
transport).

tapi permasalahnya apa cuma itu, kalo saya melihat
dari sisi yang lain, dalam bayangan orang kecil kaya
saya, ato orang pinggiran, persepsi Mal itu buat
orang2 kelas atas,karna barang2 yang dijual kali.
enaknya beli barang ke pedagang sayur keliling ato di
pasar deket rumah. pembangunan mal bagi saya hanya
semakin memisahkan antara gologan masyarakat, semakin
besar kesenjangan antara masyarakat Indonesia, bukan
apa2 kalo saya belanja ke orang pasar tradisional
berarti perputran uang itu ke orang kecil2 juga(wong
rata2 yang jualan di pasar tradisional juga bukan
orang borjuis) kan lumayan lah buat mereka bisa
sekolahin anak mereka. selain itu gak jarang
pembangunan mal itu menggusur adanya pasar tradisional
ato perkampungan disekitar mal itu ato bahkan dibangun
di jalur hijau(ijinya kan bisa di beli,apa sih yang
gak bisa di beli di Indonesia)

bagi saya mal itu merupakan suatu simbol kapitalisme
yang tidak berpihak pada "orang kecil". jadi saya
berpikiran kaya gini. 

best regard
Adrian Brahma 


--- "/\\/\\ o + u |_ z" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Pak John.. saya lihat pandangan Bapak atas Mal
> sebagai penyerap tenaga kerja masuk akal koq. Tidak
> ada yang salah dengan cara tersebut, nyata-nyata koq
> kehadiran mal memang bisa menyerap tenaga kerja.
> Hanya.. apa iya cuma mal solusinya?
> 
> Kita semua tahu dengan istilah "proyek mercusuar",
> yaitu proyek yang dibuat pemerintah untuk bisa
> menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya. Di Amerika
> pun mereka pernah melakukannya, yaitu saat
> pembangungan WTC dan Chrysler Tower. Di Indonesia
> Soekarno pernah melakukannya saat pembangunan ISTORA
> SENAYAN.
> 
> Saya rasa, pembangunan jalan tol dalam kota bisa
> menyerap banyak tenaga kerja juga. Waktu pembangunan
> bandara Soekarno-Hatta juga banyak menyerap tenaga
> kerja. Nah pertanyaannya.. seharusnya lah
> pembangunan-pembangunan itu terus berlangsung,
> sehingga akan banyak tenaga kerja yang terserap.
> 
> Untuk pekerja mal tentu memang menyerap tenaga
> kerja, tapi tentu tidak semua bisa jadi pegawai mal.
> Pegawai mal itu paling tidak harus menarik. Berbeda
> dengan departemen store. Bayangkan produk Dolce &
> Gabana, tapi yang jaga cowok berparas gak keren..
> Paling ngga mungkin lulusan SMA lah.
> 
> Sementara.. jumlah pengangguran paling banyak
> mungkin lulusan SMP, gak akan mungkin bisa jadi
> pegawai / pekerja mal. Sementara untuk bekerja
> sebagai kuli pembangunan apartemen di kawasan Pondok
> Indah, gak ada seleksi wajah. Nah.. mana yang bisa
> lebih banyak menyerap tenaga kerja?
> 
> Oh iya.. supaya tidak salah juga dalam persepsinya,
> dari yang saya baca tentang konsep MAL, kita bisa
> kenali dengan ciri-ciri :
> 
> 1. Ada banyak lobby (tempat men-drop penumpang)
> 2. Akses parkir agak jauh tidak apa-apa (karena
> asumsinya ada supir)
> 3. Hanya lantai dasar yang punya kaca jendela
> (etalase), untuk lantai atas tidak ada jendela (full
> tembok)
> 4. Ada ruang public (plaza) yang bisa digunakan
> untuk event temporer
> 5. Terdiri dari banyak departemen store, bank,
> tempat olah raga, dan bioskop
> 6. Tidak ada akses kendaraan umum (kalaupun ada itu
> angkutannya yg nakal)
> 7. Mal itu dibuat untuk masyarakat kelas B ke atas,
> kalaupun kelas C datang ya boleh-boleh aja
> 
> Nah.. jika melihat ciri-ciri itu, jelas bahwa mal
> dibuat memang untuk "masyarakat" kelas atas saja.
> Kalau pun akhirnya di pinggiran Jakarta (CIbubur,
> Bekasi dll) bikin mal juga.. saya rasa konsepnya
> ikut-ikutan mal Jakarta saja. Mungkin sebetulnya
> juga cuma departemen store berukuran mal :) Toh gak
> akan ada yg komplain apakah itu namanya mal atau
> departemen store.
> 
> Ada yang punya masukan lain?
> Motulz
> -anak mal-
> 
> 
> john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak
> Halim Yth,
> Logikanya begini :
> Katakan saja sebuah mal ukuran sedang (4 lantai)
> dapat menampung 200 toko kecil, diluar anchor
> tenant. Sebuah toko kecil dengan space 21 sqm dapat
> menyerap tenaga kerja (salesman/salesgirl) kira-kira
> tiga orang. Jadi hitungan kasar, tenaga kerja yang
> dapat terserap sebanyak 600 orang.
> Ini belum termasuk tenaga kerja di bidang security,
> parkir, kebersihan (janitor) dll.
> Belum bisnis baru (informal) di sekitar mal yang
> juga tumbuh, misalnya warung kaki lima, tempat kost
> (buat karyawati), tukang ojek, dll.
> 
> Salam.
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke