Kesalahan developer reklamasi adalah, mereka tidak menyertakan komunitas nelayan sebagai partner jangka panjang proyek. Padahal kalau developernya bisa lebih cerdas, proyek reklamasikan seharusnya dapat juga memberdayakan komunitas nelayan di pesisir, mungkin bisa dengan membangun kampung nelayan yang lebih layak sehingga bisa dijadikan obyek wisata untuk penghuni reklamasi ataupun turis nantinya, dan menjadi income tambahan buat developer.
Nelayan juga dapat diberikan training dan kredit modal oleh developer, supaya bisa membuat kapal yang lebih bertenaga lebih dan tangkapannya lebih banyak dan bagus, anak2nya dikasih beasiswa, istrinya dikasih duit untuk usaha, dan nelayan2 tersebut karena dianggap partner oleh developer bisa dipakai sebagai karyawan part-time disaat senggang, bisa sebagai staff Marina karena latar belakang tentang lingkungan lautnya yang cukup memadai. Anak2nya yang dikasih beasiswa juga nanti bisa dijadikan karyawan masa depan, sehingga lebih murah. Kalo masalah dana sih rasanya tidak mungkin tidak ada, karena bagian ini sih sebenarnya termasuk 'peanuts' buat developer. Apalagi dananya ini cuman seberapa, tapi benefits-nya yang didapat itu lho, intangible. Ini kan juga bagian dari CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan. Itung2 berkarya juga buat bangsa, daripada capek mulu dijadiin musuh, gusur sana gusur sini, ribut ma LSM itu LSM ini. Coba berpikir jangka panjang dengan menjadikan komunitas nelayan ini partner yang strategis. Sekarang abad 21 bung, bukan abad pertengahan! p --- In [email protected], firdaus cahyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > apakah dengan membawa ke darat nasib nelayan akan lebih baik? saya rasa 99% tidak. Saya punya pengalaman saat mengadvokasi kasus reklamasi pantai timur surabaya. Kasus di situ sama persis dengan reklamasi pantura jakarta dimana ratusan hektar hutan bakau digusur untuk perumahan mewah. Nelayan di situ akhirnya terpakasa berpindah profesi menjadi kuli bangunan. Apakah itu layak? > Perlu diingat sekali lagi reklamasi pantura jakarta diperuntukan untuk pembangunan kawasan komersial dan perumahan mewah orang2 orang kaya.Adilkah bila sumber-sumber kehidupan nelayan (ekosistem pantai) dihancurkan untuk kepentingan orang2 kaya? > > Menurut saya nelayan pantai utara di jakarta harus diberdayakan tanpa alih profesi. Artinya upaya penghancuran sumber2 kehidupan nelayan harus segera dihentikan terlebih dahulu sebelum memeberdayakan mereka menjadi nelayan 'modern'.. > > kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Minta tolong kalau ada yg bisa bantu, coba di data semenjak adanya Pemerintahan Indonesia sudah ada berapa banyak program untuk pemberdayaan nelayan? Ada transmigrasi nelayan, ada mekanisasi, nelayan unggulan, dan seterusnya....kini di tahun 2000an lihat kehidupan nelayan nya apakah beranjak lebih baik???? > > Yg kehidupannya membaik adalah pengelola program buat nelayan???? Dan itu tidak hanya untuk nelayan Jakarta...tetapi nelayan seluruh Indonesia. > > Kalau ada kesempatan memperbaiki nasib didarat bagi nelayan2 itu kenapa tidak? Janganlah membantu mereka untuk tetap jadi nelayan pantai/tradisionil yg belum tentu bisa membuat nasib mereka lebih baik.....yg memang hidupnya didarat sebaiknya tidak usahlah menyarankan agar nelayan harus begini/begitu kalau belum pernah merasakan benar jadi nelayan.... > > Salam > Kukuh Kumara >
