Rekans, 

Sebelum merumuskan sistem pendidikan dan sebelum memasang pondasinya
mestinya ditentukan dulu tujuan yg hendak dicapai. Jadi tujuan
pendidikan harus jelas dulu. Kalau tujuannya tidak jelas, semua aspek
lain tidak akan jelas juga. Maka hasilnya adalah pelaksanaan
pendidikan yang kacau balau.
Pertanyaan sekarang, apa sih tujuan pendidikan di Indonesia?

Kalau kita bicara soal pendidikan nasional, berarti harus ada (satu)
tujuan utama pendidikan nasional. Seluruh lembaga pendidikan di
Indonesia pertama-tama harus mengarah kepada tujuan utama itu,
sementara mereka juga tetap terbuka untuk mengembangkan tujuan khusus
sesuai visi-misi lembaga pendidikan masing-masing.

Penentuan tujuan pendidikan nasional tidak bisa terlepas dari politik
pendidikan. Namun bukan pendidikan yang dipolitisi. Dalam ranah
politik, para politisi pendidikan merumuskan tujuan pendidikan
nasional, dan bersama dengan pihak-pihak lain yg berkompeten
selanjutnya menentukan sistem dan skema pendidikan sehingga bisa
diterapkan oleh pelaksana pendidikan. Politisi pendidikan bukan lalu
berarti orang dari partai politik ttu yg lalau bicara soal pendidikan
namun buta soal pendidikan, namun mereka adalah para pemikir, para
pakar pendidikan, para penggagas yg melontarkan ide berdasarkan hasil
penelitian yang mendalam dan teruji.

Ambil contoh sederhana misalnya penyusunan kurikulum. Bagaimana kerja
para "peramu" pendidikan mungkin bisa saya ceritakan sedikit
pengalaman saya. Untuk menyusun sebuah kurikulum di sebuah sekolah
tinggi Tehnik Mesin, Institut Berufspaedagogik TU Dresden,Jerman, di
mana saya sekarang bergabung, membutuhkan waktu 10 tahun riset. Coba
kita bandingkan dengan penyusunan kurikulum di Indonesia yg bisa
berganti setiap tahun.
 
Kesan saya, maaf ini hanya kesan pribadi dan tidak bisa dijadikan
pegangan, bahwa dalam penentuan kebijakan di bidang pendidikan (tidak
tahu di bidang lainnya), banyak hal yang dibuat sekedar saja atau
berdasarkan kepentingan sesaat (kepentingan siapa?) atau ikut "trend"
(asing?). Hasilnya memang bisa tumpang tindih atau bahkan bertolak
belakang antara kebijakan satu dgn lainnya, sehingga tujuan pendidikan
(kalau pernah ada) tidak bisa tercapai. Hadirnya ketentuan mengenai
sertifikasi guru yg tidak diikuti petunjuk pelaksana yg jelas adalah
salah satu contoh "kesekedaran" itu. Terbitnya UU mengenai anggaran
pendidikan yg tidak terrealisasi adalah contoh lainnya.

Masalah rombak-merombak nampaknya Indonesia memang jagonya. Sejak
tahun 80an hampir setiap menteri Pendidikan selalu merombak kebijakan
menteri sebelumnya (sesuai dgn selera/kepentingan
masing-masing?).Seakan-akan tidak ada benang merahnya antara menteri
satu dengan lainnya. Celakanya perombakan itu rupa-rupanya lebih
memenuhi tuntutan kebutuhan "proyek" dari pada tuntutan tujuan
pendidikan nasional.Kalau sudah begitu mau apa?

Salam
Mulyadi

--- In [email protected], "luka_igna"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dasar pendidikan harus kuat, karena sebagai pondasi terbentuknya 
> sistem pendidikan yang lebih capabel sehingga mampu menggangkat 
> pendidikan lebih baik. Kalau dasar dari tidak kuat bagaimana 
> kelangsungan hidup dari pendidikan itu sendiri. 
> salam igna 
> 
> 
> --- In [email protected], "cain_oo2000" 
> <cain_oo2000@> wrote:
> >
> > cain_002000 or indra kurnia wrote:
> >                     lagi sistem pendidikan
> >  bicara mengenai pendidikan di indonesia, ibarat memakan buah 
> simala 
> > kama.entah kenapa dari dulu para analisa sistem pendidikan belum 
> > bisa merumuskan sistem pendidikan yang memang capabel bagi 
> > masyarakat indonesia yang heterogen. bagi penulis yang awam 
> mengenai 
> > masalah ini, akar permasalah terletak di awal perumususan model 
> > pendidikan. dimana saat input kebijakan tersebut tidak sinkron 
> > dengan perumusan masalah kebijakan pendidikan,sehingga berimbas 
> > sampai ke tahap evaluasi kebijakan tersebut. bicara mengenai 
> sistem, 
> > idealnya sistem  merupakan unit-unit kecil yang saling berkaitan 
> > satu sama lain, dan apabila salah satu dari unit-unit tersebut 
> rusak 
> > maka rusak pula lah unit yAng lain. disatu sisi bisa kita lihat 
> > memang ada permasalah dari unit-unit didalam sitem tersebut, entah 
> > itu input atau output. terlepas dari semua hal diatas, yang perlu 
> > diperhatikan agar kebijakan pendidikan kita bisa survive ada 
> > beberapa hal yang harus di perhatikan
> > 1.rombak semua  kebijakan di bidang pendidikan yang tidak sesuai 
> > dengan corak pendidikan bagi masyarakat indonesia
> > 2.perhatikan bagaimana merumuskan kembali kebijakan ( bagaimana 
> cara 
> > mekanisme perumusan kebijakan)
> > 3. konsistensi penerapan kebijakan
> > mungkin tiga point diatas bisa memberikan sedikit gambaran,agar 
> > kebijakan tersebut bisa survive dengan perkembangan zaman
> >
>


Kirim email ke