Hello Cornelia,

Ya, jelaslah mereka belum mengerti feminis, bahka orang
terpelajar seperti  Cornelia saja masih bingung.
Sebetulnya apa yang dikatakan mereka tentang "ah... itukan
omongan si aktivis saja--lha wong kami tidak merasakan--
boro-boro mikir yang penting keluarga kami tercukupi dan
bisa makan-- itu sudah bersyukur" itu adalah kunci apa
yang dilirik oleh feminisme. Begini, feminisme itu konsep,
teori, metodologi, ya jelas tidak mencapai masyarakat awam
(tidak bisa feminisme hanya dilihat
dari sosok aktivis).

Feminisme banyak juga merupakan pisau analisa, misalnya
tentang mengapa wajah kemiskinan di dunia ini adalah wajah perempuan.
(Kalau kita mau menghubungkan dengan pernyataan masyarakat awam tadi).
Begitujuga soal lingkungan dalam ecofeminism, perempuan
menjadi orang yang paling mengalami kesulitan ketika
lingkungan dirusak. Perempuan orang pertama yang membutuhkan
air untuk kepentingan dapur, masak memasak, mencuci, dan tentu
alat reproduksi perempuan harus bersih, dan air sangat dibutuhkan di
sini.

Selebihnya, coba klik di google (mba pasti tahu
caranya), lalu ketik Vandana Shiva... ini adalah tokoh feminis
lingkungan dari India, di situ anda bisa menemukan
bagaimana konsep ekofeminis (salah satu aliran feminisme) atau feminisme ekologi
membuat analisa panjang tentang persoalan perempuan, kemiskinan,
dan lingkungan.

Atau datanglah ke perpustakaan kami di Jurnal Perempuan,
banyak sekali yang akan Anda temukan.

Saya pikir kalau memang serius ingin memahami feminisme, banyak membaca lebih 
baik.


Mariana

>   Kebetulan saya baru pulang dari semarang dan selama di kota
> tersebut melakukan diskusi kelompok/FGD dengan peserta dari kelompok
> Orang Tua siswa dan satu lagi kelompok Guru SD dan SMP..ketika
> temanya berkaitan dengan isu jender, yang terpahami oleh mereka Pak
> hanya sekedar bahwa laki-perempuan harus sama (mungkin masuk dalam
> terminologi kesetaraan), kata mereka,"misalnya ya dengan contoh
> bahwa bukan lagi ibu di dapur memasak-bapak kerja ke kantor; tapi
> menjadi ibu dan bapak sama-sama pergi bekerja atau bapak membantu
> ibu di dapur". Diharapkan dengan contoh seperti itu maka siswa
> menjadi lebih siap mental menghadapi realitas kehidupan di masa
> mendatang baik untuk anak laki maupun perempuan--kalau temen saya
> bilang menyiapkan tranformasi kehidupan modern buat generasi. Bagi
> mereka bukan masalah kesetaraan(dalam terminologi feminis) tapi
> lebih realistis sebagai persiapan menghadapi berbagai kemungkinan
> kehidupan. Maaf di mereka (kalangan rakyat biasa) tidak ada kamus
>  mengenai "peminggiran". Kenapa saya katakan bahwa mereka itu
> kurang mengerti apa itu feminis, ketika saya tanyakan tentang isu
> kesetaraan-pun jawabnya,"ah..itukan hanya omongan si aktivis
> saja-lha wong kami tidak merasakan--boro-boro mikir yang penting
> keluarga kami tercukupi dan bisa makan--itu sudah bersyukur"---hal
> ini mengindikasikan kesadaran akan peran dan fungsi masing-masing
> anggota keluarga. Ini fakta lapangan lho--seperti yang saya katakan
> di tulisan terdahulu dan rupanya tidak terpahami (malah dianggap judgement).
>    
>   Tanggapan saya hanya untuk poin 1, karena ini yang saya cari dan
> menjadi ganjelan selama ini..yang lain itu mah ga penting
> lagi--syukur-syukur bisa menghibur anda lagi..
>  
> ----------------------------------------------------------------------------------------
>   Point 1, soal mono vs plural: Nggak nyambung. Kalau ruang gerak
> feminisme melingkupi banyak aspek, ini tak berarti bahwa tak
> semuanya memperjuangkan kesetaraan. Simpulan Anda rada simplistis.
> Apakah soalnya di trafficking, atau KDRT, atau nasib buruh
> perempuan, atau poligami, titik tolaknya sama, yakni peminggiran
> perempuan. Problem ini menjelma dalam berbagai bentuk pada
> aspek-aspek kehidupan yang berbeda. Jika tak terjadi peminggiran,
> perempuan akan punya kekuatan tawar lebih besar dalam berhadapan dengan 
> isu-isu tersebut.
>    
>   -CI-
>   He..he..Emang ga nyaaaambung kalo monolitik diartikan sebagai
> area ruang gerak dalam arti bergeraknya dibanyak aspek seperti yang
> Anda sebutkan. Ok deh dapat satu poin tentang ?titik tolak? nya
> yaitu PEMINGGIRAN PEREMPUAN. Titik tolak ini yang menghalangi
> pemahamanku tentang apa itu feminisme dan gerakannya (sampai hari
> ini, ketika mulai tergelitik ketika perdebatan di FPK dimulai dengan
> respons keras terhadap pak Iwan). Kata Peminggiran ini
> mengindikasikan suatu tindakan yang disengaja oleh seseorang atau
> sekelompok orang terhadap orang/sekelompok orang lain..dengan begitu
> ada subjek/pelaku dan objek/korban. Dalam hal ini korbannya adalah
> perempuan, dan pelakunya adalah laki-laki (dan atau perempuan
> sendiri?). Hal ini merupakan suatu pengkondisian dan justru
> mereduksi makna perempuan itu sendiri, menempatkan dalam posisi yang
> tidak menguntungkan, menjadi sub ordinat, ada nuansa rivalitas
> antara laki-laki dan perempuan. Maaf lho ya mungkin karena saya bukan aktivis
>  perempuan sehingga sudut pandang kita berbeda. 
>   Misalnya untuk kasus perdagangan perempuan (anak-anak, dan
> termasuk juga laki-laki) buat saya kasus itu sangat tidak manusiawi
> (wong manusia kok diperjualbelikan tanpa membedakan apakah korbanya
> laki atau perempuan) sehingga perlu di cegah dan payung hukumnya
> perlu dibuat. Dari perspektif feminisme? Saya kurang paham.
>    
>   Dalam kasus KDRT, sebenarnya ini masalah yang rumit karena
> menyangkut spesial relationship dalam sebuah perkawinan. Misalnya
> dalam kehidupan seorang Gadis Arivia, filsuf dan aktivis gerakan feminisme,
>   ? Dia sangat berbahagia karena memiliki kesiapan mental dan
> dukungan dari suami dan anak-anaknya. Tanpa dukungan mereka saya
> tidak bisa bekerja dengan maksimal,"katanya. Namun, sesibuk apa pun
> dia, baik sebagai dosen dan aktivis perempuan, dia tetap
> memprioritaskan keluarga. Tak jarang dia mengajak anaknya ikut
> keluar kota sekaligus menyelesaikan pekerjaanya?.(dari web tokoh Indonesia)
>   Ini contoh kehidupan seorang aktivis perempuan yang punya
> kesadaran akan peran dan fungsi dari masing-masing anggota keluarga
> yang tidak bisa diabaikan. Lalu kalo terjadi sebaliknya dalam
> kehidupan berkeluarga, apakah dengan begitu dikatakan telah terjadi
> peminggiran terhadap perempuan???saya pikir kok tidak sesimpel itu.
>   Saya pernah mendampingi seorang teman perempuan yang sedang
> menghadapi masalah dalam kehidupan perkawinannya, dan saya sarankan
> ke LBH Perempuan paling tidak yang tahu aspek-asepk tertentu yang
> perlu diketahui untuk menyelesaikan masalahnya, syukur-syukur tetap
> bisa mempertahankan keluarga---ternyata selama konsultasi via
> telepon yang dipermasalahkan oleh LBH tersebut hanya soal pembagian
> harta gono-gini jika terjadi perceraian dan sidang?karena merasa ga
> cocok dengan suggestion LBH tersebut akhirnya si temen perempuan
> tadi tidak jadi menggunakan jasanya dan membuat keputusan sendiri.
> Pertanyaan saya setelah itu (dalam hati) adalah apa sebenarnya yang
> diperjuangkan oleh aktivis perempuan tersebut?? Kalo dipikir masuk
> akal sih sarannya tapi ketika ?hati? yang bicara kok sangat
> memalukan dan justru teman saya merasa ?terpinggirkan? oleh saran
> tersebut; Dalam diskusi ini saya dapatkan titik tolak perjuangan
> feminisme yang disebut ?peminggiran perempuan??yang menghalangiku
>  untuk masuk memahami gerakan ini.
>    
>   Kemudian mengenai pengertian monolitik yang anda katakan bahwa
> Aktivis bergeraknya bukan di ?monolitik??maka dalam pikiran saya
> langsung berkaitan dengan sistem sosial (seperti kata E.T Hall).
> Lalu bandingannya ya tentu saja dengan pluralistik..jadilah
> Monolitik VS Pluralistik?karena ga nyambung tidak perlu dibahas.
> Karena mono yang Anda maksudkan adalah berbagai macam bidang
> gerak?yang berarti mungkin karena perbedaan stereotip
> jender...mungkin saya hanya memperkirakan.
>    
>   Mohon pencerahannya.
>   -CI-

Kirim email ke