Kalau daku secara berpikir mudah...kok ada si anak SD pada demo tentang acara 4
Mata ini....kalo ini bukan dari fasilitas sang sekolah....masa anak SD ampe
nulis sebegitunya...trus pake bentang2in tulisan tentang hal-hal yang daku
pikir ini masih belum bisa dilakukan sama anak SD...
Kalau tidak setuju dengan acara seperti ini, khususny dari pihak2 tertentu,
entah sekolah, entah ortu, dll....mbok ya anak2 kecil jangan dikorbanin untuk
demo yang enggak jelas gitu...coba gugat aja secara class action...jangan si
anak2 suruh bikin pengadilan semu gitu....yang ada malah intepretasi mereka
terhadap pasal hukum berbeda dengan apa yang ada pada intepretasi pasal hukum
yang sebenernya loh...
Saya pribadi enggak setuju dengan penayangan acara 4Mata yang terkadang bermain
kasar dalam kata2....yang paling kasar adalah ketika sang bapak dari Tukul
datang ke acara ini dan terkesan banget bahwa sang bapak adalah
pesakitan...belum lagi mpok Nori yang diperlakukan sama....
Tolong dari pihak Trans7 bikin acara 4Mata yang lebih bagus dunk....terlebih
dengan maslah yang sudah ada saat ini, tolong diperbaiki.. :)
Salam,
Thomas
----- Original Message -----
From: "Tiara, Sandy" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, May 03, 2007 11:54 AM
Subject: Fw: Tukul Tak Bermoral (Acara Tak Mendidik)
-----Original Message-----
Pelajar SD Tuding Tukul Tak Bermoral
SURABAYA, RABU - Polah Tukul, pelawak yang menjadi pemandu program Empat
Mata di Trans 7 itu, boleh saja digemari banyak orang, tapi tidak
rupanya bagi puluhan pelajar SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya.
Saat merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di sekolahnya, Rabu
(2/9), puluhan pelajar tersebut melayangkan protes terhadap aksi tukul
yang dinilai tidak bermutu.
"Cipika-cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri-red) yang dilakukan Tukul
itu tidak bermutu, tidak bermoral, karena bukan muhrim," ujar Fahrizal,
pelajar kelas 5 SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya dalam orasinya
lantang.
Adegan itu, katanya, disengaja untuk menciptakan "virus" baru untuk
ditanamkan kepada masyarakat. Bahkan bintang tamunya mengenakan pakaian
yang tak layak dipertontonkan. "Kalau seperti itu, nanti kita akan
matikan televisinya. Setuju....," ucapnya, bersemangat, yang dijawab
puluhan kawannya dengan teriakan, "Setuju...."
Dalam aksi tersebut, puluhan pelajar itu membentangkan poster yang
antara lain bertuliskan "Cipika-Cipiki Yang Bukan Muhrim... Nggak-lah",
"4 Mata atau 1000 Mata Boleh Asal Jaga Akhlak", "Sensor Adegan Perusak
Moral" serta "Media-ku Kami Butuh Acara Mendidik," dan sebagainya.
Selain itu, para pelajar juga melakukan gerakan teatrikal berupa adegan
peradilan class action dengan majelis hakim "hati nurani" dan masyarakat
yang menggugat tayangan "Banyak Mata" secara class action.
Secara terpisah, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya, M
Sholihin SAg, menuturkan, Tukul Arwana memang telah menjadi ikon, sampai
akhirnya jam tayang yang semula akhir pekan menjadi setiap hari Senin
hingga Jumat.
"Alasannya, rating tayangan itu tinggi. Bahkan jam tayang yang semula
pukul 22.30 WIB diajukan menjadi 21.30 WIB, tapi mereka tak
memperhitungkan bila anak-anak dan remaja pun menonton," tegasnya.
Ia menambahkan, anak didiknya tidak menolak acara Empat Mata, asalkan
Tukul sebagai "wong ndeso" sebaiknya tidak merusak acaranya dengan
cipika-cipiki, busana bintang tamu yang "mengumbar" aurat, dan bahasa
yang tak senonoh.
Dalam peringatan Hardiknas, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa
Timur menggelar seminar yang memprotes sinetron remaja di seluruh
stasiun televisi yang dinilai merusak moral remaja.
"Banyak sinetron yang berlatarbelakang sekolah dan remaja, tapi mata
acaranya justru mengajarkan percintaan, perkelahian, dan gaya hidup
hura-hura. Karena itu, kami minta pengelola media bersikap bijak," ucap
Ketua IMM Jatim, Sholikul Huda.
Sumber: Antara
Penulis: eh