Wah untung  cuma mimpi mas, tapi omong-omong mimpi itu
adalah salah satu keinginan duniawi yang belum
terlaksana hingga terbawa ke dunia imaginasi
seseorang.
Coba kalau hal itu beneran, wah wah wah....bisa-bisa
tambah runyam ini negara he he he.
Makanya diakhir essay disuruh istigfar.


--- Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Saya Ditawari Bergabung ke Kabinet Baru SBY
> 
> Oleh Satrio Arismunandar
> 
> Dering handphone itu menyentakkan saya, persis
> ketika saya berbenah mau pulang dari kantor saya di
> Trans TV, Jl. Tendean, Jakarta Selatan. Waktu itu
> hari Selasa, 24 April 2007, sekitar pukul 20.00 WIB.
> Suara laki-laki di ujung sana terdengar tenang,
> mantap, dan berwibawa: “Selamat malam! Bisa bicara
> dengan Pak Satrio Arismunandar?”
> 
> “Ya. Ini saya sendiri. Maaf, dari siapa ya?”
> “Saya Sudi. Sudi Silalahi….”
> 
> “Hah? Pak Sudi Silalahi? Maksudnya, bapak ini
> Sekretaris Kabinet Indonesia Bersatu dan orang
> kepercayaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?” Saya
> agak kaget. Masa sih, seorang jenderal setingkat
> Sudi Silalahi mau repot menelepon saya, yang cuma
> producer di Trans TV. Jangan-jangan cuma orang
> iseng. Tetapi, nada suara dan cara bicaranya
> terdengar sangat serius. Saya memutuskan untuk
> mendengarkan terus.
> 
> “Saya tidak pernah menyebut diri orang kepercayaan
> Presiden. Tetapi, kalau Anda menganggap begitu, ya
> boleh-boleh saja…” jawab orang itu.
> “Baiklah. Apa yang bisa saya bantu, Pak? Pasti ada
> hal yang serius, sampai Bapak menelepon saya.”
> 
> “Begini. Saya mau tanya, apakah Anda bersedia
> mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara?”
> “Wah, kalau untuk kepentingan bangsa dan negara,
> saya sih selalu bersedia, Pak. Tetapi, mengabdi
> dalam bentuk bagaimana?”
> 
> “Pak Satrio, karena kita sedang bicara lewat
> telepon, jadi saya akan to the point saja. Begini,
> seperti tentunya sudah Anda dengar, Presiden SBY
> akan merombak kabinetnya dalam waktu seminggu ke
> depan ini. Saya diminta membantu Presiden, dengan
> menyerahkan nama-nama, yang sekiranya layak untuk
> mengisi sejumlah pos di komposisi kabinet baru
> mendatang. Atau, kalau pun bukan untuk pos menteri,
> ada sejumlah pos lain di level bawah menteri, yang
> perlu mendapat penyegaran, demi perbaikan kinerja
> pemerintahan. Setelah mendengar masukan dari
> sejumlah sumber, dan rekomendasi dari sejumlah
> kalangan yang cukup kompeten, nama Anda masuk dalam
> daftar saya…” 
> 
> “Boleh tahu, Pak, siapa yang merekomendasikan saya?
> Dan apa pertimbangannya? Rasanya kok kapasitas saya
> masih jauh dari memadai…” 
> 
> Ego saya sempat tersanjung, tetapi saya segera
> bersikap hati-hati. Sebagai wartawan, saya sudah
> mendengar sejumlah kasus penipuan macam ini, di mana
> ada orang yang mengaku disuruh Presiden untuk
> memanggil sejumlah “calon menteri” ke kediaman resmi
> Presiden. Tahu-tahunya, sesudah si calon dengan hati
> berbunga-bunga datang, Presiden mengatakan, ia tidak
> pernah merasa memanggil orang tersebut. Saya tidak
> mau bernasib konyol seperti itu!
> 
> “Soal siapa yang merekomendasikan Anda, saya pikir
> tak perlu disebut. Tetapi umumnya dari kalangan
> media dan public relations. Mereka beranggapan,
> salah satu kegagalan pemerintah sekarang adalah
> dalam mengkomunikasikan dirinya kepada rakyat. Ada
> jurang yang lebar, antara persepsi yang diyakini
> oleh kami di kalangan pemerintah, dengan persepsi
> rakyat, yang terlihat jelas dalam sejumlah jajak
> pendapat di media massa . Rakyat memandang
> pemerintah tidak tegas, tidak tanggap, tidak serius
> memberantas korupsi, tidak perduli pada nasib rakyat
> kecil, dan sebagainya. Padahal pemerintah SBY telah
> berjuang keras, untuk mewujudkan semua janji yang
> telah diucapkan sejak masa kampanye pemilihan
> presiden 2004 lalu…” ujarnya. 
> 
> Ia melanjutkan, “Kalau kita mau jujur dan obyektif,
> bukankah langkah pemberantasan korupsi di bawah
> pemerintahan SBY masih jauh lebih baik dibandingkan
> –maaf-- zaman Ibu Megawati? Kemudian., bukankah
> kondisi keamanan dalam negeri kita jauh lebih baik
> di bawah Presiden SBY? Gembong-gembong teroris
> beserta jaringannya telah ditangkap dan dihukum.
> Belum lagi menyebut prestasi luar biasa, dengan
> terwujudnya perdamaian di Aceh. Padahal selama
> bertahun-tahun, di bawah pemerintahan Pak Harto, Pak
> Habibie, Gus Dur, dan Ibu Mega, masalah Aceh tak
> pernah selesai...”
> 
> “Nah, semua prestasi pemerintah itu mendapat
> sambutan baik dari kalangan di luar negeri, karena
> mereka memahami, betapa sulitnya mencapai prestasi
> itu di tengah keterpurukan ekonomi dan apatisme yang
> menghinggapi banyak kalangan. Terutama, sejak
> terjadinya krisis multidimensi di negeri ini. 
> Ironisnya, semua prestasi pemerintah itu justru
> tidak diapresiasi oleh rakyatnya sendiri…”
> 
> “Pemerintah menjadi bulan-bulanan dan sasaran kritik
> bertubi-tubi di media. Saya merasa ini kurang fair.
> Tapi itulah kenyataannya. Presiden memang punya dua
> juru bicara resmi. Untuk urusan dalam negeri,
> dipegang oleh Pak Andi Mallarangeng. Sedangkan untuk
> isu-isu luar negeri, ditangani Pak Dino Patti
> Djalal. Namun, mereka 100 persen betul-betul hanya
> berperan sebagai juru bicara. Padahal, yang
> dibutuhkan bukanlah sekadar mengulang apa kata
> Presiden. Kalau cuma begitu, perannya sangat
> terbatas...”
> 
> “Yang mendesak dan amat dibutuhkan adalah bagaimana
> mengkomunikasikan keseluruhan visi, misi, dan
> kebijakan pemerintah, agar posisi pemerintah
> dipahami, dan pada akhirnya didukung oleh rakyat.
> Adanya dukungan yang meluas dari rakyat ini sangat
> krusial, untuk melaksanakan berbagai kebijakan dan
> program pemerintah, serta mencapai target-target
> yang telah ditetapkan. Dalam kapasitas semacam
> inilah, baru kita bisa bicara tentang pencapaian
> Visi Indonesia 2030, di mana Indonesia bangkit
> menjadi negara dan bangsa yang dihormati dalam
> pergaulan dunia abad ke-21...” 
> 
> “Masalahnya, para juru bicara tidak mampu
> mengkomunikasikan seluruh posisi pemerintah, agar
> diapresiasi rakyatnya. Mungkin, mereka memang tidak
> diberi porsi untuk melakukan itu. Namun, keberadaan
> Menteri Komunikasi dan Informasi juga tidak banyak
> membantu. Menkominfo lebih sibuk mengurusi Komisi
> Penyiaran Indonesia dan program ‘Republik BBM’ di
> televisi, yang sebetulnya bukan menjadi inti
> permasalahan komunikasi mendasar yang kini dihadapi
> pemerintah…”
> 
> “Dalam kaitan itulah, saya melihat posisi Pak Satrio
> amat berarti. Anda memiliki jam terbang yang lama di
> bidang pers dan media massa , serta memiliki
> hubungan yang baik dengan organisasi jurnalis,
> kalangan LSM, dan akademisi. Kalau Anda tidak
> keberatan, saya berharap, Anda dapat berperan dalam
> kabinet baru hasil reshuffle mendatang. Kalau toh
> bukan sebagai Menkominfo, paling tidak Anda saya
> harapkan bisa memimpin suatu lembaga baru, yang
> tugas dan peran utamanya adalah mengkomunikasikan
> seluruh visi, misi, kebijakan dan posisi pemerintah
> ini, agar dipahami dan didukung rakyat…”
> 
> “Maksudnya, Pak?” tanya saya.
> “Yah, terus terang saja, Presiden SBY sudah
> merencanakan untuk menghapus posisi juru bicara,
> yang kini dijabat Pak Andi dan Pak Dino, karena
> dianggap tidak efektif. Kalau toh masih ada
> kebutuhan, posisi itu akan dilebur dan digabungkan
> di bawah lembaga baru, dengan peran yang sudah saya
> uraikan tadi. Saya berharap, Pak Satrio tidak
> keberatan untuk memimpin lembaga itu. Namun, tentu
> saja kata akhir bukan di tangan saya, tetapi di
> tangan Presiden. Saya hanya akan merekomendasikan
> kepada beliau, bahwa Pak Satrio layak memimpin
> lembaga tersebut. Bagaimana tanggapan, Pak Satrio?”
> 
> Saya merasa tergugah. “Untuk kepentingan bangsa dan
> negara, saya siap, Pak!”
> “Nah, kalau begitu, saya akan masukkan nama Anda
> dalam daftar yang akan saya serahkan ke Presiden.
> Saya tentu tak bisa memaksa Presiden untuk menerima
> Anda. Itu di luar kapasitas saya. Jadi, tunggu saja.
> Tentang bagaimana keputusan Presiden nanti, akan
> saya sampaikan ke Anda. Oke?”
> 
> “Baik, Pak. Saya tunggu perkembangannya.”
> Tak sengaja, karena terlalu bersemangat, saya
> terpeleset. Gedubrak! Saya jatuh ke lantai. Dengan
> tergagap-gagap, saya mencoba bangun. Kepala rasanya
> pusing. Ternyata, saya tadi jatuh dari tempat tidur,
> dan semua percakapan dengan “Pak Sudi Silalahi”
> hanyalah mimpi belaka. Istri saya menghampiri dan
> bertanya, cemas: “ Ada apa, Mas?”
> 
> “Tidak apa-apa kok. Aku tadi cuma mimpi, ditawari
> untuk bergabung dengan kabinet baru SBY hasil
> reshuffle…”
> 
> “Oalahhh, Massss! Setiap hari, kamu itu kerjanya ‘
> kan cuma mengritik pemerintah. Yang tidak tegaslah,
> yang tidak tanggaplah, yang tidak peka mendengarkan
> suara rakyatlah… Kok sekarang Mas malah bermimpi
> diajak bergabung ke kabinet SBY…. Istighfar, Masss!
> Istighfar!” ***
>  
> 
> 
> Depok, 25 April 2007
>  
> *Satrio Arismunandar, news producer di Trans TV dan
> Pengurus 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke