Benar Mas Totot, jangan sampai kehilangan denyut kehidupan, jangan sampai kehilangan semangat.
Salam Mulyadi --- In [email protected], "Totot" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Jaman deg-degan ya pak.... saya kok akoord dgn anda :-) > > Moga2 saja nanti ke depan, suasana dan kondisi negara kita > sudah tidak bikin kita deg-degan lagi, semoga.... > tapi bukan berarti kehilangan denyut kehidupan lho ya... > > salam, > totot > > > ----- Original Message ----- > From: "stephanusmulyadi" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Tuesday, May 01, 2007 4:24 PM > Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Menjadi Manusia Multitasking > > > > Rekan Tobing dan Totot dan FPK, > > Apa yang diutarakan Rekan Tobing dan Totot mengenai manusia > > "multitasking" memang sangat relevan bagi manusia di jaman "deg-degan" > > ini, lebih khusus lagi untuk manusia yg hidup di Indonesia. Saya sebut > > jaman "deg-degan", karena di jaman ini tidak sedikit dari pekerja yg > > merasa selalu tidak "save" dengan pekerjaan atau posisinya. setiap > > saat bisa terjadi PHK,dsb. Setiap saat selalu "deg-degan". > > > > Ide manusia multitasking sebenarnya sudah muncul sebelum abad > > pertengahan, ketika ada semboyan "non scholae sed vitae discimus" > > (artinya kira-kira kita belajar bukan untuk sekolah, untuk nilai,utk > > gelar, tapi untuk hidup). Konsep ini mengisyaratkan suatu tujuan utama > > dari belajar, yaitu mempersiapkan manusia agar bisa "survive" seperti > > dikatakan mas Tobing, dan untuk bisa "survive" itu diperlukan > > "multitasking". Saya sendiri yakin, orang-orang yg bisa "survive" di > > jaman ini adalah orang-orang yang "multitasking", bukan pertama-tama > > orang-orang yg hanya memiliki gelar akademik. > > > > Bagaimana bisa menjadi manusia multitasking? > > Kebanyakan dari kita yang generasi 35 tahun keatas mungkin tidak > > memiliki peluang seperti anak-anak sekarang ini untuk bisa mengikuti > > berbagai kursus ini-itu. Maka keberanian mengembangkan dan > > memanfaatkan talenta (minat-bakat-hobby) seperti rekan Totot sangat > > diperlukan. Saya sendiri merasakan, bahwa hobby saya dalam bidang seni > > dan sedikit bakat berbahasa asing sangat membantu saya untuk bisa > > "survive". > > > > Untuk anak-anak diperlukan arahan, dukungan dan kejelian serta > > kebijaksanaan orang tua dalam mempersiapkan anak-anak menjadi manusia > > "multitasking" seperti yg sudah dilakukan dgn sangat baik oleh mas > > Tobing dan Mas Totot. > > > > Dari pengalaman juga saya melihat bahwa rajin membaca, banyak bergaul > > dan keberanian mengikuti berbagai kursus ketrampilan akan mendukung > > proses menjadi manusia multitasking, dan keberanian memulai usaha > > (sampingan) seperti rekan kita yg berjualan es krim itu akan sangat > > mendukung kita untuk "survive".Selain itu hal yg juga saya kira > > diperlukan adalah tetap semangat. > > > > Mungkin jaman "deg-degan" yg dialami banyak pekerja Indonesia saat ini > > juga ada sisi positifnya. Kalau beberapa waktu lalu kita pernah > > mendiskusikan masalah "jual beli gelar", "plagiat" atau "jual-beli > > jabatan", jaman "deg-degan" ini bisa menjadi semacam seleksi alam. > > Maknanya bahwa cara-cara tsb.ternyata tidak ampuh untuk bisa "survive" > > di jaman ini. Apakah dari titik ini kita lalu bisa melihat, bahwa > > kualitas dalam pendidikan itu sangat diperlukan? Saya kira iya. Saya > > melihat orang-orang berkualitas, ber-"multitasking" lebih banyak > > terhindar dari penyakit "deg-degan". > > > > Salam > > Mulyadi >
