Ditengah kondisi bangsa indonesia yang dilanda krisis ekonomi, serta meningkatnya jumlah penganguran serta belum terciptannya ruang kerja. Mereka dapat berpikir secara jernih untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi dengan mencari nafkah secra halal. Meskipun harus menempuh perjalanan berkilo-kilo,mereka mampu untuk menghibur masyarakat. Dengan itu perlu adanya toleransi yang antara yang punya binatang sebagai teman untukmencarinafkah sehingga antara tuan dan binatang peliharaannya da kesalingtergantungan. Dimana akan tercipta hubungan yang sehat antara majikan dan binatangnya, sehingga kan terjalin rasa senasib sepenanggungan. Salam
--- In [email protected], "Totot" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Wah, saya rasa kalau di Indonesia belum sampai pada tahap itu, > wong manusianya saja belum terurus dengan baik kok pak. :-) > > Setahu saya sih, disini baru sebatas ada instansinya, tapi gak tahu > sampai seberapa tanggungjawabnya. Misal Sudin Peternakan, > kalau ndak ada kasus flu burung, mereka toh cuek saja. Yang > bergerak malah DepKes (ndak tahu saya, Sudin Peternakan ini di > bawah koordinasi siapa). Begitu ada kasus, malah pemda masing2 > yang pada kelimpungan bikin perda. > > Namun pak, kalau ini dihubungkan dengan penghasilan dan hajat hidup, > tidak dapat dipungkiri, hewan menjadi tumpuan harapan banyak orang. > Contoh: topeng monyet, tukang sado, tukang kuda tunggang, peternak > modal kecil, dan lain2. Mungkin mereka bukan tidak tahu atau tidak peduli, > tapi karena desakan waktu dan biaya, mereka terpaksa menyiksa demi > penghidupan dapur mereka. > > Mungkin begitu pak, yg saya tahu selama ini. Pak Wal sendiri mungkin > pernah dapat info mengenai instansi2 yang berkewenangan mengatur > hewan2 di Indonesia pak? Selain Sudin Peternakan yg juga tidak > begitu jelas tugasnya, saya kurang tahu. Atau ada rekan lain yg tahu? > > Salam, > Totot
