Iya laaah .. siapa yang ngga setuju bahwa semua orang hidup itu
pasti banyak kerja .. jangan tanya APA yang dikerjain. Ngurusin
harta yang seabreg-abreg kan bukan kerjaan gampang .. apalagi
abregan nya kian hari makin belarakan .. ini misalnya lhoo!! Tapi
mumpung ada yang ngomongin Lumpur Sidoarjo, itu pihak yang bukan
korban (ngga tau, apakah pemerintah, Lapindo atau pemiliknya) dapat
hak darimana untuk boleh berpegang teguh pada "prinsip jual-beli"
dalam pembayaran kompensasi area warga yang "kelelep"? Emang saat
awal proses meluapnya Lumpur si calon "penjual" pernah diajak nego?
Setahu saya, jual-beli itu kan dapat dilaksanakan bila tercapai
kondisi "sepakat" dari kedua belah pihak, dan sebelum kondisi
tersebut, harusnya semua pihak tidak boleh mendapat tekanan dan
tetap mempunyai hak untuk tidak sepakat, dengan kata lain masing-
masing mempunyai alternative. Lha ini, alternative nya si "korban-
kelelep" itu apa?? Jadi kesimpulan "jelek" saya, bila mengamati
kondisi yang secara "MANTAP" diperbolehkan berlarut-larut seperti
ini dalam suatu "negara-hukum" .. berarti "aktor" nya
memang "PEKERJA KERAS" ??!!
Salam,
Bodo


--- In [email protected], manneke budiman
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya setuju Aburizal Bakri sudah banyak kerja, seperti kata Mbak
ini, dan sampai kini pun kerjanya masih belum selesai-selesai:
urusan lumpur di Sidoarjo itu lho, kapan tuntasnya, Mbak? Mbok
tolong ditanyaken ke Bapak.
>
>   Kalo nggak beres-beres, nanti kerjanya cuma sibuk ngurusin
lumpur doang lho, dengan catatan: itupun kalo diurusin. Jangan-
jangan, cuek bebek aja.
>
>   Seneng ya pasti menteri pujaannya nggak kena reshuffle?
>
>   manneke

Kirim email ke