"Kehidupan di Bumi semakin berada dalam risiko untuk disapu oleh 
bencana, seperti pemanasan global mendadak, perang nuklir, virus 
hasil rekayasa genetika, dan bahaya lain." 

(Fisikawan Stephen Hawking, sekembali dari penerbangan gravitasi 
nol, 26 April 2007) 

Oleh Ninok Leksono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/02/utama/3499112.htm
=============================


Apa yang menjadi kerisauan ahli fisika kenamaan Inggris itu 
sebenarnya juga telah cukup lama menjadi kerisauan banyak orang. 
Bagaimana cara untuk menyelamatkan ras manusia kalau Bumi sudah tak 
bisa dihuni lagi? 

Seperti juga telah disinggung oleh Hawking, yang dikenal luas di 
dunia karena penelitiannya di bidang "lubang hitam" dan bukunya yang 
laris, A Brief History of Time, pemanasan global bisa menjadi pemicu 
yang membuat Bumi tak bisa lagi dihuni. Penyebab lain bisa jadi 
karena Bumi sudah tak sanggup lagi menopang kehidupan karena jumlah 
manusia jadi terlalu banyak dan tak tersedia teknologi dan lahan 
lagi untuk menumbuhkan tanaman pangan yang dibutuhkan manusia. Atau, 
lingkungan hidup sudah rusak terlalu parah akibat polusi sehingga—
misalnya saja—tak ada lagi persediaan air bersih yang mencukupi 
untuk menopang kehidupan. 

Hawking—dengan kondisi fisik yang terbatas—pekan silam terbang 
dengan jet khusus yang memungkinkannya merasakan kondisi tanpa gaya 
berat atau gravitasi nol. Pertama, ia—sebagai empu ilmu tentang 
gravitasi—ingin merasakan efek ketiadaan gravitasi. Kedua, ia pro 
terhadap koloni angkasa, dengan latar belakang seperti yang ia 
kemukakan di atas bahwa pada satu titik nanti Bumi tidak sanggup 
lagi menopang kehidupan. 

Bumi lain 

Dalam konteks koloni angkasa, pikiran praktis mungkin membawa 
ingatan manusia pada Bulan, atau planet Mars, sejauh yang terpikir 
adalah lingkungan Tata Surya. Pada lingkungan ini jelas Merkurius 
yang paling dekat dengan Matahari mustahil diperhitungkan karena 
suhu demikian panas pada siang hari (350 derajat Celsius) dan amat 
dingin pada malam hari (minus 170 derajat Celsius). Demikian pula 
Venus yang diselimuti awan karbon dioksida. Planet jauh seperti 
Jupiter dan Saturnus dingin dan dipenuhi metana. 

Bahkan, untuk bisa tinggal di Bulan dan Mars, manusia harus bisa 
lebih dulu menciptakan lingkungan yang "bisa ditinggali" seperti 
halnya Bumi, khususnya dalam hal penyediaan udara untuk bernapas dan 
bahan pangan untuk kelangsungan hidup. Ini tentu perlu investasi 
besar. 

Jadi paling masuk akal tentu koloni ke planet lain yang kondisinya 
sama atau sangat mirip dengan Bumi. Hanya saja, kalaupun ada, planet 
semacam ini pasti di luar Tata Surya (ekstra-solar), yang jaraknya 
pasti masih di luar jangkauan teknologi manusia yang ada sekarang 
ini. 

"Super-Earth" 

Di antara miliaran bintang yang ada, kebolehjadian menemukan planet 
seperti Bumi jelas ada, dan salah satunya memang telah ditemukan, 
yakni planet yang mengelilingi bintang redup Gliese 581, yang 
terletak pada jarak 20,5 tahun cahaya dari Bumi, dan berada pada 
Rasi Libra. (Catatan: Jarak Bumi-Gliese 581 adalah setara dengan 
20,5 x 9.500.000.000.000 kilometer) 

Seperti kita baca beritanya di harian ini pekan silam, penemuan 
dilakukan dengan teleskop European Southern Observatory (ESO) 
bergaris tengah 3,6 meter yang ada di Gurun Atacama, Cile. 

Salah satu yang menjadi landasan bagi para astronom penemu untuk 
mengatakan planet tersebut serupa dengan Bumi adalah kemungkinan 
adanya air yang mengalir di permukaannya. Ini bisa terjadi karena 
suhu planet tersebut sedang, artinya tidak seekstrem Merkurius. 
Stephane Udry dari Observatorium Geneva yang mengepalai penulisan 
laporan penemuan ini di jurnal Astronomy & Astrophysics terbitan 
mendatang menyebutkan, suhu rata-rata planet ini antara 0 derajat 
dan 40 derajat Celsius, jadi memungkinkan adanya air dalam wujud 
cair. 

Dengan adanya air dalam bentuk cair, ada pula kemungkinan terdapat 
kehidupan di planet yang oleh para astronom lalu disebut "Super-
Earth" ini. Lebih jauh lagi disebutkan bahwa radius planet hanya 1,5 
kali radius Bumi, dan model yang dibuat memperlihatkan planet ini 
merupakan planet batuan—seperti halnya Bumi—atau tertutup oleh 
lautan. 

Karena sifat khasnya ini, planet Bumi Super diyakini akan jadi fokus 
penyelidikan misi antariksa mendatang, kata Xavier Delfosse, anggota 
tim penemu dari Universitas Grenobles. Misi yang dimaksud Delfosse 
terutama yang bertujuan untuk mencari kehidupan ekstraterestrial (di 
luar Bumi). 

Dengan teleskop yang akan dipangkalkan di ruang angkasa nanti akan 
coba dilacak apakah ada jejak atau "tanda tangan" yang bisa 
diasosiasikan dengan proses biologi. Seperti dilaporkan BBC News 
(25/4/2007), observatorium akan coba melacak ada tidaknya gas 
atmosfer seperti metana, bahkan mungkin juga marka khlorofil, pigmen 
dalam tanaman Bumi yang memainkan peranan penting dalam fotosintesa. 

Peranan astronomi 

Dalam kaitan penemuan planet yang kemudian diberi kode Gliese 581 C 
ini, orang bisa mengagumi teknik yang diterapkan para astronom untuk 
menemukan obyek sekecil ini di langit yang jauh, bahkan sampai tahu, 
bahwa planet ini mengorbit bintang induknya hanya dalam tempo 13 
hari. Artinya, satu tahun di Gliese 581 C hanya berlangsung 13 hari. 
Planet tetap bisa dalam kondisi "memungkinkan untuk kehidupan"—atau 
dalam istilah lain tetap masuk dalam "Zona Goldilocks"—karena meski 
jaraknya ke Bintang hanya 1/14 jarak Bumi-Matahari (sekitar 18 juta 
kilometer), ia tetap tidak kepanasan. Ini karena bintang induknya 
redup, tidak sepanas Matahari yang suhu permukaannya hampir 6.000 
derajat Celsius. 

"Super-Earth" telah menimbulkan gairah baru dalam pencarian planet 
dan kehidupan ekstraterestrial karena ia memang berbeda dengan 200 
eksoplanet yang sejauh ini telah ditemukan. 

Kalau memang kehidupan ekstraterestrial bisa dikonfirmasikan, 
manusia Bumi jelas semakin punya harapan untuk melestarikan rasnya 
tanpa harus mengembangkan lingkungan seperti halnya kalau ingin 
hidup di Bulan atau Mars. 

Bisa juga kehidupan ekstraterestrial di Gliese 581 C atau di planet 
lain jauh lebih canggih. Kalau hal ini yang terjadi, siapa tahu 
manusia Bumi bisa mengirim sinyal SOS ke penghuni di sana, dan 
dengan teknologi transportasi angkasa yang lebih maju, mereka bisa 
mengirim bantuan ke Bumi dengan lebih cepat. 

Urusan pindah ke luar Bumi, di luar ada tidaknya habitat alternatif, 
erat terkait dengan wahana yang tersedia. Kini dengan hanya mampu 
membuat pesawat antariksa yang berkecepatan sekitar 100.000 
kilometer per jam, bisa dihitung berapa lama wahana buatan manusia 
ini akan tiba di planet Gliese 581 C. 

Koloni angkasa tak diragukan lagi akan terus menjadi impian manusia 
yang tak akan pernah padam. Dengan segala permasalahan rutin 
kebumian yang melilit umat manusia sekarang ini, "langkah persiapan" 
untuk menuju ke sana telah dilakukan oleh bangsa maju, seperti 
berlatih tinggal lama di ruang angkasa, yang mengekspos mereka pada 
keadaan tanpa gaya berat, seperti yang dialami Hawking selama 8 x 25 
detik. 

Namun, semua itu hanya akan ada artinya jika umat manusia pertama-
tama lolos dulu dari ancaman serius yang kini tengah mengepungnya, 
yang juga telah disinggung Hawking, apakah itu pemanasan global atau 
perang nuklir. Kalau umat manusia tak lolos dari ancaman ini, akan 
sia-sialah rencana pindah habitat, meski penemuan Gliese 581 C 
memberi peluang bahwa tempat tinggal seperti Bumi ada di Semesta, 
walaupun sungguh nun jauh di langit sana. 



Kirim email ke