Salam, buat para netters.

Saya urun keisengan kecil. Barangkali bisa menjadi
energi buat yang lain. Seringkali kinerja di
organisasi dilihat sebagai  transformasi input-output
yang dapat dikendalikan dengan 'semata-mata"
mengotak-atik komponen-komponen di dalam organisasi.
Dalam konteks pemahaman ini, proses transformasi
dibuat melalui upaya pengendalian-pengendalian.
Barangkali contoh ekstreemnya  proses pengendalian
yang paling manjur dengan  menciptakan rasa
takut.Contohnya  bhubungan antara
senior-junior,gerakan tutup mulut atas nama kekompakan
dan solidaritas (bukan nano solidaritas neeh :) di
IPDN

Mungkin idealnya  berubah bukan karena mampu keluar
dari ketakutan. Namun proses transformasi  dikarena
adanya makna bersama  yang dibawa oleh aktor-aktor di
dalam organisasi untuk membentuk blue print
organisasi.Namun demikian jangan dibayangkan aktor ini
bermain-main  sendiri untuk memonopoli makna dan
tafseirnya.Melainkan pertukaran makna dengan kemampuan
segenap anggota organisasi (individually dan
collectectively)untuk sense making the environtment.
Upaya ini dilakukan oleh organisasi  yang disebut 
quantum organization, ketika dalam batas-batas yang
nyaris cheos,justru organisasi mampu mengendalikan
diri bersanding dengan upaya inovasi.Mungkin fenomena
mestakungnya Johanes Surya ini muncul ketika  anggota
organisasi mampu menemukan  new horizon of meaning
untuk sense making lingkungan barunya? Susahnya kalau
sense making kita digerakkan oleh ketakutan kehilangan
jabatan atau takut tidak populer?  makna apa yang akan
dibagi kepada sesamanya, then?

Salam nanosolidarity.
Agstian Prasetya.


 
a
--- manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dalam ilmu sosial, soalnya adalah partikel terkecil
> justru tak jarang merupakan pemusatan energi
> terbesar. Contohnya, keluarga, yang merupakan unit
> sosial terkecil. Hingga kini orang tak habis pikir
> kenapa negara tak kunjung berhasil mengubah sikap,
> perilaku, dan wawasan masyarakat tentang isu-isu
> seperti korupsi, jam karet, dsb. Ada harapan terlalu
> besar yang diletakkan pada pemerintah dan gagasan
> tentang rekayasa sosial/budaya. Yang hampir selalu
> dilupakan justru adalah keluarga sebagai kawah
> candradimuka utama bagi perubahan sosial. 
>    
>   Anak yang ketika dewasa tumbuh menjadi manusia
> yang abusive bukan belajar brutal dari film atau
> novel, melainkan dari contoh perilaku abusive yang
> dipraktikan orang tuanya pada dirinya sewaktu ia
> kecil dulu. Ketika masuk sekolah dan
> mulaiberinteraksi dengan lingkungan sosialnya,
> keadaan sudah terlambat. Nyaris tak lagi dapat
> diperbaiki, kecuali dengan upaya yang ekstra keras.
> Sekolah, yang sering diharapkan mampu jadi pengganti
> ortu dalam menyuntikkan norma dan nilai sosial yang
> dianggap positif, kerap disalahkan karena tak mampu
> mengajar anak untuk berubah perilakunya dari negatif
> ke positif. Ini indikasi bahwa semakin besar
> partikelnya, justru semakin lemah energinya. dalam
> skala lebih besar, kita melihat impotensi yang sama
> terjadi pada institusi negara, dan lebih besar lagi
> pada badan internasional seperti PBB.
>    
>   Segini dulu pandangan saya. takutnya saya jadi
> puyeng sendiri. Saya tak begitu menguasai
> nanoscience, tapi jika pengetahuan di bidang ini
> bisa disinergikan dengan pengetahuan sosial/budaya,
> barangkali kita bisa membuat terobosan baru dalam
> ilmu-ilmu sosial/budaya.
>    
>   Anda sendiri bidangnya apa dan kesibukannya apa?
> Kok baru kali ini saya jumpai postingan tentang nano
> di FPK?
>    
>   manneke

Kirim email ke