Salam, Saya ingin menceritakan pengalaman saya dalam usaha menambah sumber pendapatan keluarga denga bisnis kecil-kecilan. Waktu itu saya memasarkan produk-produk dari Kemchick berupa sosis, beef, baso dan frankfuter, maaf kalo salah mengeja. Dengan harga yang cukup tinggi per bungkus menurut saya dan tidak ada kemungkinan untuk menjual secara eceran, maka saya menyasar para konsumen dari kelas menengah ke atas dan memasukkan ke restoran-restoran menengah ke atas. Saya memasuki restoran dan hotel dan menawarkannya. Mereka masih cukup baik tidak dengan menolak begitu saja walaupun ada juga yanga melakukannya. Beberapa restoran mencoba dengan membeli sebungkus dan mengetes lalu menolak dengan alasan warnanya kurang cerah setelah matang. Kalau kurang cerah, maka akan mengurangi minat dan tidak indah ketika disajikan.
Setelah beberapa lama, tidak satupun restoran yang berhasil saya tembus. Tapi saya mempelajari sesuatu bahwa semuanya telah ada jaringan suppliernya yang menyediakan barang-barang untuk kebutuhan hotel-hotel dan restoran tersebut. Mereka akan menutup lingkaran mereka itu sehingga tidak boleh orang lain sembarang masuk. Sama halnya ketika seseorang mencoba jadi tukang ojek, dia harus membayar sejumlah uang ke asosiasi ojek setempat yang telah ada sebelumnya. Saya ketika itu hanya berhasil menjual ke teman-teman se kantor dan beberapa ibu-ibu yang tinggal di perumahan-perumahan melalui *direct selling* dengan menjajakannya memakai sepeda motor. Setelah beberapa bulan, modal menipis dan akhirnya saya harus menghentikannya. Tapi saya belum juga kapok berusaha. Saya mencoba lagi dengan berjualan buah-buahan. Berjualan buah-buahan sesuai dengan musimnya. Mulai dari jeruk, apel dan lengkeng. Pagi-pagi sekali saya bangun dan dengan sepeda motor membeli buah-buahan ke pasar induk. Buah tersebut saya seleksi, bersihkan dan bungkus kembali alias *retreatment* untuk mendapatkan *value added*. Kembali yang saya sasar adalah teman-teman kantor, restoran dan hotel-hotel. Restoran dan hotel-hotel gagal. Kasusnya masih sama, adanya supplier yang sudah *established* disana. Saya butuh waktu dan modal yang besar untuk dapat memasuki lingkaran tersebut. Kepayahan, kehabisan modal dan akhirnya kembali ke kursus dan mengajar. Tapi dasarnya memang ingin berubah, selanjutnya ketika modal terkumpul karena ada rejeki nomplok dapat dari proyek terjemahan dengan kedutaan Amerika, saya mencoba lagi berbisnis. Kali ini adalah bisnis pasir beton di Tasikmalaya. Perhitungan di atas kertas dari orang yang mengajak berbisnis itu sangat menggiurkan. Untung besar di depan mata. Tetapi, ternyata ketika proses sudah dimulai dan pemasaran sudah dilakukan, kita harus melakukan banyak sekali koordinasi. Koordinasi dengan pejabat pemerintah, kodim, polisi, organisasi massa dan termasuk juga orang-orang di batching plant, pabrik pembuatan tiang pancang dan sebagainya itu. Kembali, modal terkuras dalam waktu yang sangat cepat. Keuntungan yang hanya 300,000 per truk jika penjualan mulus ternyata hanya angan-angan. Uang puluhan juta rupiah amblas begitu saja. Dan saya kembali lagi mengajar bahasa Inggris. Masih bisa hidup. Memang saat ini saya tidak lagi mengajar. Tapi saya yakin bahwa saya akan kembali lagi mengajar karena pekerjaan yang saya lakukan sekarang hanyalah berdasarkan kontrak. Hal yang ingin saya tegaskan disini adalah bahwa untuk memulai suatu usaha sangat susah di negara kita ini. Ketika kita mendirikan papan nama untuk memasarkan nama usaha, maka akan tiba-tiba datang proposal dari badan-badan mana saja dengan alasan berbagai kegiatan dan pungutan, bahkan sebelum kita mendapatkan untung. Akan sangat susah dan kadang bikin frustasi untuk berusaha, seperti saya ini yang sudah kapok berbisnis. Tapi, setidaknya masih bisa survive karena punya keahlian lain. Saya berbagi pengalaman ini, kali aja memberikan inspirasi. Untuk bung Totot, memang harus seperti itulah cara kita bertahan di negara sirkus ini, harus bisa memainkan trampolin kehidupan dengan lihai supaya jidat kita tidak benjol karena jatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Hanya untuk kita-kita aja kali yah yang berusaha dengan sangat keras untuk survive dan tidak perlu harus meratapi ijazah kita yang menjadi tidak berguna. Terimakasih. Rinsan Tobing *Masih tetep ngotot pengen jadi penulis.* *Cuma belum pede karena masih kekurangan referensi.* On 5/1/07, Totot <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Nah, bang Tobing datang dengan salah satu pemikiran. > Multitasking people. Bisakah kita mempersiapkan > anak2 kita tanpa mengorbankan masa anak2nya? > > Tapi memang spt yg bang Tobing katakan, saya pribadi > punya beberapa kemampuan yg awalnya memang hobi, > tapi lama2 kok ya bisa nduiti (menghasilkan uang). > > Secara formal saya bekerja di sebuah penerbitan di bag > event, yg secara kebetulan pula bisa memberikan saya wadah > utk berkreasi krn saya mantan desainer grafis dan hobi main > musik dan nyanyi. Jujur saja, saya menikmati sekali pekerjaan ini. > Termasuk ketika ada teman yg menikah, ultah, atau punya event, > saya bisa nyalurin hobi musik dan nyanyi, sekalian dapat tambahan > utk beli bensin motor saya. Juga bisa bantu2 di desain dan event-nya. > > Maaf, bukan mau unjuk gigi atau sombong, tapi sekedar memberi > dukungan kepada pemikiran mengenai multitasking tadi. Anak saya > sih krn msh TK, skr belum saya kursusin apa2. Tapi karena anak > suka sekali menari dan menyanyi, ya pengennya nanti akan saya > kursuskan di bidang kesenian saja. Semoga saya sanggup membiayainya. > > salam, > totot
