Ga  juga, bahasa Indonesia kalau bilang keatas - naik, kalau bilang 
ke bawah - turun - , kalau bilang ke dalam - masuk , kalau bilang 
keluar - apa coba?


--- In [email protected], "si_andi" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia tidak 
banyak 
> membedakan jender.
> 
> Kita punya adik dan kakak, tapi tidak brother dan sister.
> Pria dan wanita, bukan Man dan wo-Man
> Kita tidak punya he dan she, tapi cuma punya satu kata ganti dia
> Kita tidak punya kata ganti untuk orang untuk benda. Jadi tidak 
> peduli apakah sebuah kapal harus dipanggil he atau she atau it.
> Tuhan pun tidak punya jenis kelamin dalam bahasa Indonesia, tidak 
> seperti bahasa Inggris atau Arab yang "terpaksa" memakaikan jenis 
> kelamin laki-laki untuk Tuhan.
> 
> Kalau Anda perhatikan kata-kata yang dikeluhkan Bapak Jos 
tersebut, 
> semuanya kata-kata bentukan yang dikeluarkan baru-baru ini saja, 
> mungkin agar terdengar lebih cantik saja, tapi sebenarnya tanpa 
> sengaja memasukkan unsur baru yang tidak ada dalam bahasa Melayu, 
> unsur jender.
> 
> Kita sebenarnya tidak perlu repot bilang siswa atau siswi karena 
> bahasa Indonesianya adalah pelajar, tidak perlu pusing apakah dia 
> aktor atau aktris karena bahasa Indonesianya pelakon, tidak perlu 
> bingung apakah dia olahragawan atau olahragawati, dari dulu saya 
> selalu bilang atlet. Sekarang pun saya jarang bilang wartawan. 
Ipar 
> saya yang jadi pegawai (bukan karyawan atau karyawati) Femina, 
tiap 
> kali saya tanya profesinya jawabannya mantap: jurnalis. Apakah 
> seniman itu khusus laki-laki, sehingga perlu dicarikan padanannya 
> seniwati? Tidak tahu. Saya tidak ingat apakah ada kata-kata lain 
> dalam bahasa Indonesia yang menggunakan akhiran -man untuk 
> menunjukkan jender.
> 
> Tulisan ini ditambah lagi dengan tuduhan bahwa lelaki kurang peka. 
> Tidak juga. Apakah perempuan lebih tanggap memikirkan kapan pakai 
> karyawan kapan pakai karyawati? Lebih tepat pemakai Bahasa 
Indonesia 
> tidak pernah diajarkan membedakan kata mana untuk laki-laki, kata 
> mana untuk perempuan. Perhatikan saja orang Indonesia yang baru 
> belajar bahasa Inggris: biasanya mereka suka campur aduk bilang he 
> atau she, karena dalam Bahasa Indonesia kita terbiasa bilang "dia" 
> tanpa perlu memikirkan apakah dia laki-laki atau perempuan.
> 
> Jadi apakah pemakai Bahasa Indonesia kurang peka terhadap 
pembedaan 
> jender? Pertanyaannya mungkin perlu dikembalikan ke penulisnya: 
Apa 
> perlunya mempermasalahkan jender dalam bahasa yang dari sononya 
> tidak peduli jender?
> 
> Andi
> 
> 
> --- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
> <agushamonangan@> wrote:
> >
> > Oleh JOS DANIEL PARERA 
> > Munsyi 
> > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/27/utama/3482208.htm
> > ==========================
> > 
> > Masih perlukah kepekaan jender dalam bahasa? Pertanyaan itu 
muncul
> > dari seorang kawan saya. Saya tak tahu apakah dia mau berkelakar 
> atau
> > bersungguh. Ia membaca dalam sebuah berita: "Ratna Sarumpaet 
> sebagai
> > seorang seniman... menentang keras..."
> > 
> > Jadi, Ratna laki-laki?
> > 
> > Tentu saja saya jawab "bukan". Ia seorang perempuan.
> > 
> > Mengapa ia disebut seniman dan bukan seniwati?
> > 
> > Ya, begitulah orang Indonesia. Sekarang sedang gencar perjuangan
> > emansipasi wanita dan kesederajatan antara laki-laki dan 
perempuan.
> > Bahasa pun ikut beremansipasi dan bersederajat. Akan tetapi, para
> > pemakai bahasa, khususnya kaum lelaki, sering kurang peka 
terhadap
> > perkembangan ini dalam berbahasa. Perhatikan saja pengingatan 
Metro
> > TV: "Wartawan Metro TV tidak menerima uang atau pemberian apa 
> pun...
> > dalam tugas jurnalistik." Pengingatan itu pun tidak peka jender.
> > Bukankah pewarta Metro TV terdiri dari laki-laki dan perempuan 
> alias
> > wartawan dan wartawati? Kalau mau singkat, sebut saja pewarta.
> > 
> > Ada ancaman bom di Bank Indonesia. Ternyata para pegawai 
perempuan 
> di
> > sana tidak gentar karena mereka tidak berlarian keluar dari 
gedung 
> BI.
> > "Para karyawan Bank Indonesia berlarian ke luar gedung," 
demikian 
> isi
> > berita televisi. Mengapa tidak dipakai "para pegawai Bank 
> Indonesia"?
> > Tidak heran jika di jalan kita menjumpai "Bus Karyawan" yang 
> membawa
> > rombongan pegawai perempuan alias karyawati. Aneh tapi nyata, bus
> > karyawan berisikan karyawati. Pada tahun enam puluhan malah 
> terdapat
> > bus pegawai untuk pegawai negeri sipil.
> > 
> > Tertulis pengumuman: "Penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran... 
> untuk
> > perguruan tinggi..." Jadi, perguruan tinggi tersebut tidak 
menerima
> > mahasiswi. Seperti sekolah tinggi filsafat dan teologi Gereja 
> Katolik
> > yang hanya menerima mahasiswa untuk calon pastor atau iman atau 
> romo saja!
> > 
> > Orang Indonesia menerima emansipasi dan kesetaraan lapuan dan
> > mempraktikkannya dalam berbahasa. Secara frase memang ditemukan
> > pengusaha dan wanita pengusaha, pelacur dan wanita pelacur, 
polisi 
> dan
> > polisi wanita (dan bukan wanita polisi).
> > 
> > Di sini saya tidak menggunakan kepekaan kelamin atau kepekaan 
seks
> > sebagai padanan kepekaan jender. Kata kelamin dalam bahasa 
Malaysia
> > berarti ’pasangan suami istri’.
> > 
> > Akhirnya pada Rabu 28 Maret yang lalu pecatur Irene Kharisma 
> Sukandar
> > dan peboling Putty Insavilla meraih predikat atlet putri terbaik 
> pada
> > acara penganugerahan tahunan olahragawan terbaik. Bukankah mereka
> > berdua olahragawati?
> > 
> > Pertanyaan yang muncul ialah apakah akhiran -wan dalam bahasa
> > Indonesia masih mampu berfungsi dan berdaya sebagai pembeda 
jender
> > laki-laki dan perempuan dengan akhiran -wati. Ternyata pemakai 
> bahasa
> > Indonesia kurang peka lagi terhadap pembedaan jender secara
> > morfologis. Itulah ciri khas Bahasa Indonesia.
> >
>


Kirim email ke