Rekan Tobing dan Totot dan FPK, Apa yang diutarakan Rekan Tobing dan Totot mengenai manusia "multitasking" memang sangat relevan bagi manusia di jaman "deg-degan" ini, lebih khusus lagi untuk manusia yg hidup di Indonesia. Saya sebut jaman "deg-degan", karena di jaman ini tidak sedikit dari pekerja yg merasa selalu tidak "save" dengan pekerjaan atau posisinya. setiap saat bisa terjadi PHK,dsb. Setiap saat selalu "deg-degan".
Ide manusia multitasking sebenarnya sudah muncul sebelum abad pertengahan, ketika ada semboyan "non scholae sed vitae discimus" (artinya kira-kira kita belajar bukan untuk sekolah, untuk nilai,utk gelar, tapi untuk hidup). Konsep ini mengisyaratkan suatu tujuan utama dari belajar, yaitu mempersiapkan manusia agar bisa "survive" seperti dikatakan mas Tobing, dan untuk bisa "survive" itu diperlukan "multitasking". Saya sendiri yakin, orang-orang yg bisa "survive" di jaman ini adalah orang-orang yang "multitasking", bukan pertama-tama orang-orang yg hanya memiliki gelar akademik. Bagaimana bisa menjadi manusia multitasking? Kebanyakan dari kita yang generasi 35 tahun keatas mungkin tidak memiliki peluang seperti anak-anak sekarang ini untuk bisa mengikuti berbagai kursus ini-itu. Maka keberanian mengembangkan dan memanfaatkan talenta (minat-bakat-hobby) seperti rekan Totot sangat diperlukan. Saya sendiri merasakan, bahwa hobby saya dalam bidang seni dan sedikit bakat berbahasa asing sangat membantu saya untuk bisa "survive". Untuk anak-anak diperlukan arahan, dukungan dan kejelian serta kebijaksanaan orang tua dalam mempersiapkan anak-anak menjadi manusia "multitasking" seperti yg sudah dilakukan dgn sangat baik oleh mas Tobing dan Mas Totot. Dari pengalaman juga saya melihat bahwa rajin membaca, banyak bergaul dan keberanian mengikuti berbagai kursus ketrampilan akan mendukung proses menjadi manusia multitasking, dan keberanian memulai usaha (sampingan) seperti rekan kita yg berjualan es krim itu akan sangat mendukung kita untuk "survive".Selain itu hal yg juga saya kira diperlukan adalah tetap semangat. Mungkin jaman "deg-degan" yg dialami banyak pekerja Indonesia saat ini juga ada sisi positifnya. Kalau beberapa waktu lalu kita pernah mendiskusikan masalah "jual beli gelar", "plagiat" atau "jual-beli jabatan", jaman "deg-degan" ini bisa menjadi semacam seleksi alam. Maknanya bahwa cara-cara tsb.ternyata tidak ampuh untuk bisa "survive" di jaman ini. Apakah dari titik ini kita lalu bisa melihat, bahwa kualitas dalam pendidikan itu sangat diperlukan? Saya kira iya. Saya melihat orang-orang berkualitas, ber-"multitasking" lebih banyak terhindar dari penyakit "deg-degan". Salam Mulyadi --- In [email protected], "Totot" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Nah, bang Tobing datang dengan salah satu pemikiran. > Multitasking people. Bisakah kita mempersiapkan > anak2 kita tanpa mengorbankan masa anak2nya? > ................. > Maaf, bukan mau unjuk gigi atau sombong, tapi sekedar memberi > dukungan kepada pemikiran mengenai multitasking tadi. Anak saya > sih krn msh TK, skr belum saya kursusin apa2. Tapi karena anak > suka sekali menari dan menyanyi, ya pengennya nanti akan saya > kursuskan di bidang kesenian saja. Semoga saya sanggup membiayainya. > > > salam, > totot > > ----- Original Message ----- > From: "Tobing Rinsan" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Monday, April 30, 2007 4:33 PM > Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re:Sarjana Nuklir Berjualan Es Krim > .................... > > Saya berfikir bahwa setiap orang yang ingin *survive* di Indonesia ini > > haruslah yang multitasking. Setidaknya harus memiliki beberapa kemampuan > > untuk bisa bertahan. Jika kita hanya menguasai satu keahlian untuk > > *survive*mungkin akan menjadi seperti bapak-bapak yang kehilangan > > pekerjaan utamanya > > yang dulu telah menciptakan zona nyamannya dan tidak siap dengan keadaan > > sekarang yang tiba-tiba berubah. > > > > Sekali lagi, mari kita siapkan anak-anak kita menjadi *multitasking > > person*ketika masih mampu. >
