Gangs Of Indonesia, The Movie Saya terinspirasi oleh film Gangs Of New York karya sutradara Martin Scorsese yang dibintangi Leonardo Di Caprio, film ini menceritakan kondisi kota New York,amerika Serikat pada masa perang saudara tahun 1851-1855. Kota yang sekarang jadi salah satu barometer perekonomian dunia itu bukanlah berawal dari sebuah kota ideal melainkan hanya sebuah perkampungan yang terpecah menjadi komunitas-komunitas kesukuan dan etnis, hampir tiap hari terjadi pertarungan antar geng bahkan politik kota pun jalannya ditentukan oleh pengaruh pentolan-pentolan geng ke dalam kelompok elit politik, pendek kata (dan sedikit mensimplifikasi) mirip dengan kondisi "kota" Indonesia saat ini. Tapi toh sekarang New York berdiri mentereng dengan segala atribut kebesarannya. Saya tidak melihat "kota" Indonesia tidak akan bisa seperti itu, mungkin inilah cobaan yang harus kita lalui untuk menjadi bangsa yang berwibawa. Maaf saya masih muda (25 tahun), bukan maksud saya menggurui bapak-ibu smua yang diceritakan di email diatas. Tapi setidaknya kita ambil hikmah dari semua ini,
1. Dengan begini sektor kewirausahaan pun "terpaksa" maju dengan bermunculannya aneka macam usaha yg didirikan oleh orang-orang yg terkena PHK. Mindset orang-orang tua kita yang mengajarkan untuk sekolah sebaik-baiknya dan kemudian lulus dan bekerja di perusahaan yang mapan pun dipaksa mengalami redefinisi. Kurikulum di sekolah-sekolah kita pun diharuskan mengalami perombakan. Siapa tahu, dengan berjalannya waktu, equilibrium yang dirindukan itupun akhirnya datang juga : usaha-usaha baru yang bermunculan semakin membesar dan kemudian menyerap tenaga kerja, produk2nya mulai diekspor dan modal asing mulai masuk ke wirusaha-wirausaha tersebut. 2. Muncul dan terlatihnya sikap kritis manusia Indonesia terutama manusia-manusia mudanya. Keadaan serba rimbawi sekarang ini memaksa kita untuk tidak lagi duduk berpangku tangan "nrimo ing pandum"(terima saja apapun yg kita dapatkan) seperti yang lalu-lalu, sikap yang sudah membuat kita "kecurian" aneka sumber daya alam yang justru disedot oleh kontraktor-kontraktor asing. Perilaku korup para penguasa sekarang sudah mulai berani kita telanjangi, cara melawan ketidakadilan sudah mulai jadi pembicaraan sehari-hari kita tanpa takut-takut. 3. Kita mulai sadar akan perlunya merencanakan segala sesuatunya sejak awal. Saya lugu?mungkin. Saya masih muda dan belum berpengalaman?sangat mungkin. Tapi mungkin inilah peran yg dibagi Tuhan untuk saya (dan orang-orang muda lain) untuk tetap membawa keluguan dan kekurang pengalaman tersebut kedalam sikap positif bernama optimisme. Saya sendiri melenceng jauh dari latar belakang pendidikan teknik lingkungan saya dengan memutuskan menjalankan usaha warung kecil sejak pertengahan tahun lalu, setelah sebelumnya selama kuliah sudah merintis aneka usaha kecil-kecilan. Saya memang belum berhasil, tapi setidaknya saya tidak mau negatif menghadapi minimnya lowongan kerja diluar sana. Orang tua saya juga termasuk ilmuwan-ilmuwan yang dulu (sebelum krisis '97-'98) pernah berjaya dikirim-kirim ke luar negeri, namun kini harus mengakui keadaan memaksa mereka menjadi tidak lebih dari dosen biasa dengan penghasilan biasa-biasa pula. Jadi, mari hadapi ini semua bersama... On 5/1/07, Totot <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Nah, bang Tobing datang dengan salah satu pemikiran. > Multitasking people. Bisakah kita mempersiapkan > anak2 kita tanpa mengorbankan masa anak2nya? > > Tapi memang spt yg bang Tobing katakan, saya pribadi > punya beberapa kemampuan yg awalnya memang hobi, > tapi lama2 kok ya bisa nduiti (menghasilkan uang). > > Secara formal saya bekerja di sebuah penerbitan di bag > event, yg secara kebetulan pula bisa memberikan saya wadah > utk berkreasi krn saya mantan desainer grafis dan hobi main > musik dan nyanyi. Jujur saja, saya menikmati sekali pekerjaan ini. > Termasuk ketika ada teman yg menikah, ultah, atau punya event, > saya bisa nyalurin hobi musik dan nyanyi, sekalian dapat tambahan > utk beli bensin motor saya. Juga bisa bantu2 di desain dan event-nya. > > Maaf, bukan mau unjuk gigi atau sombong, tapi sekedar memberi > dukungan kepada pemikiran mengenai multitasking tadi. Anak saya > sih krn msh TK, skr belum saya kursusin apa2. Tapi karena anak > suka sekali menari dan menyanyi, ya pengennya nanti akan saya > kursuskan di bidang kesenian saja. Semoga saya sanggup membiayainya. > > salam, > totot
