Salam,

Saya membahas penggunaan imbuhan me-kan dan me-i dalam penjelasan Pak Alfons
dengan keterbatasan pemahaman saya akan Tatabahasa Indonesia. Saya merasa
kurang setuju dengan penjelasan yang mengatakan bahwa menemukankan harus
diikuti benda dan bukan orang, lalu menemui harus dikuti oleh orang dana
bukan benda. Saya menagtakan bahwa orang juga adalah benda.

Dalam struktur bahasa Indonesia ada yang disebut dengan objek pelaku dan
objek penderita. Saya melihat bahwa objek setelah kata  menemukan dan
menemui apakah itu orang atau benda tidak menjadi masalah; apakah objek
tersebut objek penderita atau objek pelaku. Apalagi ada penjelasan yang
mengatakan bahwa penggunaan menemukan dan menemui dilihat dari tingkat
kesulitan atau  untuk dapat melihat atau bertemu dengan objeknya ketika
objek tersebut adalah orang atau apakah orang tersebut yang menjadi objek
telah diketahui sebelumnya keberadaannya. Penjelasan yang menurut saya tidak
pas.

Sebagai perbandingan, dalam bahasa Inggris yang sedikit saya pahami, dalam
pelajaran *Causative Have and Get* ada juga membahas mengenai objek pelaku
dan objek penderita ini atau bisa dikatakan objek yang melakukan atau
diperlakukan. Hanya sesederhana itu saja. Kembali ke kata menemukan dan
menemui, saya kira setelah kata-kata kerja tersebut, kita bisa menempatkan
orang sebagai objeknya dan pada kata menemui orang tersebut adalah objek
pelaku dan pada kata menemukan, orang tersebut adalah objek penderita.

Terimakasih.

CMIIW.
Rinsan Tobing




On 5/4/07, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Oleh Alfons Taryadi
> Pengamat Bahasa Indonesia
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/04/utama/3500482.htm
> ===========================
>
> Tulisan ini dipicu oleh catatan saya tentang seorang asing yang
> berusaha memakai bahasa Indonesia dengan betul dan baik.
>
> Pada tahun 1977, saya mengikuti ceramah tentang struktur sosial di
> Luwu Selatan yang berlangsung di LEKNAS-LIPI, Jakarta. Pembicara
> seorang antropolog bernama Shelly Errington. Sehabis ceramah ia minta
> maaf atas bahasa Indonesianya yang jelek. Taufik Abdullah yang waktu
> itu direktur LEKNAS mengatakan bahwa penceramah berbahasa Indonesia
> dengan baik, bahkan lebih baik daripada kebanyakan ahli ilmu sosial
> dari kalangan bangsa Indonesia sendiri.
>
> Pada ceramahnya Errington beberapa kali terpeleset memakai akhiran
> -kan atau akhiran -i. Yang menarik, saban salah, ia melakukan koreksi.
> Itulah yang mengesankan.
>
> Dengan ingatan akan peristiwa itu, saya mengajak Anda memerhatikan dua
> kalimat dari berita sebuah koran tahun lalu. (1) Dari kamar hotel
> tersebut polisi menemukan sejumlah obat pereda rasa sakit milik
> almarhum. (2) Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Sutrisno Bachir,
> menemui mantan Presiden Indonesia BJ Habibie di kediamannya.
>
> Dapatkah kata menemukan dalam kalimat (1) dan menemui dalam kalimat
> (2) saling dipertukarkan tanpa mengubah makna kalimat masing-masing?
> Jelas tidak. Seperti dikatakan oleh JS Badudu dalam Inilah Bahasa
> Indonesia yang Benar (1995, hlm 120), bentuk menemui diikuti oleh
> orang (dengan siapa kita bertemu), sedangkan bentuk menemukan diikuti
> oleh benda, bukan orang.
>
> Bagaimana dengan kalimat yang saya petik dari sebuah koran juga?
> "Polisi Filipina akhirnya menemukan dan menahan mantan senator
> Gregorio 'Gringo' Honasan." Honasan itu orang. Mengapa menemukan,
> bukan menemui Honasan? Merujuk kepada Badudu, kita menjawab bahwa
> meski penjahat itu orang, ia hanya dianggap benda.
>
> Saya melihat masih ada kemungkinan bahwa penjahat pun bisa menjadi
> obyek kata menemui. "Rohaniman A menemui perampok B di Lembaga
> Pemasyarakatan C." Maknanya: rohaniman A sudah tahu akan ke mana untuk
> bertemu dengan perampok B, dan ia ke sana bukan untuk menangkapnya.
>
> Saya juga terpikir bahwa bentuk menemukan masih juga bisa diikuti oleh
> orang, meski bukan penjahat. "Akhirnya mereka menemukan Sipin, yang
> hilang kemarin, sedang nangkring di cabang kamboja di Pemakaman
> Sepruk." Alasan penggunaan bentuk menemukan: ia menunjukkan hasil
> pencarian yang makan waktu dan tak mudah. Di situ menemukan tak dapat
> digantikan dengan menemui sebab orang-orang yang mencari Sipin tak
> tahu sebelumnya bahwa ia ada di Pemakaman Sepruk. Kata menemui
> mengindikasikan bahwa orang yang ditemui sudah diketahui berada di
> mana, seperti misalnya seorang gadis yang minta sang pacar menemuinya
> di Kafe O.
>
> Seperti halnya orang yang hilang, orang mati juga termasuk harus
> dikecualikan dari pedoman bahwa bentuk menemui diikuti oleh orang,
> bukan benda.
>
> Setelah pembahasan sejauh ini, tentunya kita akan terkejut bahwa Kamus
> Besar Bahasa Indonesia Edisi III halaman 1170 menyodori kita contoh
> kalimat berbunyi: polisi menemui mayat itu di semak dekat kebun.
>
> Kita tunggu saja apakah contoh itu masih akan muncul dalam KBBI Edisi IV.
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke