Ingat waktu saya masih di SR , di tahun 60 an , dekat rumah saya di Jl. 
Slamet Riadi , Jakarta , ada perpustakaan rakyat, tepatnya di Matraman Raya 
dekat viaduct Jatinegara

Pulang sekolah.. ya aku kesitu.. ada buku yg cerita ttg Old Shaterhand, 
ataupun Baron von Munchauusen ( eh nulisnya bener nggak), Don Quichore de 
la Mancha., aada juga Buku Bintang Pari.., Siti Nurbaya, Doel anak Betawi 
dsb nya..

Teman saya smapai sekarang menutup emailnya dgn gay Winetou... Howgh !!!

Kalau yang swastaan ya .. peminjaman buku silat dan komik.. yang juga saya 
lahap dengan senangnya.,mau Bharata Yudha, atau Maha Bharata atau panji 
tengkorang, atau sintiauw Hiap lu ya O K juga...

Saya bayangkan andai tipa kecamatan punya 1 perpustakaan bonafid.

Saya lihat niat ada.. tapi kesungguhan dan pengertian kurang untuyk 
mewujudkannya...

Kenapa dulu lebih baik  ?? pemimpin kita yang dulu, spt Bung Karno, Bung 
Hatta, Adam Malik.., banyak menghabiskan  eh salah memanfaatkan waktunya 
dnegan membaca,,,

Anak saya jelas tidak menikmati hal itu spt yg dialami 
bapaknya...,  didekat rumah kami sekarang... nggak ada tuh perpustakaan

Salam

Haniwar



At 07:24 PM 5/5/2007, you wrote:

>masalah buku tidak bisa hanya dipecahkan oleh
>kapasitas individual. yang perlu kita pertanyakan,
>kita gugat adalah posisi dan fungsi negara,
>tanggungjawab pengelola negara: bagaimana dengan
>perluasan dan pembangunan perpustakaan umum diberbagai
>daerah.
>slogan pengembangan minat baca adalah sejenis omong
>kosong jika tidak ada fasilitas yang memadai.
>seperti yang saya tulis pada forum ini juga, bahwa
>banyak pemda/pemkot yang biaya rumah tangga dinasnya
>melebihi biaya pengembangan dan pengadaan buku di
>daerah masing-masing. misalnya kasus di sulsel,
>sulteng, sultra, makassar, palu, kendari, bahkan juag
>di solol, tegal, pekalongan, dan masih banyak kota dan
>daerah lainnya.
>halim hd.

Kirim email ke