Saya setuju dengan anda Pak. Selain trans 7, la tivi juga menyajikan acara serupa dengan pembawa acaranya seorang gadis muda. Saya suka dengan alam, dan istri saya juga suka dengan acara satwa liar. Tapi sayang acara-acara yang dibuat oleh stasiun TV lokal kok rasanya asal jadi, dan banyak jadi-jadiannya (dibuat buat). Pembawa acara terlihat tidak mengerti sama sekali mengenai alam liar, tidak mengerti bagaimana seharusnya berhadapan dengan hewan di alam liar. Cuma bisa berteriak-teriak seperti orang kampung baru ketemu MALL di jakarta. Terakhir yang saya tonton di lativi, mengenai Penyu yang baru bertelur. Pembawa acara sibuk berteriak-teriak lari sana sini mengejar sang penyu yang harusnya mencari tempat yang tenang untuk bertelur. Istri saya sampai gemas dan bilang ( ini pembawa acara kok kaya orang kampung. ). Penonton saja terganggu dengan sikapnya, apalagi si penyu itu ?
Masukan buat stasiun TV yang mau mengadakan acara-acara serupa. Alam liar itu memang menarik. Sangat menarik malah. Dan jangan rusak semua keindahan dan kecantikan alam dengan tingkah pembawa acara yang gak ngerti apa apa. Kami ini bosan dan muak lihat acting para aktor dan aktris yang gak masuk akal di sinetron2 aneh yang ada. Jadi kalau bikin acara tentang alam, ya gak usah dibumbui dengan akting yang aneh-aneh lagi. Yang wajar ajah. Dan pembawa acaranya pilih yang memang mengerti tentang alam liar. Regards, Paulus T. On 4/26/07, anwar siswadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Badut di JP > > Seekor ular besar dan panjang, merayap di tanah dan rerumputan lereng > sebuah perbukitan atau gunung di Sulawesi Utara. Warnanya coklat, motif > sisiknya bagus seperti batik. Dari jarak dekat, makhluk menakjubkan itu > adalah piton atau sanca adanya. Gerakan melatanya tenang, saat Trans 7 > menayangkannya di acara Jejak Petualang, Senin sore (23/04/07). > Tapi keindahan tak berlangsung lama. Sesosok badut tiba-tiba datang > mengganggu keelokan satwa itu. Berkaos Jejak Petualang, seorang laki-laki > berlari dan berteriak-teriak ke arah sang ular yang berada dekat sisa > sebatang pohon lapuk. Seperti orang kesetanan, bongkahan pohon tua > disingkirkan hingga terguling bersama sisa akar dan tanah yang menempel. > Ekor ular segera diraih sambil terus berteriak-teriak. Tak kuat menarik, > lelaki itu beralih menangkap leher dan mulut sang piton berkali-kali. > Tak cukup mengganggu dengan peran kesurupan, leher ular dicekiknya, > hingga mulut sang piton membuka. Kemudian mereka bergumul seperti ada yang > perlu menaklukkan dan ditaklukkan. Menarik? Lebih tepatnya menjijikkan. > Patut disayangkan, tayangan semenarik Jejak Petualang pada awal-awal > episodenya, kini harus tercemar oleh acting pembawa acara yang dangkal > pengetahuan agama, konservasi dan satwa liar seperti itu. Ular yang sedang > hidup tenang di alamnya dan tak mengganggu manusia, disiksa sedemikian rupa > agar tayangannya terlihat menarik di mata penonton yang jauh lebih pintar > daripada pembuat dan pembawa acaranya. > Alangkah baiknya jika JP dihentikan sementara dan Trans 7 mencari > kembali awak produksinya yang lebih berwawasan jika Heru Gundul dan > rekan-rekan di Jejak Petualang masih gemar bertingkah bodoh dan menyiksa > sesama makhluk hidup yang ditemuinya di alam raya. Tabik!
