KOMPAS/Selasa, 01 Mei 2007
Reklamasi Pantura Memperparah Banjir di Jakarta...
Firdaus Cahyadi
Hampir secara berturut-turut harian ini menurunkan berita terkait proyek
reklamasi pantai utara Jakarta (Kompas, tanggal 18, 19, dan 21 April 2007).
Tentu hal tersebut mengandung maksud agar publik ikut mengkritisi dampak
sosial dan lingkungan hidup dari kegiatan proyek yang menelan biaya lebih
kurang sebesar Rp 3,499 triliun itu.
Pantai utara (pantura) Jakarta terbentang sepanjang 32 kilometer. Bagian yang
akan direklamasi sejauh 1,5 kilometer dari bibir pantai ke arah laut dengan
kedalaman maksimal mencapai 8 meter. Reklamasi tersebut dimulai dari sebelah
timur perbatasan Cilincing dengan Kabupaten Bekasi hingga sebelah barat
perbatasan Penjaringan dengan Kabupaten Tangerang.
Rencananya, di lahan baru tersebut, selain diperuntukkan bagi pembangunan
kawasan komersial berupa industri, fasilitas kegiatan pariwisata, perkantoran,
dan sarana transportasi, akan dibangun pula kompleks perumahan mewah yang
berkapasitas 750.000 orang.
Meskipun ditentang oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) melalui
Keputusan Menteri (Kepmen) Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2003 yang
menyatakan ketidaklayakan lingkungan dari proyek reklamasi pantura Jakarta,
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD tetap bersikeras mengizinkan
pengembang untuk mengerjakan proyek itu.
Pemprov dan DPRD DKI menilai proyek ini akan mendatangkan banyak keuntungan
ekonomi bagi Jakarta. Logika sederhananya adalah semakin banyak kawasan
komersial yang dibangun, dengan sendirinya juga akan menambah pendapatan asli
daerah (PAD) kota ini. Di samping itu, reklamasi pantura juga dinilai
merupakan wujud dari implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta
yang mengamanatkan kota ini menjadi kota jasa yang berskala nasional dan
internasional.
Sayangnya potensi kehancuran ekosistem berupa hilangnya keanekaragaman hayati
di Suaka Margasatwa Muara Angke yang merupakan satu-satunya kawasan hutan
bakau yang tersisa di Jakarta dan biaya sosial berupa hilangnya akses nelayan
terhadap sumber daya alam kelautan tidak pernah masuk dalam perhitungan biaya
investasi proyek reklamasi tersebut.
Reklamasi pantura Jakarta akan menimbun perairan di kawasan seluas 2.700
hektar itu dengan bahan material 330 juta m3. Akibatnya, ekosistem pesisir
yang sudah ada sejak ratusan tahun pun terancam punah.
Kehancuran itu antara lain berupa hilangnya berbagai jenis pohon bakau di
Muara Angke, punahnya ribuan jenis ikan, kerang, kepiting, dan berbagai
keanekaragaman hayati lainnya.
Tidak hanya mengancam keberlanjutan ekosistem di kawasan pesisir, reklamasi
pantura Jakarta juga dipastikan akan meningkatkan dan memperparah potensi
banjir di Jakarta. Hal itu karena reklamasi tersebut akan mengubah bentang
alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan Jakarta Utara.
Perubahan itu antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai,
pola pasang surut, pola arus laut sepanjang pantai, dan merusak kawasan tata
air.
Dari sisi sosial rencana reklamasi pantura Jakarta tersebut diyakini juga
akan menyebabkan 125.000 nelayan tergusur dari sumber kehidupannya.
Penggusuran ini menyebabkan nelayan yang sudah miskin menjadi semakin miskin.
Firdaus Cahyadi
Pelaksana Harian Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]