Bu Cornelia,
Soal japri Anda, saya pikir tak ada yang salah sangka atau salah-salah lain
apapun di sini. Saya juga tak katakan bahwa saya keberatan dengan japri Anda
bukan? Saya sampaikan bahwa ada begitu banyak hal tentang feminisme yang Anda
kemukakan, baik lewat japri dan milis, dan ini memperlihatkan bahwa Anda cukup
paham tentang feminisme. Coba baca lagi deh tanggapan saya sebelum postingan
Anda ini. Jadi, tak perlu terlalu sensi deh dengan soal japri Anda. Saya juga
tak mempersoalkan kok. Jadi, buat apa saya mesti tanya Mas Agus segala? Opo toh
masalahe iki?
Anda tak memberikan penilaian dalam posting Anda yang cukup rinci tentang apa
yang Anda pandang sebagai permasalahan feminisme itu? Woo--kalo gitu mungkin
kita sama-sama mesti ikut pelajaran membaca Kejar Paket A lagi ya? Ya, Anda
memang lucu banget. Saya jadi seger di depan komputer. Bisa saingan sama Tukul
lho. Ayo dong, make my day. Hibur saya terus dengan guyon-guyon Anda. Tapi,
ngelucu juga tak boleh sambil berprasangka, ya. Sama-samalah. Mari kita
singkirkan prasangka jauh-jauh dan jujur pada diri kita masing-masing. Gitu
kan? Ha ha ho ho hi hi he he (lucu lho ya, ini tanda ketawa, bukan prasangka).
Soal pemingiran: kalo istilah ini tak digunakan oleh orang yang menjadi
korban peminggiran, bukan berarti serta-merta peminggiran tak ada toh, Bu. Nah,
ini baru lucu asli. orang yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga juga
tak selalu pake istilah KDRT. Apa lalu KDRT cuma fiktif belaka? Hi hi hi.
Belanda sampai sekarang menolak menerima istilah "penjajahan" untuk apa yang
mereka perbuat di Hindia selama bertahun-tahun. Lalu, apa berarti tak ada
penjajahan Belanda waktu itu?
Lucu ya kawan-kawan Anda yang ngaku tak kenal istilah "peminggiran" dalam
kamus mereka, tapi ngerti istilah "aktivis". Ternyata mereka tak polos-polos
amat seperti yang cenderung Anda gambarkan itu. Ha ha ha. Mungkin jika pergi ke
pelosok-pelosok, bukan cuma para aktivis feminis ya yang sibuk meracuni pikiran
mereka yang Anda sebut dengan "rakyat biasa" itu? Kasian juga mereka didatangin
ilmuwan dan peneliti kota untuk ikut FGD dan segala macem buat keperluan riset.
Padahal, mereka kan cuma pengen makan cukup, seperti kata Anda, dan tak peduli
sama yang lain-lain. Kok masih tega-teganya sih disuruh FGD segala? Tapi,
semoga mereka juga bisa memetik manfaat langsung yang konkret ya dari riset
Anda di "desa-desa" itu.
Saya makin terhibur nih. Tengkyu, tengkyu. Tapi saya bantu buat lebih lucu
lagi ya: Peminggiran terhadap perempuan adalah akibat dari cara pandang dan
praktik patriarkis dalam memosisikan perempuan. Pelakunya bisa laki-laki, bisa
perempuan, sejauh mereka dipengaruhi dan dibentuk oleh patriarki. Jadi, amat
amat lucu ketika lalu Anda menyiratkan bahwa peminggiran perempuan adalah
akibat cara pandang feminis yang mensubordinasikan perempuan di bawah
laki-laki. Ini bikin saya terpingkal-pingkal sampe layar komputer basah
kesemprot ludah. Sebab - akibat pun jadi bahan permainan dibolak-balik. Hebat.
Kalo dulu para pejuang angkat senjata untuk merdeka dengan alasan mereka
terjajah Belanda, apa lalu berarti para pejuang itu menempatkan diri sebagai
subordinatnya penjajah? Kalo sekarang buruh angkat suara untuk memperjuangkan
perbaikan haknya dan menuntut para majikan untuk lebih fair, apakah para buruh
itu lalu mensubordinasikan diri di bawah para majikan? Ini ilmu dari mana
tho? Lucu banget!
Pake contoh perdagangan manusia? Boleh deh. Biar tambah lucu. Kalo kaum
feminis melakukan pembelaan terhadap perempuan korban perdagangan manusia, ini
tidak identik dengan penyangkalan bahwa terjadi perdagangan anak-anak juga
(bahkan laki-laki, seperti kata Anda). Kalo gerakan buruh berjuang buat nasib
buruh, ini tak berarti bahwa cuma buruh saja yang nasibnya menderita di dunia.
Kalo ada organisasi yang mengkhususkan diri untuk membela kaum gay dan lesbian
dari diskriminasi, ini tak berarti organisasi itu menyangkali bahwa terjadi
diskriminasi terhadap kelompok-kelompok lain pula. Para aktivis perempuan tahu
bahwa kemampuan mereka ada batasnya. Wong baru ngomong soal sesama perempuan
saja dunia udah ribut kok, apalagi mau mengklaim secara muluk-muluk bahwa
mereka memperjuangkan kemanusiaan. Maka itu, seperti pernah saya sebutkan dalam
posting saya tapi tampaknya tak Anda simak sama sekali. gerakan perempuan kini
beraliansi dengan kelompok-kelompok marginal lain untuk
mencapai tujuan yang sama. Ini, misalnya, terlihat semasa aksi demo mahasiswa
tahun 1998, pascakekerasan Mei 1998, dan penolakan terhadap RUU APP baru-baru
ini.
Saya tak mengerti contoh Anda dengan Gadis Arivia. Bahwa dia memprioritaskan
keluarga, ya terus kenapa gitu lho? Kok dikait-kaitkan sama peminggiran
perempuan? Ini kan plihannya sendiri? Gadis Arivia ada di FPK juga kok, dia
bisa menjelaskan dirinya sendiri. Jangan dikutip-kutip secara manipulatif ah.
Kesetaraan perempuan dalam kamus feminis melingkupi kemampuan perempuan untuk
secara sadar dan bebas memilih sendiri apa yang terbaik bagi mereka. Keluarga?
Monggo. Karir? Apa jeleknya? Yang penting, ini bukan dipaksa oleh siapa-siapa.
Bukan hasil fait acompli oleh siapapun. Jadi, tidak ada yang berpikiran
"sesimpel itu". Anda dapat kesan keliru ini dari mana? Baca, Bu, baca...
Kisah Anda tentang pengalaman teman perempuan Anda dan sebuah LBH mengharukan
tapi tidak jelas. Saya tak bicara atas nama LBH itu (LBH apa sih? Sebut aja
kalo memang konkret, biar nggak disangka ngarang cerita...he he he, "salah
sangka" lagi ntar). Kisah Anda juga terlalu singkat bagi saya ntuk bisa
menyimpulkan sesuatu. Duduk persoalannya digambarkan terlalu umum. Jika memang
kasus seperti ini benar terjadi, LBH itu juga tidak mewakili seluruh gerakan
feminis. Jadi, memakai satu kasus untuk menilai semua gerakan perempuan sungguh
lucu (boleh ketawa, ya?). Nah inilah yang namanya "stereotipe" (waktu itu
ngakunya belum ngerti kan istilah ini artinya apa?). Sama halnya, misalnya,
dengan orang yang satu kali kena peristiwa buruk sama orang Cina, langsung
menggeneralisasi bahwa semua oran Cina buruk. Ini juga indikasi bahwa, sekali
lagi saya ulang (biar hapal ngelotok) bahwa gerakan feminis tidak monolitik.
Semga sekarang jadi lebih ngerti ya arti "monolitik" apa, karena
sudah Anda praktikkan sendiri dalam cara pandang Anda. Hi hi hi.
Pencerahan sudah diberikan, sebagaimana yang diminta. Semoga tercerahkan.
manneke
Cornelia Istiani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Manneke,
Dari awal saya sudah katakan bahwa saya tidak paham betul dengan gerakan
feminis, apalagi sejarah gerakannya..karena itu saya bertanya. Dan Anda salah
besar kalo bilang saya punya segudang pengetahuan, secuil iya...dan lucunya
Anda sudah ada kecurigaan dengan mengatakan soal uji-uji tersebut..he..he..Saya
hanya menanggapi berdasarkan pengalaman dan berpikir aja..tidak lebih wong baca
teorinya juga tidak..dan ditambah dari perspektif kemanusiaan bukan feminisme
karena saya juga tidak tahu logika berpikir feminisme itu.
Pak Manneke, kan sudah saya katakan (dan sekalian tanya ke Mas Agus Hamonangan)
karena tidak lolos sensor oleh moderator makanya saya kirim ke japri, hanya
untuk diketahui bahwa saya merespons apa yang Anda tuliskan..hanya itu--tidak
lebih dan saya juga lebih suka diskusi di forum milis ini lho....jangan salah
sangka dong Pak.
Baiklah tanggapan saya pun masih dalam koridor ketidakmengertian tentang
feminisme yang mungkin Anda termasuk salah satu aktivisnya. Lalu saya dianggap
memberi penilaian sebelum mempelajarinya---dari awal sudah saya katakan tentang
ketidakmengertian akan gerakan feminisme...kok Anda malah malah menjustifikasi
saya memberi penilaian..gimana sih? Wong saya sedang tidak melakukan evaluasi
kok, apa kompetensi saya melakukan evaluasi tersebut..ga level Pak dan bukan
pada tempatnya..jangan berprasangka dong...tapi saya seneng bisa menghibur Anda
karena kelucuan saya...
Kebetulan saya baru pulang dari semarang dan selama di kota tersebut melakukan
diskusi kelompok/FGD dengan peserta dari kelompok Orang Tua siswa dan satu lagi
kelompok Guru SD dan SMP..ketika temanya berkaitan dengan isu jender, yang
terpahami oleh mereka Pak hanya sekedar bahwa laki-perempuan harus sama
(mungkin masuk dalam terminologi kesetaraan), kata mereka,"misalnya ya dengan
contoh bahwa bukan lagi ibu di dapur memasak-bapak kerja ke kantor; tapi
menjadi ibu dan bapak sama-sama pergi bekerja atau bapak membantu ibu di
dapur". Diharapkan dengan contoh seperti itu maka siswa menjadi lebih siap
mental menghadapi realitas kehidupan di masa mendatang baik untuk anak laki
maupun perempuan--kalau temen saya bilang menyiapkan tranformasi kehidupan
modern buat generasi. Bagi mereka bukan masalah kesetaraan(dalam terminologi
feminis) tapi lebih realistis sebagai persiapan menghadapi berbagai kemungkinan
kehidupan. Maaf di mereka (kalangan rakyat biasa) tidak ada kamus
mengenai "peminggiran". Kenapa saya katakan bahwa mereka itu kurang mengerti
apa itu feminis, ketika saya tanyakan tentang isu kesetaraan-pun
jawabnya,"ah..itukan hanya omongan si aktivis saja-lha wong kami tidak
merasakan--boro-boro mikir yang penting keluarga kami tercukupi dan bisa
makan--itu sudah bersyukur"---hal ini mengindikasikan kesadaran akan peran dan
fungsi masing-masing anggota keluarga. Ini fakta lapangan lho--seperti yang
saya katakan di tulisan terdahulu dan rupanya tidak terpahami (malah dianggap
judgement).
Tanggapan saya hanya untuk poin 1, karena ini yang saya cari dan menjadi
ganjelan selama ini..yang lain itu mah ga penting lagi--syukur-syukur bisa
menghibur anda lagi..
----------------------------------------------------------
Point 1, soal mono vs plural: Nggak nyambung. Kalau ruang gerak feminisme
melingkupi banyak aspek, ini tak berarti bahwa tak semuanya memperjuangkan
kesetaraan. Simpulan Anda rada simplistis. Apakah soalnya di trafficking, atau
KDRT, atau nasib buruh perempuan, atau poligami, titik tolaknya sama, yakni
peminggiran perempuan. Problem ini menjelma dalam berbagai bentuk pada
aspek-aspek kehidupan yang berbeda. Jika tak terjadi peminggiran, perempuan
akan punya kekuatan tawar lebih besar dalam berhadapan dengan isu-isu tersebut.
-CI-
He..he..Emang ga nyaaaambung kalo monolitik diartikan sebagai area ruang gerak
dalam arti bergeraknya dibanyak aspek seperti yang Anda sebutkan. Ok deh dapat
satu poin tentang titik tolak nya yaitu PEMINGGIRAN PEREMPUAN. Titik tolak
ini yang menghalangi pemahamanku tentang apa itu feminisme dan gerakannya
(sampai hari ini, ketika mulai tergelitik ketika perdebatan di FPK dimulai
dengan respons keras terhadap pak Iwan). Kata Peminggiran ini mengindikasikan
suatu tindakan yang disengaja oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap
orang/sekelompok orang lain..dengan begitu ada subjek/pelaku dan objek/korban.
Dalam hal ini korbannya adalah perempuan, dan pelakunya adalah laki-laki (dan
atau perempuan sendiri?). Hal ini merupakan suatu pengkondisian dan justru
mereduksi makna perempuan itu sendiri, menempatkan dalam posisi yang tidak
menguntungkan, menjadi sub ordinat, ada nuansa rivalitas antara laki-laki dan
perempuan. Maaf lho ya mungkin karena saya bukan aktivis
perempuan sehingga sudut pandang kita berbeda.
Misalnya untuk kasus perdagangan perempuan (anak-anak, dan termasuk juga
laki-laki) buat saya kasus itu sangat tidak manusiawi (wong manusia kok
diperjualbelikan tanpa membedakan apakah korbanya laki atau perempuan) sehingga
perlu di cegah dan payung hukumnya perlu dibuat. Dari perspektif feminisme?
Saya kurang paham.
Dalam kasus KDRT, sebenarnya ini masalah yang rumit karena menyangkut spesial
relationship dalam sebuah perkawinan. Misalnya dalam kehidupan seorang Gadis
Arivia, filsuf dan aktivis gerakan feminisme,
Dia sangat berbahagia karena memiliki kesiapan mental dan dukungan dari suami
dan anak-anaknya. Tanpa dukungan mereka saya tidak bisa bekerja dengan
maksimal,"katanya. Namun, sesibuk apa pun dia, baik sebagai dosen dan aktivis
perempuan, dia tetap memprioritaskan keluarga. Tak jarang dia mengajak anaknya
ikut keluar kota sekaligus menyelesaikan pekerjaanya.(dari web tokoh Indonesia)
Ini contoh kehidupan seorang aktivis perempuan yang punya kesadaran akan peran
dan fungsi dari masing-masing anggota keluarga yang tidak bisa diabaikan. Lalu
kalo terjadi sebaliknya dalam kehidupan berkeluarga, apakah dengan begitu
dikatakan telah terjadi peminggiran terhadap perempuan??saya pikir kok tidak
sesimpel itu.
Saya pernah mendampingi seorang teman perempuan yang sedang menghadapi masalah
dalam kehidupan perkawinannya, dan saya sarankan ke LBH Perempuan paling tidak
yang tahu aspek-asepk tertentu yang perlu diketahui untuk menyelesaikan
masalahnya, syukur-syukur tetap bisa mempertahankan keluarga---ternyata selama
konsultasi via telepon yang dipermasalahkan oleh LBH tersebut hanya soal
pembagian harta gono-gini jika terjadi perceraian dan sidangkarena merasa ga
cocok dengan suggestion LBH tersebut akhirnya si temen perempuan tadi tidak
jadi menggunakan jasanya dan membuat keputusan sendiri. Pertanyaan saya setelah
itu (dalam hati) adalah apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh aktivis
perempuan tersebut?? Kalo dipikir masuk akal sih sarannya tapi ketika hati
yang bicara kok sangat memalukan dan justru teman saya merasa terpinggirkan
oleh saran tersebut; Dalam diskusi ini saya dapatkan titik tolak perjuangan
feminisme yang disebut peminggiran perempuanyang menghalangiku
untuk masuk memahami gerakan ini.
Kemudian mengenai pengertian monolitik yang anda katakan bahwa Aktivis
bergeraknya bukan di monolitikmaka dalam pikiran saya langsung berkaitan
dengan sistem sosial (seperti kata E.T Hall). Lalu bandingannya ya tentu saja
dengan pluralistik..jadilah Monolitik VS Pluralistikkarena ga nyambung tidak
perlu dibahas. Karena mono yang Anda maksudkan adalah berbagai macam bidang
gerakyang berarti mungkin karena perbedaan stereotip jender...mungkin saya
hanya memperkirakan.
Mohon pencerahannya.
-CI-