Memang sudah seharusnya membuat panas panasan, biar otak ini tidak
beku.....keluarkan semua analisa, sintesa dan roti panggangnya......jangan cuma
setuju dan harap maklum saja....mendingan gebug gebugan di milis FPK dari pada
hancur hancuran di jalanan.
Sallam,
Maulana Raja Aisyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kita kadang memaksakan diri agar orang lain tahu bahwa diri kita
banyak tahu dengan mengomentari semua pandangan orang dengan justifikasi dan
stigmatisasi. Inilah akibat pengagungan pada IQ semata. Padahal dalam diri
manusia ada EQ dan SQ yang sering terlewatkan akibat superioritas IQ. EQ dan SQ
mengajari kita untuk bersikap arif dan bijak. Menurut saya dalam diskusi FPK
ini perlu IQ, EQ, dan SQ.
salam
raja
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sering kali, kalau me-reply postingan yang kontroversial, saya suka terlalu
semangat, dan kalo sudah begitu, apa yang ada di pikiran ya itulah yang
mengalir keluar. Maka, bisa jadi kadang terasa rada kasar. Ini akibat terlalu
semangat 45, bukan karena benci sama mitra diskusi.
Saya rasa Bu Yuli dan Pak Andi pun kadang juga mengalami situasi yang sama.
Tapi, seperti dikatakan Pak Andi, baik saya, Pak Andi sendiri, maupun Bu Yuli,
pasti pada dasarnya tetap menghormati semua pihak yang terlibat dalam
perdebatan/diskusi. Jadi, urusan ini saya mohon jangan diperpanjang lagi, dan
mari kita saling memaafkan saja.
Ke depan, kita masih akan terus berdiskusi tentang macam-macam isu.
Panas-panasan juga masih akan tetap terjadi, tapi lewat kebersamaan yang intens
dalam FPK ini, lambat laun kita mengerti karakter masing-masing dan bisa saling
memaklumi.
Yang unik sekaligus aneh di FPK ini adalah bahwa perbedaan justru makin
mendekatkan kita. He he he..., tul nggak?
manneke