Pak Paulus Tanuri, Memang, jika kita kalkulasi jumlah "out-put" para ahli dan teknisi bidang IT dengan daya serap pasaran kerja naga-naganya akan menuju pada kondisi jenuh, atau malah "booming". Tapi untungnya, bidang IT (komputer) cepat sekali berkembang bahkan terbuka segmen-segmen pasar dan membuka lapangan kerja baru (e-biznis, e-learning, internet banking, penciptaan program2 baru yang spesifik, dan studi anti virus serta hacker-nya), yang jika kreatif dan inovatif mampu menghasilkan karya-2 mahal tanpa harus menjadi pekerja gajian.
(Saya ucapkan selamat-lah pada Pak Paulus Tanuri yang telah mempunyai kemampuan khusus dalam bidang IT ini...) Lain dengan teknisi dan ahli dalam bidang nuklir, boleh dibilang kompetisinya tidaklah se-tinggi di banding para ahli atau teknisi bidang IT di negeri kita. Daya serap terhadap out-put pendidikan tentang nuklir juga terbatas, lebih besar diserap di instansi riset pemerintah (LIPI, BATAN dan Depdikbud) ketimbang di industri sektor swasta. Formasi pekerjaan bagi para ahli yang punya keahlian spesifik tentang nuklir (radiasi) tidak banyak. Institusi untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kepakaran nuklir (Radiokimia dan Fisika Nuklir serta teknologi aplikasinya)tidak-lah seramai institusi pendidikan komputer/IT yang banyak menjamur. Oleh karenanya, seseorang yang telah mempunyai pengalaman dan kemampuan serta kewenangan dalam bidang nuklir, dari basic sains maupun aplikasi teknologi-nya sesungguhnya aset yang berharga untuk riset dan pendukung kearah pemikiran pengembangan tenaga alternatif seperti PLTN, dll-nya. Di milist ini banyak rekan-rekan ahli dalam kepakaran ini, selain Pak Kusmayanto Kadiman di RISTEK juga ada pakar nuklir kita, salah satunya Bung Iwan Kurniawan, mungkin beliau bisa memberikan gambaran tentang peluang-peluang kerja bidang ini dan kesempatan bergabung dalam mega proyek Muria..... Salam, kcn,- --------------------- --- In [email protected], "Paulus Tanuri" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Kancono, > Maaf nih pak, tapi saya tidak bisa melihat se optimis Bapak. > Untuk sarjana nuklir mungkin saya belum ada kenalan. Tapi yang dari profesi > yang sekarang katanya sedang naik daun, kebetulan bidang saya. > Sarjana Komputer, berapa banyak Sarjana Komputer yang direkrut oleh > institusi pemerintah ? > Menkominfo misalnya. Sisanya dari mana ? > Dan di kepolisian, bidang cybercrime contohnya, mungkin bisa dicek ada > berapa banyak lulusan sekolah Ilmu Komputer. Yang lainnya dari mana ? > atau.. di departemen Tata Kota, ada berapa banyak insinyurnya ? > Dan memang di luar negeri tenaga-tenaga profesional itu dihargai sangat > tinggi. Di Indonesia, yang penting lulusan IPDN (kalau mau kerja di > departemen dalam negeri), STT Telkom (kalau mau kerja di telkom). atau > sejenisnya > > > > Regards, > Paulus T. > > > Kancono W Abdurrasyid <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Wach....sayang sekali...bagi tenaga profesional terutama yang > > keluaran PT DI, > > apalagi sarjana nuklir, mengapa tak mencoba nasib di industri / tempat > > lain? > > Institusi pemerintah: BATAN, PPNY, PPN-Kartini-Bandung, dan BATAN Pasar > > Jum'at serta SERPONG. Ada banyak lagi info untuk mengaktualisasikan > > kepakarannya sekaligus mencari rejeki, di MINT-Malaysia posisi profesional > > itu termasuk barang amat sekali berharga, apalagi sekarang dalam menjana > > visi Malaysia 2020 dengan budget RMK-9. > > > > duuuh....prihatiin,.... > > kcn,- > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
