Oleh Indra J Piliang 
Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/27/opini/3483813.htm
=======================

Ranah politik kian menjadi arena paling kreatif dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.

Fakta ini berkebalikan dengan perkembangan sejak tahun 1971 saat
pemerintah pelan-pelan mengarantina politik demi pembangunan ekonomi.
Saat pertumbuhan ekonomi melamban, aktivitas politik bergerak kencang.
Banyak orang memperjuangkan kepentingan ekonomi lewat ajang politik.
Hubungan timbal balik pun terbangun.

Bangsa yang hanya ada dalam imajinasi kolektif kian terluka oleh
ketidakberesan pengelolaan pemerintahan. Negara seakan meninggalkan
tujuan kelahirannya sekaligus buta atas masa depan. Kalaupun ada visi
Indonesia 2030, tampak negara diurus seperti mengelola perusahaan.
Padahal, negara bukan perusahaan, melainkan tempat bertemunya beragam
individu dengan pola pikir dan kultur berbeda.

Negara muda

Sebagai negara, Indonesia bisa disebut negara muda, muda dalam usia.
Jika dikaitkan sistem pemerintahan tradisional, Indonesia sudah lama
hidup dengan bentuk-bentuk kerajaan. Indonesia terjalin dari
negara-negara tua yang mati akibat kekacauan, perang, dan kekalahan.
Namun, dalam bentuk modern, negara Indonesia masih berusia muda, lebih
muda lagi bila dikaitkan dengan demokrasi.

Dalam pola pikir generasi kini, demokrasi adalah syarat hidup dari
negara. Kita lihat banyak kaum muda memasuki beragam pekerjaan. Ada
yang berhasil, ada yang gagal. Begitu pula bidang pendidikan dan ilmu
pengetahuan. Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan adalah tipikal anak
muda zaman baru itu.

Partahi adalah contoh anak muda yang tidak mendapat sentuhan negara.
Ia mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya, yang salah satu bukan
ibu kandungnya. Partahi yang mengejar impian ke negeri orang ternyata
menemukan situasi yang tidak bisa dipercaya, ditembak anak muda negeri
lain yang sedang kehilangan kepercayaan. Andai Partahi tidak mati, ia
akan kembali ke Indonesia dan membangun negeri yang sedang runtuh ini
untuk mencapai tujuan kemanusiaan. Ia potensial menjadi seorang
pemimpin besar.

Pemimpin tua

Mayat Partahi datang saat gelombang ketidakpercayaan kepada kaum muda
datang dari para pemimpin tua. Betul, masih ada para pemimpin tua yang
kaya pengalaman dan ilmu pengetahuan, tetapi lebih memilih menjadi
pertapa. Sedangkan mereka yang sedang memimpin lembaga-lembaga formal
tampak tidak banyak memberi kesempatan kepada para calon pemimpin
potensial yang mampu mengerti cita-cita Partahi.

Kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda begitu dalam.
Penguasaan terjadi pada banyak bidang, tidak hanya pada pemerintahan,
organisasi sosial politik, tetapi juga memasuki wilayah kampus, bahkan
menjangkau wilayah masyarakat sipil. Kesadaran bahwa dunia anak-anak
muda yang kelak menggerakkan zaman tidak juga hinggap.

Tidak heran jika para menteri di kabinet sakit-sakitan, mengingat
beban berat pekerjaan. Tidak juga membingungkan jika dunia politik
terasa jauh dari aspirasi kaum muda, bahkan hanya mempertontonkan
pertengkaran memabukkan dalam mempertahankan kekuasaan. Kita jarang
menemukan pemimpin yang sering tersenyum dan tertawa, apakah ia
oposisi atau penguasa, lantas memberi contoh kepada negeri ini akan
pentingnya etika.

Yang ditemukan adalah contoh-contoh mengerikan. Tentang korupsi dan
kelaparan. Tentang ideologi dan kekerasan. Tentang peluru dan nyawa.
Dan tentang kepurapuraan betapa mereka memiliki kepedulian. Inspirasi
menjadi hilang di tengah banyak kaum demagog melontarkan orasi. Jarang
ditemukan politikus mampu berpuisi dan menari. Kata-kata menjadi tidak
lagi berkerangka, terbang melayang diembus tumpukan berita yang datang
silih berganti setiap pagi, siang, petang, dan malam hari.

Beri kesempatan

Akankah negara muda ini mampu bertahan dengan aneka persoalan? Ataukah
ia tenggelam saat inspirasi dan imajinasi kaum muda diremehkan?
Jawaban atas pertanyaan ini membawa kita kepada siapa pemimpin yang
bisa mewujudkan. Jika pemimpin itu adalah mereka yang mengendalikan
kekuasaan, terasa skeptisisme yang menguat di kalangan kaum muda.
Negara muda yang dipimpin para tetua, ibarat rumah tembok yang
disangga kayu hutan yang lapuk.

Tentu kita tak hendak menggugat kaum tua negeri ini. Kita hanya
memberi tahu, ada saatnya untuk berkuasa dan ada saatnya memberi
kesempatan anak-anak muda untuk belajar berkuasa atas pengawasan dan
nasihat kaum tua. Membangun jembatan antargenerasi adalah bagian
penting kesadaran berbangsa dan bernegara, selagi masih banyak soal
yang layak diperdebatkan.

Kita tahu, bibit-bibit revolusi tidak ada di negeri ini. Mungkin
revolusi hanya ada dalam pikiran, berupa revolusi pemikiran. Dalam
pemikiran itu, bergema tuntutan lewat iklan, betapa anak muda yang
tidak lagi dipercaya sedang menggerutu. Banyak yang memilih
menyendiri, tetapi ada juga yang membunuh diri sendiri. Ada pemikiran,
negeri lain lebih bisa menjaga mimpi anak-anak muda negeri ini.

Jika para pemimpin tua negeri ini percaya bahwa masih ada masa depan,
berilah kaum muda kesempatan. Dasarnya bukan rasa kasihan, tetapi
karena ada prestasi yang mungkin belum dipahami kalangan tua. Di dunia
sepak bola atau film, di negeri- negeri atas langit, ada penghargaan
bagi anak-anak muda pencetak rekor. Di negeri ini anak- anak muda
perfilman telah mengembalikan piala yang diperoleh karena tahu ada
"sesuatu" di balik pemberian itu. Akankah itu tetap menjadi lingkaran
setan?

Krisis kepercayaan sedang menjadi endemik saat negara muda ini ada di
tubir jurang kehancuran.


Kirim email ke