Wah ha ha ha ha ada2 aja ni mas Totot....

Iya bener juga yah... masalah royalty ini bikin harga buku makin
mahal..........

Ya sudah aku menunggu cerita dari bang Mula lebih jauh deh... sapa tahu
kita bisa temukan jalan keluar yang lebih murah tanpa harus mematikan
lading orang (dengan membantu membajaknya he he he).

 

 

Salam,

nes

 

Saya juga nyelipin tanggapan saya utk Agnes yah, hehehehe maen selip2an!

> Tanggapan diselipkan diantara tulisan mas totot yah.
>
> nes

> Secara gampang, saya berpendapat:
>
> 1. Guru kurang memberi contoh dan memupuk
> minat baca kepada anak muridnya. Belum pernah
> saya dengar ada kunjungan anak sekolah ke PerpusNas.
> CMIIW.
>
> ====) mungkin ada mas, cuma sedikit. Kalaupun tidak semua mungkin juga
> karena waktu mereka habis dipakai untuk mengajar ditempat lain atau
> memberi les privat yg hasilnya bisa lebih menguntungkan.

------ uhm, benar juga, mungkin kurikulum pendidikan kita yg tida
memfasilitasi
gerakan baca/tulis yah... guru lbh mengejar penghasilan tambahan? ya
wajar
juga
wong gaji guru jg tidak seberapa besar... :-(

> 2. Orang tua (sangat) kurang memberi perhatian kepada
> minat baca anak2nya. Ini dikarenakan kebanyakan ortu
> suami-istri harus kerja dua2nya. Anak2 akhirnya nonton
> sinetron atau maen PS karena cuma ada pembantu di rmh.
>
> ====) Gimana kalau sekarang TV diumpetin dan pembantu Cuma disediakan
> radio saja, lalu kita belikan bacaan ato tabloid yg menghibur
sekaligus
> berguna buat mereka. Jadi niat membacanya tersalurkan sekaligus
membantu
> membangkitkan niat baca anak2 kita.

------- Ini yg agak sulit dilakukan, bisa2 itu pembantu ngabur juga!
Atau
minimal jadi gunjingan pembantu sekomplek! hehehehe... tapi sebagai satu
usulan, maybe bisa dilakukan juga bertahap.

> 3. Serangan lingkungan (siaran TV, PS, game-gadget, dll.)
> yg makin menjauhkan anak2 dari buku.
> ===) kalau yg ini agak susah dibendung selain larangan extrim dari
kita,
> tapi takutnya malah ngumpet2 dibelakang kita yah...:-(
>
-------- uhmmm... kalau gak dibeliin (PS,game,dll.) aja sekalian gimana?
susah juga ya, masa anak kita gak trendy kayak anak lain :-P

> 4. Harga buku yg 'cenderung' mahal dan tidak terjangkau
> oleh semua kalangan. Walau saya pikir soal harga ini
> berlaku sangat2 relatif.
>
> ===) Kalau para 'publisher' mau mencetak buku dengan kertas daur ulang
> mungkin harganya bisa lebih murah...Tapi apa benar di Indonesia image
> sebuah buku mempengaruhi kualitas isi dan penampakannya?
>
-------- Nah, masalahe, kertas daur ulang itu disini jg msh mahal bu.
Kalau soal kualitas isi dan penampakan, otomatis buku2 yg bagus
di luar sana (misal 8th Habit, Google, dll.) akan diterjemahkan disini,
dibeli hak terbitnya (royalti), dan dipasarkan oleh penerbit2 besar,
yg bisa bayar penerjemah dan royalti kepada penerbit asalnya.
Jadi harganya otomatis akan tinggi krn ada hak cipta yg hrs dibayar.
Belum lagi kepercayaan para penerbit asli disana thd penerbitan kita.
Tau sendiri kan, rekor pembajakan buku kita termasuk tinggi....

Mungkin secara lengkapnya, bang Mula Harahap yg lebih pakar utk
menjelaskan soal perbukuan ini. Gimana bang Mula?

tabik,
totot



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke