He he he, itulah daya tarik Hollywood, Pak. Kalo filmnya gak ada
selingkuh-selingkuhnya, mereka takut gak laku. Btw, waktu nonton Titanic, saya
bareng pacar, jadi tak terlalu konsentrasi nontonnya. Bukan karena saya ngelaba
atau aji mumpung, tapi sibuk memberikan tisue kepada pacar saya yang sudah
banjir air mata. Eh, saking sibuknya bagi-bagi tisue, tak terasa air mata saya
sendiri netes. Dasar latah!
Tapi, soal selingkuhan ini, yang harusnya Anda omeli ya si Cameron itu. Kan
Winslet dan DiCaprio cuma nurut ama sutradara aja, disuruh ini dan itu mau aja.
manneke
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah, Anda nonton beneran gak sih? Jangan-jangan pas film main Anda
lagi bikin film sendiri :)
Rose itu dipaksa Ibunya menikahi si Cal Hockley demi uang. Setelah
sadar bahwa orang yang akan dinikahinya itu ternyata tidak bisa
mengakomodasi impiannya yang ingin bebas itu, apa yang dilakukannya?
Menentang suaminya? Tidak, Pak. Rose memilih bunuh diri loncat dari
kapal; dengan demikian menyakiti ibunya dan tunangannya demi
menyelesaikan konflik batinnya sendiri. Sayang (atau untung) ada
Jack yang melihat dan menggagalkannya.
Kapan akhirnya dia "berani menentang suaminya"? Setelah ketemu dan
jatuh cinta dengan Jack. Dalam pandangan Anda itu namanya berani.
Dalam pandangan saya itu namanya selingkuh, Pak.
Mungkin si Cal ini orang yang pengecut. Tapi dia juga korban
persekongkolan Rose dan Ibunya; membiarkan dirinya tergoda oleh
kecantikan Rose, padahal dia cuma tengah dimanfaatkan demi hartanya.
Menurut saya tokoh di cerita James Cameron itu tidak ada yang bisa
dijadikan panutan. Tidak Rose, tidak juga Jack. Kalau si Jack ini
benar ksatria, dia akan menunggu Rose memutuskan ikatan
pertunangannya dengan Cal sebelum berasyik maksyuk. Sebegitu banyak
perempuan di dunia, ngapain juga tidur dengan tunangan orang lain?
Andi