Dear Netters,
   
  Jika keluarga kita ambil sebagai unit terkecil dalam sistem sosial tentu saja 
aan mengantar kita pada suatu thought experimen yang menarik. Jika bung Maneke 
mengatakan "justru di unit terkecil ini berkumpul suatu energi yang terbesar" 
tentu maksudnya adalah bahwa begitu pentingnya unit ini karena interaksi dalam 
unit ini yag akan menyuburkan tumbuhnya benih nilai (value) yang konstruktif 
untuk masyarakat. jadi sebenarnya keluarga sebagai unit terkecil TIDAK memiliki 
energi yang sangat besar namun energi dari jutaan keluarga yang 
menumbuhkembangkan value yang konstruktif secara koheren satu terhadap yang 
lain, yangakan menghasilkan energi yang sangat besar bagi seluruh sistem sosial 
/ masyarakat.
   
  Itu justru sabgat analog dengan nanotechnology. Eenergy dari suatu partikel 
kuantum tidak besar namun energy dari seluruh sistem yang terdiri dari miliaran 
partikel kuantum, YANG BEROSILASI SECARA KOHEREN, akan sangat besar dan 
memiliki kekuatan yang dahsyat. LASER sebagai salah satu produk era kuantum 
menunjukan hal tersebut.
   
  Jadi soalnya kembali pada, apakah disadari bahwa unit terkecil itu sangat 
tidak boleh diabaikan...karena modus osilasi (interaksi) dalam unit terkecil 
itu, serta sistem yang dibangun untuk dijadikan surround (lingkungan) dari 
miliaran unit terkecil tersebut, MAMPU menciptakan KOHERENSI OSILASI dari unit 
unit terkecil sehingga seluruh catu energi dari masing masing unit memberikan 
kontribusi positip (konstruktif) terhadap energi total dari sistem secara 
keseluruhan.
   
  Jika usaha mikro dianggap sebagai partikel kuantum dari seluruh sistem 
ekonomi, maka tentu saja strategy serta kebijakan yang diambil oleh "KITA" akan 
menjadikan unit terkecil tersebut sebagai titik perhatian utama sembari 
membangun suatu sistem yang mampu menghasilkan KOHERENSI OSILASI dari seluruh 
UKM yang ada. Satu UKM tentu tidak memiliki energi yang sangat besar, juga satu 
keluarga, juga satu atom Argon dalam sistem Laser Argon misalnya atau dalam 
satu blue chip elctronic yang terdiri dari jutaan nanotransistor. Namun efek 
dari OSILASI YANG KOHEREN dari seluruh atom argon yang memancarkan satu 
frekuensi yang sama (MONOKROMATIS) didalam suatu sistem RESONATOR OPTIS. akan 
menghasilkan sinar Laser Argon yangdipancarkan dengan konsentrasi energy optis 
yang sangat dashyat serta bergerak dengan arah yang sangat lurus (tidak mencla 
mencle). Osilasi yang koheren bisa dicreate dengan menumbuhkan equal new 
horizon of meaning seperti yang digambarkan oleh bung Agus dalam
 contohnya mengenai quantum organization atau juga dengan membangun sistem 
resonator sosial, yang tidak lain adalah feedback system.
   
  Saya kira sekian dulu untuk keisengan yang ketiga ini.
   
  Salam nanosolidaritas,
   
  Irry

agus prasetyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Salam, buat para netters.

Saya urun keisengan kecil. Barangkali bisa menjadi
energi buat yang lain. Seringkali kinerja di
organisasi dilihat sebagai transformasi input-output
yang dapat dikendalikan dengan 'semata-mata"
mengotak-atik komponen-komponen di dalam organisasi.
Dalam konteks pemahaman ini, proses transformasi
dibuat melalui upaya pengendalian-pengendalian.
Barangkali contoh ekstreemnya proses pengendalian
yang paling manjur dengan menciptakan rasa
takut.Contohnya bhubungan antara
senior-junior,gerakan tutup mulut atas nama kekompakan
dan solidaritas (bukan nano solidaritas neeh :) di
IPDN

Mungkin idealnya berubah bukan karena mampu keluar
dari ketakutan. Namun proses transformasi dikarena
adanya makna bersama yang dibawa oleh aktor-aktor di
dalam organisasi untuk membentuk blue print
organisasi.Namun demikian jangan dibayangkan aktor ini
bermain-main sendiri untuk memonopoli makna dan
tafseirnya.Melainkan pertukaran makna dengan kemampuan
segenap anggota organisasi (individually dan
collectectively)untuk sense making the environtment.
Upaya ini dilakukan oleh organisasi yang disebut 
quantum organization, ketika dalam batas-batas yang
nyaris cheos,justru organisasi mampu mengendalikan
diri bersanding dengan upaya inovasi.Mungkin fenomena
mestakungnya Johanes Surya ini muncul ketika anggota
organisasi mampu menemukan new horizon of meaning
untuk sense making lingkungan barunya? Susahnya kalau
sense making kita digerakkan oleh ketakutan kehilangan
jabatan atau takut tidak populer? makna apa yang akan
dibagi kepada sesamanya, then?

Salam nanosolidarity.
Agstian Prasetya.

Kirim email ke