Sering kali, kalau me-reply postingan yang kontroversial, saya suka terlalu 
semangat, dan kalo sudah begitu, apa yang ada di pikiran ya itulah yang 
mengalir keluar. Maka, bisa jadi kadang terasa rada kasar. Ini akibat terlalu 
semangat 45, bukan karena benci sama mitra diskusi. 
   
  Saya rasa Bu Yuli dan Pak Andi pun kadang juga mengalami situasi yang sama. 
Tapi, seperti dikatakan Pak Andi, baik saya, Pak Andi sendiri, maupun Bu Yuli, 
pasti pada dasarnya tetap menghormati semua pihak yang terlibat dalam 
perdebatan/diskusi. Jadi, urusan ini saya mohon jangan diperpanjang lagi, dan 
mari kita saling memaafkan saja.
   
  Ke depan, kita masih akan terus berdiskusi tentang macam-macam isu. 
Panas-panasan juga masih akan tetap terjadi, tapi lewat kebersamaan yang intens 
dalam FPK ini, lambat laun kita mengerti karakter masing-masing dan bisa saling 
memaklumi.
   
  Yang unik sekaligus aneh di FPK ini adalah bahwa perbedaan justru makin 
mendekatkan kita. He he he..., tul nggak?
   
  manneke

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bu Yuli,

Saya menghormati Pak Manneke dan saya menduga Pak Manneke juga punya 
respek yang sama kepada siapapun lawan diskusinya.

Kalau tidak setuju dengan satu pendapat saya biasanya membantah 
dengan fakta atau diam saja (kalau ilmu saya sudah tidak memadai). 
Tidak pernah sampai menyuruh mengacuhkan, apalagi sampai 
bilang "anjing menggonggong kafilah berlalu". Dalam nilai yang saya 
pegang dalam diskusi, kata-kata begitu adalah the ultimate insult.

Dari kemarin Anda sibuk menyimpulkan sendiri isi kepala saya: mulai 
dari "meragukan keberadaan perempuan", "kayaknya perempuan gak punya 
banyak pilihan", lalu mengelompokkan saya ke dalam "klub" bikinan 
Anda sendiri. Terserah Anda sajalah. Jujur saja, saya tidak berminat 
berdebat dengan Anda dan saya tidak peduli apa pandangan Anda 
tentang saya. Saya lebih senang diskusi dengan yang saling 
menghormati saja.

Andi

Kirim email ke