> On 4/30/07, Thomas Aquino <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Iya...pak Totot itu harusnya cari solusinya...

Ketika kasus PHK PT DI baru terjadi di tahun 2003, saya pernah nulis
di Kompas 9 Oktober 2003 dengan judul "Di Koperasi wajarNet ada Mie
Ayam" (sekedar info ketika itu saya masih kerja formal, sehingga
statusnya masih sbg Ketua Umum SP afiliasi)..

Saya gabungkan isu tulisan itu dengan perjuangan pembebasan pita
2,4ghz untuk internet publik (sambil ngelirik Opa Mike dan Kang Onno
yang ada di milis ini:), juga Om Rene di Kompas)..

Yang saya tawarkan waktu itu, meniru PHK kelas menegah di Korsel,
dimana ada insentif dari negara ke sektor usaha mikro yang sesuai
dengan lonjakan PHK terdidik ini.. Saya paste lagi tulisan lama saya
di Kompas tersebut, dokumentasi di wweb Kompas saya tidak tahu url-nya
kalau di web saya http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=135 ..
Sekedar inspirasi :), karena hanya tinggal kemewahan itu yang kita
punyai di dalam hati generasi baru bangsa ini

ps: di luar ini ada data lain, yakni meningkat tajamnya dari tahun ke
tahun angkatan kerja muda terdidik (fresh graduate), maknanya kita
kehilangan pemimpin Industrialis yang mampu merangkai puzle link &
match, sehingga seorang Ibu Rumah Tangga sms ke saya Sabtu lalu
setelah baca berita Kompas ini (maaf kalau ada yang tak berkenan, ini
hanya share, anggap aja sms juga blog :)) gini sms-nya
 "Yan, kalau sarjana nuklir jadi tukang es krim, terus tukang es krim
gimana disaingin sama orang berpendidikan?. Terus gw mikir untuk apa
nyekolahin anak di tempat mahal dengan segala tetek bengek skilnya"..
ya saya jawab "tau ah gelap, lu sms ke call center SBY, ngapain curhat
ke gw.. ya sekolah mah sekolah aja lah, setidaknya buka wawasan"...
Teriring salam "semoga Indonesia menjadi negara yang lebih baik"

Di Koperasi wajarNet ada Mie Ayam
Oleh: Yanuar Rizky
Kompas, 9 Oktober 2003:

PILU, sedih dan takut membayangkan apa yang akan terjadi di negeri ini
setelah indikasi tumbuhnya pegangguran terdidik, yang tampak-tampaknya
akan menjadi kenyataan. Ambil contoh PT DI, 6000 karyawan ter-phk,
tidak sedikit tentunya sarjana, atau bahkan mungkin master dan doktor
buah dari investasi "habibie project" di masa emasnya dulu.

Sebut saja anak bangsa itu bernama Kampret, dari namanya saja tentu
membuat gairah untuk dikenakan tindakan PHK. Sebagai orang beriman,
apalagi katanya hidup di negara pancasila. Kampret merubah paradigma
negatif tentang dirinya ini dengan sikap positif, karena dibalik Kampret
ada makna Kreatifitas, Agresifitas, Mandiri, Produktifitas, Reaktifitas,
Energik, Terintegrasi. Indah bukan menggali sisi negatif dari pemikiran
positif.

Kampret tidak frustasi ternyata ilmu yang dipunyainya tidak memiliki
tempat lagi. Tapi, ilmu formal hanyalah jalan untuk sistematika berpikir
dan bergaul. Katakanlah Kampret kita ini punya kemampuan rakit-merakit
teknologi, maka dia ciptakan alat pemancar tanpa kabel dari bekas kaleng
susu anaknya yang masih balita, yang berguna untuk dapat menangkap
komunikasi data internet di udara yang berfrekuensi pada jalur 2,4 ghz,
realitanya banyak anak bangsa yang sudah berhasil membuat antena ini.

Sebagai orang terdidik, Kampret berpikir kenapa tidak berusaha sendiri
dari inovasi ini, dan membuka ladang usaha. Agar nikmat dan bermanfaat
bagi lingkungannya, Kampret tidak imajiner seperti politisi dengan jargon
"untuk bangsa dan negara", cukup langkah nyata saja untuk kelas RT-RW,
yaitu membentuk Koperasi Warga untuk jadi "vehicle" usaha di balik
pemancar 2,4 ghz yang dibuatnya.

KopWar terbentuk, maka ada badan yang bisa dipakai bermitra dengan
penyedia jasa internet (ISP). KopWar membuat kontrak untuk berlangganan
membeli akses di pipa data internet di ISP, yang wira-wiri di udara
frekuensi 2,4 ghz -di dunia telematika dikenal istilah WLAN (Wireless
Local Area Network)-. Lewat pemancar ini, selanjutnya ditarik kabel-kabel
ke rumah-rumah anggota ataupun non anggota di lingkungannya untuk membagi
lagi kapasitas ruang data internet yang bisa digunakan -dikenal dengan
sebutan bandwidth-.

Dalam operasionalnya KopWar ini butuh pengelola untuk pemiliharaan
jaringan yang dibangunnya. Untuk itu, tanpa disadari ternyata oh ternyata
KopWar ini telah mampu pula menyerap tenaga kerja baru yang sudah tidak
kebagian kapling kerjaan lagi, misalnya saja anak kampung belakang tamatan
STM ataupun yang kelasnya cuman kuli yang dirotasi jadi staf penarikan
kabel. Ya, setidaknya ikut berperan serta untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi di APBN yang hanya 4 % untuk penyedian lapangan pekerjaan bagi
tenaga kerja baru.

Wah, lingkungan sudah jadi Cyber-Area dengan konsep usaha RT-RWnet.
Selanjutnya tanpa terasa, ibu-ibu kompleks pun terangsang berinovasi untuk
peningkatan penerimaan APBK (Anggaran Penerimaan dan Belanja Keluarga)
dengan berjualan kain, pulsa telpon, alat rumah tangga atau bahkan
intermediasi layanan pesan antar toko kelontong dengan memanfaatkan
internet KopWar ini, istilah kerennya dikenal dengan sebutan point of sale
berbasis e-commerce.

Bahkan, tetangga Kampret mantan pialang pasar modal, yang ter-phk oleh
keadaan, telah dapat memanfaatkan ilmunya dengan membuat share-shop dengan
galeri internet, yang bermitra dengan broker di bursa. Padahal tadinya
pialang ini sempat tersingkir dari bursa, karena broker yang dipimpinnya
tidak sanggup memenuhi ketentuan permodalan perusahaan efek yang
ditingkatkan oleh regulator (MKBD), atau bisa saja beliau ini tersingkir
karena konsep remote trading yang mampu mengeliminir peran fisik pialang
di lantai bursa, atau juga sebagai korban pertama dan termudah dari
pengorbanan demi perubahan lembaga lainnya di pasar modal.

Tidak ada yang sia-sia tetap saja pialang ini adalah aset berharga yang
dapat meneruskan perjuangannya di pasar modal dengan beradaptasi untuk
memiliki semua kemajuan tersebut dengan cara yang mudah, murah dan tepat
sasaran. Indah nian, jika perubahan menjadi milik semuanya dengan
memberikan stimulasi infrastruktur yang dapat dicapai oleh anak negeri
ini. Pemberdayaan aset pengetahuan pialang ini hanyalah salah satu contoh
saja yang memberikan bukti empiris pemberdayaan manusia, yaitu orang-orang
terdidik haruslah tetap diarahkan untuk mempercepat proses perubahan bukan
dengan mengabaikannya. Sayang kan, kalau semuanya harus mulai dari nol
lagi, hanya karena jebakan arogansi kelompok yang tak berujung.

Akhirnya tanpa terasa, terciptalah rumah ibadah ekonomi dengan pondasi
yang wajar (warung aliansi jaringan antar rumah) di interNet. Mulai dari
sektor rumah tangga, gerakan koperasi, kemitraan UKM dan usaha besar
sampai ke modernisasi institusi keuangan. Disamping itu, tampak
Bapak-Bapak tengah tersenyum, karena ternyata rekening telpon turun dengan
dapatnya komunikasi suara via internet (Opensource ini dikenal dengan
gerakan VoIP-Merdeka). Setidaknya, buat gosip antar tetangga sudah pakai
jalur tetelkoman ini.

KopWar yang bermarkas di depan kompleks, pinggir jalan raya, dibuat
menjadi Warnet. Agar pengunjung betah, tersedia menu mie ayam grobak
(kelas 5.000 perak tapi nikmat), yang ilmunya diperoleh dari tukang Mie
Ayam di jalan Kerinci yang senang ekspansi dengan mengajar orang berusaha
(realita dengan 1 juta kita bisa belajar opensource mie ayam ini)

Dari terpinggirkan, Kampret telah membuktikan perannya bagi kemandirian
ekonomi negerinya. Yaitu, dengan stimulasi penerimaan APBN dari PPh KopWar
dan ISP yang meningkat daya jualnya, serta tentu saja PPn dari transaksi
warung elektronis di jaringan tersebut. Serta mendorong privatisasi dan
pemerimaan dari BUMN ke arah tidak semata-mata ke satu pilar kebijakan,
yaitu profit oriented. Namun, turut pula membuktikan bahwa gerakan KopWar
wajarNet mampu menjawab fungsi psikologis APBN sebagai stimulus
kemasyarakatan, yaitu fungsi fasilitator kegiatan perekonomian masyarakat
yang kondusif (pilar 2: social capital) ataupun juga sebagai katalisator
peningkatan kemampuan masyarakat berperan aktif dalam inovasi pertumbuhan
ekonomi (pilar 3: natural capital).

Bukan hanya itu, jasa politisnya adalah mengurangi celah yang besar
tersedianya infratruktur telekomunikasi nasional, yang dikenal dengan
istilah digital divide (berdasarkan data APJII pengguna internet 4,5 juta
dari 200 juta penduduk Indonesia) .Bahkan, dengan merger pengetahuan
dengan tetangga eks-pialangnya, telah pula mengantarkan akses pasar modal
di rumah-rumah untuk memperbesar kue pemodal lokal sebagai penopang utama
stabilitas pasar negeri ini tercipta (capital market literate, tahun 2003
dari beberapa sumber terdapat 50.000 pemodal lokal dari 175 juta penduduk
dewasa Indonesia). Credit point lainnya, gerakan KopWar wajarNet ini telah
menjadi bukti nyata bahwa membangun negeri ini tidaklah harus terlalu
bergantung ke pihak ketiga, sebuah icon konstruktif gerakan ekonomi
masyarakat paska IMF.

Sedang asyik-asyiknya menikmati 'award'' dari KopWar wajarNet sambil
menikmati serusup mie ayam, Kampret terbangun dari tidurnya. Oh ternyata,
itu semua masih mimpi!. Setelah bangun membuka milis indo-WLI didapatinya
berita bahwa terjadi ancaman sweeping oleh aparat atas perangkat yang
bekerja di WLAN 2,4 ghz, yang sama saja mau mandiri secara kreatif pun
dengan membuat pemancar saja tidak dapat tempat. Kemudian baca koran
tampaknya PHK hanya jadi pesta kelompok kapitalis, tanpa ada pembekalan
pengetahuan dan jalan keluar untuk jadi entrepreneur. Ya itu tadi mau
usaha, stimulusnya saja tidak ada, pesangonnya saja tidak cukup belum lagi
banyak anak bangsa ini sejak dari didikan orang tua, sekolah sampai
bekerja telah tertanam bahwa belajar untuk jadi pegawai sukses bukan jadi
pengusaha sukses.

Jadi mimpi Kampret yang indah tadi di tatanan dunia nyata sistem ekonomi
negeri ini masihlah wacana. Untuk itu, mari kita nobatkan Kampret jadi
ketua partai KWMI -kaya wacana miskin implementasi-, siapa tahu di 2004
dapat berevolusi jadi KWKI -kaya wacana kaya implementasi-, asal jangan
berubah bentuk karena terlalu banyak kompromi jadi MWMI -miskin wacana
miskin implementasi-.

[Yanuar Rizky, www.elrizky.net, praktisi pasar modal dan Ketua Umum
Serikat Pekerja di salah satu bursa efek]

Salam Solidaritas,
Yanuar Rizky
mail to: [EMAIL PROTECTED]
on-the-net: http://www.elrizky.net
elrizkyNet>"Dari RT-RW Ke Internet Menuju Pasar Modal"

Kirim email ke